
...E****khem-ekhem siap-siap baper-baperan di part ini. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
*****
Malam hari dengan suasana bintang yang bersinar dengan terang, Arieska menghirup udara segar di kota kelahirannya kembali setelah tiga tahun lamanya hidup di negeri orang. Gadis itu sudah sejak semalam berada di Jakarta dan pagi harinya Arieska sudah disibukkan dengan mengecek pembangunan pabrik kosmetik miliknya yang sedikit ada masalah dan setelah selesai Arieska langsung pulang ke rumah lamanya.
Rumah yang sangat banyak menyimpan kenangan dari suka maupun duka yang Arieska rasakan saat dulu sejak kehilangan kembarannya, calon adik-adiknya hingga kehilangan kehangatan Dimas.
Arieska membuka pintu kaca balkonnya dengan perlahan, ia berjalan ke arah balkon dan duduk di kursi yang memang ada di balkon kamarnya. Rumahnya masih sangat terawat karena setiap harinya asisten rumah tangganya selalu membersihkan rumahnya.
Gadis itu menghirup udara sebanyak-banyaknya, setelah itu ia menatap kamar Dimas yang terlihat gelap. Kemana Dimas? Apa pria itu tidak tinggal di rumah itu lagi? Entahlah Arieska tidak tahu dan tidak mau tahu untuk sekarang karena masih banyak pekerjaan yang harus Arieska lakukan. Ia tidak ingin galau karena Dimas untuk saat ini, Arieska bukan lagi gadis yang seperti dulu walau ia akui rasa cintanya tidak pernah hilang untuk Dimas, ia ingin Dimas lah yang berjuang untuknya.
Arieska menghidupkan laptopnya, ia mulai hanyut dalam pekerjaannya.
"Sejak dulu aku lebih nyaman berada di sini, tempat ini tidak pernah berubah," gumam Arieska dengan tersenyum tipis.
***
Sedangkan Dimas baru saja pulang dari kantornya langsung memasuki kamarnya karena hari ini Dimas sangat merasa lelah, ia ingin segera mandi dan beristirahat dengan nyaman di kasurnya tetapi di saat Dimas ingin masuk ke kamar mandi matanya tak sengaja melihat balkon kamar Arieska terlihat terang.
Deg...
Kenapa jantungnya bekerja dengan menggila sekarang? Dimas menelan ludahnya dengan kasar saat kakinya terus melangkah ke arah balkon. Sudah tiga tahun lamanya kamar Arieska tidak pernah terang karena lampu di kamar Arieska tidak pernah dihidupkan kini terlihat terang.
Dimas mengeryit alisnya dengan bingung saat melihat seorang gadis yang duduk seorang diri dan terlihat fokus dengan laptopnya. Siapa dia? Apa gadis itu yang menempati kamar Arieska sekarang? Apa rumah Arieska dijual?
Tidak! Dimas tidak membiarkan itu terjadi, orang tua Arieska tidak boleh menjual rumah itu!
Arieska yang merasa diperhatikan langsung beralih dari laptopnya ke arah balkon kamarnya. Napasnya seakan berhenti saat melihat seseorang yang ia rindukan berada di hadapannya hanya terhalang jarak antara balkon kamarnya dan kamar Dimas.
"Siapa kamu?" tanya Dimas dengan dingin dan tanpa basa-basi langsung mendekat untuk melihat wajah gadis yang duduk di kursi dengan jelas.
__ADS_1
Arieska tak menjawab, ia terlalu malas untuk memperkenalkan diri lagi, ia juga merasa kecewa dengan Dimas yang tak mengenali dirinya. Apa sebegitu berubah wajahnya?
Sebenarnya Dimas terpanah dengan kecantikan gadis yang berada di depannya tetapi hatinya selalu mengingat Arieska, ia tidak ingin mengecewakan Arieska lagi.
"Lo tuli ya?" sentak Dimas dengan tajam.
Arieska hanya menaikan kedua bahunya ke atas tanda tidak peduli dengan pertanyaam Dimas yang membuat lelaki itu geram.
"Lo...."
"Non Arieska ini salad buahnya dan jus jeruknya sesuai dengan pesanan," ucap pembantu Arieska dengan tersenyum. Ia masih tidak menyangka jika anak majikannya terlihat sangat cantik sekali berbeda dengan dulu yang culun dan gendut.
Dimas mematung saat pembantu yang biasa membersihkan rumah Arieska menyebut gadis yang berada di depannya ini sebagai Arieska. Dimas masih tidak percaya jika yang berada di hadapannya sekarang adalah Arieska. Ada perasaan senang sekaligus aneh di hatinya.
"Makasih, Bi," ucap Arieska dengan tersenyum tipis.
"Sama-sama, Non. Bibi permisi ya sepertinya ada yang temu kangen malam ini," ucap Bi Minah dengan terkekeh.
"Masih diam di situ?" tanya Arieska dengan datar.
Dimas tergagap ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang dan dengan cepat Dimas meloncat ke balkon kamar Arieska yang membuat Arieska sedikit terkejut tetapi sama sekali tidak protes.
"A-arieska," panggil Dimas dengan tercekat.
"Hmmm."
"A-aku..." Ucapan Dimas terhenti di saat bunyi ponsel Arieska terdengar.
"Lintang!" gumam Dimas tetapi setelahnya Dimas menatap tajam ke arah Arieska yang terlihat santai.
"Halo!" Arieska menerima panggilan Lintang tanpa mempedulikan Dimas yang menatap tajam ke arahnya.
"Gimana pabrik kosmetiknya. Apa masalahnya bisa di atasi?' tanya Lintang di seberang telepon.
__ADS_1
"Alhamdulillah bisa aku atasi walau tadi sedikit kesulitan," jawab Arieska dengan santai.
"Arieska!" panggil Lintang dengan lirih.
"Iya Lintang," jawab Arieska dengan lembut dan ia melirik ke arah Dimas yang masih setia menatapnya dengan tajam dengan tangan terkepal. Arieska tidak tahu jika Dimas sedang menahan rasa cemburunya karena mendengar suara lelaki yang menelepon Arieska.
"I miss you!"
Deg...
Dimas langsung merebut ponsel Arieska dan langsung mematikan sambungan telepon Arieska dengan cepat, hatinya sudah sangat panas mendengar ucapan rindu dari lelaki bernama Lintang tersebut.
"Lo apa-apaan sih!" protes Arieska dengan kesal.
"Kamu yang apa-apaan!" ucap Dimas dengan dingin.
Arieska mendengkus kesal. Sejak kapan panggilan Dimas untuknya menjadi 'kamu'? Benar-benar aneh lelaki di hadapannya sekarang.
"Kembalikan ponsel gue!" ucap Arieska dengan dingin.
"Gak!"
"Kembalikan!"
"Siapa Lintang?" tanya Dimas dengan napas yang memberat karena cemburu.
"Siapa Lintang?" ulang Dimas dengan keras.
"Jawab aku Arieska!" desak Dimas tak sabaran.
"Calon suami gue!" tantang Arieska.
"KAMU PUNYA AKU! TIDAK ADA LELAKI YANG BISA MEMILIKIMU SELAIN AKU! KAMU TAHU SETIAP HARINYA AKU MERINDUKANMU SAMPAI DADA INI BEGITU SESAK, BERHARAP KAMU KEMBALI KE RUMAH INI!"
__ADS_1