
...Happy reading...
******
Sudah hampir sebulan ini Arieska jarang ke rumah Dimas. Dalam sebulan bisa di hitung beberapa hari Arieska hanya ke rumah Dimas. Seperti saat ini Dimas yang berada di balkon kamarnya menatap kamar Arieska yang ada di depannya dengan pandangan bingung dan dahi berkerut pasalnya kamar Arieska sudah gelap dan tidak ada pencahayaan lampu lagi. Dimana gadis itu? Sudah beberapa hari ini Dimas tidak melihatnya membuat fokus Dimas kadang terbagi antara membalaskan dendamnya dengan Elang dan bertanya-tanya tentang keberadaan Arieska yang biasanya selalu mengganggu hari-harinya. Apa diam-diam Dimas mulai merindukan Arieska? Ah tidak mungkin! Mana mungkin ia merindukan gadis gendut dan jelek seperti Arieska!
"Agrhhh..." Dimas mengacak rambutnya dengan kesal. Ia benci pikirannya yang selalu fokus ke Arieska bukan kepada Mentari yang telah merebut Elang darinya.
"Fokus Dim! Bukannya lebih bagus saat gak ada Arieska yang mengganggu lo. Semua rencana lo pasti akan berjalan dengan lancar." Dimas bermonolog pada dirinya sendiri. Tetapi tetap saja matanya masih tertuju pada kamar Arieska yang gelap seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Dimas menghidupkan korek api yang ia pegang dan mengarahkan pada rokok yang sudah berada di mulutnya, Dimas mencoba mengalihkan fokusnya dengan menghisap batang rokok yang ia punya.
"Udah gue bilang lo gak boleh merokok Dim! Bandel banget sih jadi orang!" ucap Arieska dengan tiba-tiba membuat Dimas terperanjat kaget menatap Arieska dengan tajam. Sejak kapan Arieska ada di kamarnya dan sekarang berdiri di balkon kamar gadis itu? Keduanya saling berhadapan. Dimas hanya diam seperti menilai Arieska yang sedikit berbeda gadis itu kelihatan sedikit kurus dengan wajah yang tidak terlalu pucat tidak seperti sebulan yang lalu.
"Sejak kapan lo di situ?" tanya Dimas dengan ketus.
Arieska tersenyum dengan pertanyaan Dimas kepadanya. "Baru aja gue di sini Dim. Oo iya gimana hari-hari lo? Pasti senang ya karena gue sudah jarang ganggu lo lagi?" ucap Arieska lirih.
"Itu lo tahu. Gue pasti senang lah kalau lo gak ada," ucap Dimas yang sangat berbeda dengan hatinya saat ini.
"Tapi jujur aja gue malah rindu lo Dim hehehe... Jujur amat ya gue? Ya sudahlah gak usah di bahas lagi, gue cuma bilang kurang-kurangi rokok, minum sama minum pil ya, itu gak baik buat kesehatan lo. Gue masuk dulu ya Dim, capek gue hari ini," ucap Arieska dengan lirih. Ia tersenyum kepada Dimas sebelum masuk ke kamarnya karena jujur saja Arieska saat ini sangat merindukan Dimas dan ingin sekali memeluk pria itu tetapi Arieska tidak ingin mendapatkan tetapan tidak suka dari Dimas.
"Tunggu..." Dimas tercekad karena seenaknya ia mencegah Arieska yang hendak masuk membuat Arieska menghentikan langkahnya dan kembali menatap ke arah Dimas.
"Kenapa?" tanya Arieska dengan kening berkerut.
"Tunggu di situ," ucap Dimas dengan tegas.
"Eh Dim, lo mau apa? Awas jatuh, kamar kita ada di lantai dua sampai lo jatuh gara-gara loncat dari balkon ke kamar gue gimana," ucap Arieska dengan cemas.
Tetapi Dimas tak mempedulikan ucapan Arieska, Dimas tetap meloncat dan dengan lancar ia sampai ke balkon kamar Arieska. Arieska mengelus dadanya dengan pelan karena merasa lega Dimas tidak jatuh ke bawah. Arieska menatap Dimas dengan kening berkerut karena tumben sekali Dimas menghampirinya.
"Lo kenapa sih, Dim?" tanya Arieska dengan bingung.
"G-gue... Gue laper," ucap Dimas dengan tenggorokan tercekat. Padahal bukan itu yang mau ia ucapkan kepada Arieska. Pria itu ingin bertanya kemana saja Arieska akhir-akhir ini.
Arieska terkekeh. Ternyata pria itu menghampiri dirinya karena merasa lapar. "Jelita gak masak?" tanya Arieska dengan terkekeh karena ia tahu Jelita pasti sudah memasak untuk Dimas. Tak mungkin Jelita membiarkan Dimas kelaparan walau sebenarnya Dimas bisa makan di luar.
"D-dia..." Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena Sebenarnya Jelita sudah masak untuknya dan ia juga sudah makan. Walau dirinya dan Jelita jarang sekali bertegur sapa. Dimas sedikit demi sedikit sudah luluh dengan keberadaan Jelita di rumahnya karena sudah sebulan Jelita tinggak di rumah ini. Tetapi sikap Dimas masih sangat cuek dan ketus kepada Jelita.
Arieska menggelengkan kepalanya. "Tunggu di sini gue ambil nasi sama lauk di dapur dulu," ucap Arieska pada akhirnya.
Dimas berdecak kesal dengan dirinya sendiri mengapa ia bisa mencegah Arieska untuk tidur. Dimas tidak paham apa yang terjadi pada dirinya saat ini, entah mengapa bersama Arieska saat ini membuat hatinya sangat tenang.
"Ini makanannya, udah gue angetin juga," ucap Arieska dengan membawa satu piring berisi nasi dan lauk yang ada di dapurnya.
__ADS_1
Dimas mengambilnya dengan ragu-ragu, mereka saling duduk dalam diam, sesekali Dimas melirik ke arah Arieska yang seperti kedinginan.
"Lo gak makan?" tanya Dimas saat merasa suasana di antara mereka semakin canggung gak seperti biasanya.
Arieska menggelengkan kepalanya. "Nanti gue tambah gendut kalau makan waktu mau tidur," ucap Arieska dengan enteng.
"Tapi muka lo pucat." Dimas merutuki mulutnya yang tak bisa mengendalikan ucapannya sendiri. Arieska hanya tersenyum tanpa membalas perkataan Dimas.
"Habisin makanannya. Gue udah ngantuk," ucap Arieska lembut.
Dimas sengaja melambatkan makannya, ia masih bingung dengan Arieska.
"Dim!"
"Hmmm."
"Kalau gue kurus dan muka gue glowing pasti banyak yang suka ya," ucap Arieska melihat ke arah Dimas hingga pria itu tersedak.
"Uhuk...uhuk..."
"Minum dulu. Kenapa sih lo? Makanan lo gak bakal gue minta kali," ucap Arieska perhatian.
Dimas meminum air putih yang di berikan Arieska, ia meneguknya dengan sangat cepat hingga Arieska menggelengkan kepalanya.
"Gue ada rencana buat produk pelangsing sama skincare tapi sebelum usaha gue mulai. Gue perbaiki diri gue sendiri. Mana ada yang mau beli produk gue kalau gue aja jelek dan gendut. Benar kan, Dim?" tanya Arieska meminta pendapat.
"Lo sudah selesai Dim? Kalau sudah lo bisa balik ke kamar lo gak? Gue ngantuk banget," ucap Arieska dengan datar.
"Iya gue balik," jawab Dimas dengan ketus.
"Dim!'
"Kenapa lagi sih?" pekik Dimas kesal.
"Terima kasih telah membiarkan gue tetap mencintai lo. Nanti kalau gue gak ada kenang gue ya Dim sebagai tetangga lo juga gak pa-pa. Asal lo ingat gue aja, gue sudah bersyukur," ucap Arieska dengan tersenyum getir. Senyum yang membuat hati Dimas berdenyut sakit tanpa di minta.
Ada apa dengan Arieska?
****
Sudah sebulan Jelita tinggal di rumah sang kakak. Ia terus menghindar dari Rasyad maupun yang lainnya bahkan ia mengganti nomor ponselnya dan tidak masuk ke kampus hanya karena tidak ingin bertemu dengan Rasyad.
Fisiknya terlihat baik-baik saja tetapi batinnya mulai tertekan dengan keadaan yang terus menimpanya hingga memaksa Jelita harus terlihat baik-baik saja. Kapan dirinya mendapat sandaran hidup yang benar-benar tulus kepadanya? Jelita lelah! Jelita ingin bahagia! Tak banyak yang ia pinta hanya sebuah kata sederhana yaitu kebahagiaan sejati yang tak pernah menyakiti fisik dan batinnya bahkan mungkin bisa merusak mentalnya kapan saja.
Sebulan ini Jelita terus mencari pekerjaan tetapi belum ada yang mau menerimanya karena ijazahnya masih lulusan SMA. Jelita tidak menyerah untuk mencari pekerjaan hingga ia diterima menjadi pelayan cafe. Hari ini adalah hari pertama Jelita bekerja, ia sangat bersemangat pagi ini membuat Dimas merasa heran dengan adiknya karena tak biasanya Jelita sebahagia ini. Wajah adiknya tampak berseri tetapi Dimas tak ingin banyak bertanya kepada Jelita.
__ADS_1
"Kak, Jelita berangkat ya!" ucap Jelita dengan tersenyum.
Dimas menghentikan suapannya sejenak. Ia menatap Jelita dengan tatapan seperti biasa. "Kemana?" tanya Dimas dengan singkat.
"Kerja! Aku diterima kerja di cafe. Jadi, aku gak mau telat di hari pertama aku kerja," ucap Jelita dengan sumringah.
"Ooo.... Kuliah berhenti?" tanya Dimas dengan santai.
"Ambil cuti," jawab Jelita dengan lirih.
"Kuliah yang utama! Masalah pekerjaan bisa menjadi yang kedua. Gue akan pindahkan lo ke universitas lain," ucap Dimas dengan tegas.
Jelita menatap Dimas tak percaya matanya berkaca-kaca karena Dimas masih perhatian kepadanya. "S-serius?" tanya Jelita tak percaya.
"Kalau lo mau. Kalau gak mau, gak ada kesempatan kedua!" ucap Dimas dengan datar dan memakan sarapannya dengan tenang.
"MAU!" teriak Jelita dengan senang. "T-tapi biaya kuliahnya Jeli...."
"Gue yang tanggung semuanya!" ucap Dimas dengan santai. Walau bagaimanapun keadaan mereka Jelita adalah tanggungjawabnya, toh Dimas juga bekerja dan memiliki sebuah vila yang selalu di sewakan dan banyak pengunjung belum lagi perusahaan ayahnya yang sudah berada di tangannya tetapi Dimas tak mau sepenuhnya memegang perusahaan tersebut.
Air mata Jelita yang ia tahan akhirnya luruh menjatuhi kedua pipinya. Jelita bangun dari duduknya dan memghanpiri sang kakak. Jelita memeluk Dimas dengan erat menyampaikan rasa bahagianya karena Dimas masih peduli kepadanya, perlahan tapi pasti es yang berada di hati Dimas mencair untuk Jelita.
"Terima kasih, Kak! Kakak masih peduli sama Jelita!" ucap Jelita dengan bahagia. Setidaknya hatinya sudah mulai terobati perlahan.
"Hmmm...bisa lepas gak pelukannya!" ucap Dimas dengan tajam.
"B-bisa! A-aku berangkat kerja dulu, Kak. Aku sayang Kak Dimas selamanya!" ucap Jelita dengan lirih.
Dimas hanya diam setelah kepergian Jelita, pria itu menghela napas dengan dalam.
****
Lingkaran hitam sangat terlihat jelas di mata Rasyad. Sebulan ini pria itu tidak tidur dengan nyenyak, ia terus memikirkan Jelita. Bagaimana membawa gadis itu pulang ke rumah? Rasyad sudah sangat merindukan Jelita! Apalagi kesehatan Gladis yang terus menurun membuat Rasyad merasa bersalah karena tak bisa membawa Jelita pulang ke rumah mereka. Gladis masuk ke rumah sakit sejak kemarin membuat pikiran Rasyad kalut, ia tak tahu harus mencari Jelita kemana lagi, semua tempat sudah ia telusuri tetapi belum mendapatkan kabar apapun seakan gadis itu di telan bumi.
Tiba-tiba Rasyad membalakkan matanya saat melihat seseorang gadis yang sangat mirip dengan Jelita sedang menyebrang jalan. Dengan cepat Rasyad keluar dari mobilnya.
"JELITA!"
*****
Gimana dengan part ini?
Apakah yang tejadi dengan Arieska?
Apakah Rasyad berhasil bertemu dengan Jelita?
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya.