Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 72~ (Damian Erlangga)


__ADS_3

...Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya. Biar aku semangat untuk update setiap harinya walaupun sedang sibuk....


...Happy reading...


****


Lelaki tampan berperawakan tinggi dengan mata tajam seperti Elang itu sedang duduk di sofa bersama dengan orang kepercayaan kakaknya. Asap yang mengebul keluar dari dalam mulutnya, ia merasa bosan menunggu sang kakak pulang. Baru pertama kali datang ke Indonesia ia sudah dibuat menunggu dengan kakaknya sendiri, padahal dirinya adalah tamu yang sangat penting. Menyebalkan sekali.


"Berapa jam lagi Kakakku akan pulang? Seharusnya mereka yang menunggu kedatanganku bukan malah sebaliknya seperti ini!" ucap Damian berdecak kesal.


"Mungkin dua puluh menit lagi Tuan Muda," jawab Zack dengan tegas.


"Ck...apa mereka tidak merindukanku sama sekali? Sepertinya aku yang terlalu merasa tidak sabar bertemu dengan mereka. Aku merasa kakakku itu tidak senang dengan kedatanganku," gerutu Damian dan tetap menyesap rokoknya.


Damian Erlangga, lelaki tampan anak bungsu dari pasangan suami istri Frendy dan Amanda. Terlihat kesal menunggu kedatangan kedua kakaknya yang amat sangat ia rindukan itu.


"Berhentilah merokok Mian! Asap rokokmu menyebabkan polusi di rumah Kakak!" ucap Raka dengan tajam.


Damian langsung mematikan putung rokoknya yang tingal sedikit itu. "Maafkan aku Tuan rumah yang terhormat. Dimana kakakku yang cantik itu? Apa kau akan selalu menyembunyikannya dariku?" tanya Mian dengan bersidekap dada menatap kakak sulungnya dengan datar.


"Kakak di sini Mian," ucap Jelita dengan lembut yang baru datang dari belakang Raka karena Jelita menerima telepon terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumahnya.


Damian yang mendengar suara kakaknya langsung berdiri. Ia tidak lagi mempedulikan Zack yang pamit undur diri karena pekerjaannya telah selesai.

__ADS_1


"Minggir Tuan kutub! Aku ingin menatap wajah kakakku!" ucap Damian menggeser Raka agar ia leluasa menatap kakak perempuannya yang selama ini tidak pernah ia ketahui karena mama dan papanya tidak pernah menyinggung soal Jelita sama sekali. Mereka terkesan menutup-nutupi tentang Jelita di rumah megah yang seperti neraka bagi Damian karena kakek dan papanya sangat otoriter kepadanya.


"Cantik sekali!" gumam Damian dengan tersenyum.


Grep....


Damian memeluk Jelita dengan sangat erat. Jelita sepertinya lebih cocok menjadi adik Damian karena tubuhnya yang kecil dan tidak setinggi Damian.


"Mulutmu bau asap rokok, sebaiknya jangan peluk Jelita seperti itu. Asap rokok tidak baik untuk kesehatan Jelita," ucap Raka dengan dingin. Ia melangkah duduk di sofa melihat kedua adiknya yang sedang berpelukan dengan erat. Ada rasa haru yang menyusup ke hatinya saat Damian memeluk erat Jelita bahkan terlihat enggan melepaskan pelukan tersebut dan tinggal satu masalah lagi yang belum terselesaikan yaitu keluarga besarnya yang belum bisa menerima Jelita.


"Tinggal satu masalah lagi, Sayang. Kakak akan memaksimalkan kebahagiaan yang kamu inginkan sejak dulu. Kita terlahir sama-sama kekurangan kasih sayang orang tua dan Kakak tidak mau kamu terlalu lama terpuruk walau sekarang kamu sudah merasa bahagia," gumam Raka di dalam hati.


"Biarkan saja, Kak. Aku juga ingin merasakan pelukan pria kekar ini," ucap Jelita dengan tersenyum bahagia. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca karena akhirnya ia bisa memeluk adik bungsunya.


"Aku ini masih normal!" decak Raka dengan kesal.


"Normal? Kenapa masih melajang sampai sekarang?" tanya Damian skakmat yang membuat Raka terdiam.


"Perempuan akan datang kepadaku dan alu tidak perlu susah-susah mencarinya hanya saja belum ada yang cocok di hatiku," elak Raka tak sepenuhnya berbohong.


"Ya, ya.... Terus saja mengelak bujang lapuk," ejek Damian membuat Raka berdecak kesal yang justru membuat Jelita terkekeh. Pemandangan yang seperti ini yang membuat Jelita sangat bahagia.


"Kak, aku sangat mengantuk sekali. Temani aku tidur ya. Hitung-hitung untuk melepas rindu kita selama ini," rengek Damian dengan manja.

__ADS_1


"Yakkkk....kau bukan lagi bayi yang harus ditemani saat tidur!" teriak Raka dengan kesal.


"Iri bilang bos!" ejek Damian dengan sinis.


"Sayang, kau urus saja bayi besar satu ini kalau perlu beri dia dot bayi yang berisikan susu dan pakaikan popok padanya, bayi besar ini masih sering mengompol," ejek Raka dengan tersenyum menang.


"Yakkkk Kak Rakaaa... Jangan memfitnahku di depan kak Jelita dan juga pembaca, baru muncul pertama kali saja sudah dipermalukan! Menyebalkan sekali kau!" teriak Diamian dengan marah.


"Sudah-sudah! Apa selalu seperti ini jika kalian bersama?" tanya Jelita dengan pusing.


"Iya! Sampai Papa hampir mengusir kami dari rumah," ucap Damian mengaku dengan menyengir kuda di depan Jelita merasa tidak bersalah. Walaupun begitu Damian tetap menyayangi Raka.


Jelita hanya menggelengkan kepalanya ternyata di balik sikap dingin kakaknya terdapat sikap kekanakan juga. "Mian kalau kamu lelah langsung istirahat di kamarmu saja. Zack sudah memberitahu di mana kamarmu, kan?" ucap Jelita dengan lembut.


Damian mengangguk seperti terhipnotis dengan kelembutan Jelita. Mama Amanda dan Jelita seperti pinang dibelah dua tetapi sifat mereka jauh berbeda. "Tapi aku ingin ditemani Kakak!" ucap Damian dengan manja.


"Dasar manja!" ejek Raka dengan sinis.


Damian sama sekali tidak mempedulikan ucapan Raka ia terus merengek seperti anak kecil di depan jelita. Karena sejujurnya Damian ingin merasakan kehangatan sikap kakaknya, ia merasa cemburu dengan Raka yang sudah bersama dengan Jelita sejak lama dan Damian ingin menguasai Jelita seorang diri sekarang. Damian adik yang sangat manja bukan? Itulah sifatnya yang tidak bisa ia tunjukkan walau sedang bersama dengan Amanda sekalipun. Tetapi dengan Jelita, Damian mendapatkan kehangatan itu hingga ia tidak segan untuk bermanja dengan kakaknya.


"Kali ini Kak Jelita milikku! Awas saja kalau Kak Raka sampai mengganggu!"


"Ck....anak itu lebih terlihat seperti anak kecil dari pada pria dewasa," gumam Raka dengan datar menatap kepergiaan Damian yang langsung menarik Jelita begitu saja. Tetapi setelah itu Raka tersenyum menatap keduanya.

__ADS_1


"Berbahagialah kalian!"


__ADS_2