
episode 149
.
.
.
Celine mulai merakit beberapa bahan peledak untuk penyerangannya nanti malam, dengan dibantu beberapa anak buahnya yang baru tiba pagi itu.
Sedangkan davian tengah berada didalam kamar dengan kondisi yang lemah.
" uhukk.."
" uhukk"
Davian terbatuk dengan mengeluarkan darah, dadanya terasa terbakar, tubuhnya lemah bahkan tidak bisa berdiri dengan tegap.
ternyata benar adanya jika Celine telah memberinya racun, rumah davian kini telah diambil alih oleh Celine.
Senjata lengkap dengan berbagai model juga sudah tersusun rapi disebuah meja besar.
" Bos, pria itu sudah lemah. apa langsung kita bunuh sekarang ??" tanya Anak buahnya.
" jangan !! kita fokus pada penyerangan nanti malam. toh dia akan mati secara perlahan." jawab celine dengan senyum liciknya.
" baik bos." balas anak buah itu.
" kali ini kita tidak boleh gagal. Revandra sialan itu harus mati malam ini !!!" ucap Celine dengan mata yang berapi-api, kebencian karna dulu Revandra telah membuka identitasnya, hingga ia harus beberapa kali keluar masuk penjara.
.
.
.
Revandra ternyata tidak kekantornya, melainkan kemarkas miliknya. disana semua anggotanya juga mempersiapkan perlawanan untuk tamu mereka nanti malam.
__ADS_1
meski Revandra tau jika markasnya sudah dipasang bom peledak, namun ia tetap terlihat tenang. Beberapa anggotanya juga sudah mengeluarkan berbagai koleksi minuman dari bar mini miliknya.
" apa semua sudah selesai ??" tanya Revandra pada Yohan.
" sudah tuan. tinggal minuman ini saja." jawab Yohan singkat.
Revandra masuk keruangannya, ia juga mempersiapkan senjata miliknya yang akan ia pakai melawan pembunuh bayaran itu.
.
.
.
Atas persetujuan Dokter Alika sudah diperbolehkan pulang. bahkan Revandra baru saja memberi kabar jika Alika, Kennan dan Darren diperbolehkan tinggal dimansion miliknya, karna rumah Kennan masih dalam proses perbaikan.
Nada merasa bahagia kini ia bisa berkumpul dengan semua orang yang ia sayangi. didalam mobil Nada tidak melepaskan tangannya dengan Alika. sesekali ia tersenyum sambil menatap kakaknya.
setelah perjalanan yang cukup lama, mereka memasuki halaman luas milik Revandra.
" entahlah kak, q tidak pernah memikirkan itu malahan." balas Nada. mobil berhenti dengan segera para penjaga membukakan pintu masing-masing.
nampak dipintu Nurra berdiri bersama Zakia.
darren tersenyum manis kala mata mereka saling bertemu.
" selamat datang.. " sapa Nurra.
Alika menerbitkan senyum pucatnya, dengan dibantu Nada Alika memasuki rumah besar itu.
" Nurra, kau disini ?? terima kasih sudah menyambutku " balas Alika.
Nurra mengangguk pelan dengan senyumnya. Zakia berlari memeluk mama tercintanya.
" apa ini nona kecil disini ??" tanya Alika. Zakia.melepas pelukan dari Nada.
" iya bibi, namaku.Zakia." jawab Zakia denga polos.
__ADS_1
" apa bibi dan kedua paman itu boleh tinggal disini ??" tanya Alika lagi.
Zakia.mengangguk, " tentu saja. pasti nanti rame.. iya kan ma ??" Zakia beralih menatap Nada.
"tentu sayang. " jawab Nada antusias.
Zakia.beralih menatap darren. dan berlari memeluk darren.
" papa .." ucap zakia. yang.membuat semua terpaku, termasuk nurra.
" sayang ... papa merindukanmu " balas Darren.
" pa, nanti malam papa tidurnya denganku ya ??" kata Zakia sambil melepas pelukannya.
" tentu sayang.." balas darren dengan senyumnya.
Nurra membulatkan matanya,
" sejak kapan kau jadi papanya Zakia. ??" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Nura,
" sejak, Revandra jadi adik iparku" jawab Darren singkat.
Alika dan kennan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik keduanya.
" ayo kita masuk, sudah waktunya kita makan siang." ajak Nada.
semua mengangguk, Darren menggendong Zakia dan berjalan masuk melewati Nurra. senyum tak lupa darren berikan untuk Nurra.
Nurra hanya membalasnya dengan senyum tipisnya.
.
.
.
.
__ADS_1