Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 77~ (Bukan Wanita Murahan)


__ADS_3

...Happy reading...


*****


Raka menatap dingin ke arah Erina yang masih bersujud di bawah kakinya. "Apapun?" tanya Raka dengan tajam. "Apa jaminannya jika saya menyetujui pernikahan itu? Apa jaminannya yang kamu berikan untuk kebahagiaan adik saya jika menikah dengan kakakmu?" cerca Raka kepada Erina dengan banyak pertanyaan.


"A-aku jaminannya Kak! A-aku rela menjadi wanita simpanan Kak Raka yang akan memuaskan ranjang Kak Raka! A-aku dan tubuhku jaminan kebahagiaan Jelita!" ujar Erina dengan lirih.


Jika menurut kalian Erina adalah gadis yang sangat gampangan, kalian salah besar. Tak sedikit pun ia pernah berpikir untuk menjadi wanita simpanan tetapi saat ini ia sudah sangat berputus asa. Pikirannya sudah kalut karena dirinya tak ingin kehilangan sang bunda. Mungkin jika kalian menjadi Erina saat ini, kalian juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti Erina. Ia tidak ingin mengorbankan kebahagiaan dan ketenangan Jelita tetapi kondisi yang membuatnya seperti ini.


Raka berjongkok di hadapan Erina, ia menarik dagu Erina dengan perlahan hingga kedua mata mereka saling bertemu. "Saya tahu kamu bukan perempuan yang seperti itu. Dan saya juga bukan lelaki yang memainkan banyak perempuan di luar sana. Kamu tahu kenapa? Karena saya tahu bagaimana rasanya melihat perempuan dilecehkan di depan mata saya sendiri dan perempuan itu adalah adik saya, Jelita. Saya menolak mentah-mentah permintaan kamu!" ujar Raka dengan dingin.


"A-apa maksud Kak Raka? J-jelita dilecehkan?" tanya Erina dengan syok.


Raka tersenyum miring, dari matanya Erina tahu jika Raka sedang bersedih saat ini. Lelaki itu mengingat bagaimana Dave dengan tak berperasaannya hampir memperkosa Jelita. "Ya. Dan jika saya terlambat saja mungkin saya sudah kehilangan Jelita," jawab Raka dengan parau.


"Dan itu semua juga karena kakak kamu itu. Andai saja kakak kamu itu tidak menikah dengan wanita murahan itu mungkin adik saya tidak akan pergi dari rumah kalian. Hatinya sudah banyak terluka dan Rasyad menambah luka adik saya dengan cuka! Kamu tahu rasanya? PERIH!" teriak Raka di depan muka Erina dan mencekeram dagu gadis itu dengan kuat hingga Erina meringis.


"K-kak, maafkan keluargaku. K-kami tidak mau Jelita terluka tapi tanpa sadar kami juga menciptakan luka baru untuknya. Hiks...hikss....seharusnya aku lebih peka dengan perasaan adik angkatku sendiri. Aku bodoh!" ucap Erina dengan terisak bahkan ia menepuk dada kirinya dengan kuat untuk menghilangkan sesak yang tiba-tiba saja menghimpit dadanya. Jika dirinya menjadi Jelita mungkin ia sudah bunuh diri saat itu juga.


Raka membuang mukanya ke arah samping, ia tidak ingin ketahuan menangis di depan Erina saat ini. "Sebaiknya kamu pulang!" ucap Raka dengan datar.


Erina menggelengkan kepalanya. Ia memeluk kaki Raka dengan kuat. "Aku mohon Kak! A-aku tidak ingin kehilangan bunda!" ucap Erina dengan berlinang air mata.


"Lepas Erina!" ucap Raka dengan dingin dan mencoba melepaskan pelukan Erina pada kakinya.


Sebenarnya Raka merasa iba dengan Erina tetapi ia tidak ingin melepaskan adiknya kepada lelaki bodoh seperti Rasyad. Ia tidak ingin adiknya kembali terluka walau Raka tahu Jelita bukan lagi gadis yang lemah.


"Kak..."

__ADS_1


"Sudah berapa kali saya bilang jika saya tidak mengizinkan Jelita menikah dengan Rasyad sampai kapan pun!" teriak Raka dengan marah.


Brakk...


Raka melempar berkas yang ada di mejanya hingga berserakan, ia menatap Erina dengan nyalang tetapi Erina tetap pada pendiriannya saat ini.


Tok...tokk...


"Kak ini aku Jelita!" teriak Jelita dengan kuat.


Raka memejamkan matanya untuk menormalkan kembali emosinya. "Lepas!" gumam Raka dengan tajam, sekali sentakan yang keras pelukan Erina terlepas hingga gadis itu hampir tersungkur. Raka berjalan ke arah pintu dan membuka pintu ruang kerjanya dengan perlahan.


"Kak!" panggil Jelita dengan takut.


"Hmmm..." Raka hanya berdehem dan menatap adiknya dengan datar membuat Jelita gugup.


"Jelita!" ucap Erina dengan lirih.


Erina memeluk Jelita dengan erat. Ia menangis sesugukan di pelukan Jelita. "Kak Erina kenapa ada di sini?" tanya Jelita dengan iba melihat keadaan Erina yang sangat buruk. Mata bengkak karena terus menerus menangis.


"Kakak tidak mau kehilangan bunda. Kamu tahu sendiri kan bagaimana Kakak tanpa Bunda. Kakak mohon Dek bantu Kakak kali ini saja," ucap Erina dengan sesugukan.


Jelita ikut merasakan bagaimana perasaan Erina sekarang. Sebagai seorang anak yang sudah kehilangan kasih sayang sosok ibu sejak kecil Jelita sangat paham bagaimana hancurnya perasaan Erina saat ini. "Kakak tenang ya, pasti bunda akan baik-baik saja," ucap Jelita menenangkan Erina yang terus menangis di pelukannya.


Erina menggelengkan kepalanya, ia merasa pesimis dengan keadaan Gladis untuk saat ini "B-bunda kritis," ucap Erina dengan tatapan kosongnya. "Dokter mengatakan jika keadaan bunda semakin memburuk," ucap Erina dengan lirih.


Bruk....


Erina kembali bersujud di kaki Jelita. "Bantu Kakak, Jelita. Apapun akan Kakak lakukan agar kamu mau menerima permintaan bunda," ucap Erina dengan berputus asa.

__ADS_1


Raka menatap adiknya, ia menggelengkan kepalanya agar Jelita tidak menyetujui permintaan Erina walau sebenarnya Raka merasa sakit melihat Erina yang terus memohon kepada ia dan adiknya.


"Iya Kak aku akan menikah dengan kak Rasyad. Tapi aku menerima pernikahan ini bukan karena aku masih mencintai kak Rasyad tetapi aku melakukan ini hanya karena bunda," ucap Jelita dengan tegas.


"Jelita!"


"Sudah Kak. Aku yakin ini pilihan yang benar, Kakak tenang saja kak Rasyad tidak akan bisa melukaiku lagi!" ucap Jelita dengan sorot mata yang penuh keyakinan.


Raka menghembuskan napasnya dengan kasar. "Kakak mau bicara dengan Erina. Kamu keluar sebentar!" ucap Raka dengan dingin, masih tak percaya jika Jelita menerima pernikahannya dengan Rasyad.


"Terima kasih, Dek. Kakak akan melakukan apapun untuk menukar kesakitan kamu dengan kebahagiaan," ucap Erina dengan tersenyum.


"Iya Kak sama-sama," jawab Jelita dengan menghapus air mata Erina. Walaupun Erina lebih tua darinya tetapi sikapnya amat teramat manja.


"Keluar Jelita. Kakak mau bicara empat mata dengan Erina!" ucap Raka dengan tegas.


"Iya Kak. Jangan sakiti Kak Erina, dia tidak bersalah," pinta Jelita dan Raka hanya mengangguk saja.


Raka menutup pintu ruang kerjanya, ia kembali menatap Erina dengan nyalang. Perlahan ia mendekati Erina dengan menghimpit gadis itu ke dinding hingga membuat gadis itu gugup bagaimanapun Raka adalah cinta pertamanya. Pertemuan mereka untuk pertama kalinya membuat Erina langsung jatuh cinta kepada Raka.


"Ini yang kamu mau hmm? Kamu membangunkan singa yang sedang tertidur, Erina. Sebenarnya saya tidak mau melakukan ini padamu karena kamu gadis baik-baik tetapi kamu yang terus menerus memintanya. Persiapkan semuanya termasuk tubuh kamu, kamu harus melayani saya ketika saya minta dan kamu tidak boleh menolaknya. Kita akan menikah setelah Jelita menikah dengan Rasyad. Ingat saya akan menikahimu secara sirih dan saya tidak mau semua keluarga tahu jika kita sudah menikah termasuk kedua orang tuamu, jika Rasyad menyakiti adik saya maka saya juga akan menyakitimu baik fisik maupun mentalmu agar Rasyad tahu bagaimana sakitnya melihat adik yang kita sayangi terluka dengan sangat dalam!"


****


Hei-hei aku kembali.


Aku mau tanya dong.


Seberapa greget kalian baca cerita ini? Dari 10-100 persen?

__ADS_1


Mental masih aman?


__ADS_2