Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 39~ (Malaikat penolong)


__ADS_3

...Hei aku kembali update nih. Masih part Jelita ya! Gimana dengan part ini? Penasaran gak? Bacanya pelan-pelan aja ya wkwk...


...Happy reading...


****


Jelita merasa jijik dengan tubuhnya saat tangan Dave menyentuh tubuh sensitifnya dengan kasar. Ia merasa jijik saat milik Dave berdiri dengan tegak di hadapannya.


Ia sudah merasa kotor sekarang. Apakah ini akhir dari kehidupan tragisnya? Jelita jijik dengan dirinya sendiri! Dirinya wanita kotor!


"Arrgghh...."


Brak....


"JANGAN SENTUH JELITA!" teriak suara bariton dengan penuh amarah.


Bukk...bukk...


"Uhuk...uhuk... Siapa lo? Berani-beraninya ganggu kesenangan gue!" ucap Dave dengan penuh amarah karena seorang lelaki yang sama sekali tak ia kenal memukulnya dengan brutal. Dave yang tidak siap, tidak bisa membalas pukulan lelaki itu.


"Lo gak perlu tahu siapa gue bajing*n!" teriak lelaki tersebut dengan murka.


Jelita menatap lelaki tersebut dengan pandangan kosong, air matanya terus mengalir karena yang di pikirannya sekarang adalah dirinya wanita kotor. Pikirannya kosong bahkan ia sudah tak mempedulilan lagi tubuhnya yang telanjang.


"Brengs*k! Lo berani mencari masalah sama gue," umpat Dave dengan penuh amarah.


"Emangnya siapa lo, hah? Gue gak akan buat lo hidup tenang karena menggangu Jelita!" ucap lelaki tersebut dengan dingin.


"Brengs*k!"


Dave melayangkan tinjuannya tetapi tangannya mampu di tangkis dengan mudah oleh lelaki yang berperawakan tinggi, putih, dan juga tampan.


Krakk..


Bukk...bukk...


"Arghhhh...lepas bajing*n!" teriak Dave kesakitan.

__ADS_1


Lelaki tersebut tertawa meremehkan. "Tangan ini yang sudah menodai tubuh suci Jelita. Gue gak akan melepaskannya dengan mudah," bisiknya di telinga Dave.


Dave merasa merinding dengan bisikan lelaki itu. Auranya sangat menyeramkan, apalagi tatapan lelaki yang terlihat dingin dan bengis seperti siap membunuhnya kapan saja.


Krakkk...


"Arghhhh...Sakit!" teriak Dave saat tangannya diputar hingga berbunyi.


"Ini belum seberapa, Dave. Pergi dari hadapan gue dan Jelita sekarang sebelum gue hilang kendali dan melenyapkan nyawa lo sekarang juga!" ucap lelaki itu dengan tajam.


Dave langsung berlari dengan terbata, tak lupa ia mengambil pakaian dan ponselnya yang sudah berceceran.


Sial!


Dave akan membalas lelaki itu nanti.


"Awas lo!" teriak Dave.


Lelaki itu tersenyum sinis. "Gue gak akan melepaskan lo dengan mudah setelah apa yang lo lakukan terhadap gadis yang gue sayang," gumam lelaki tampan tersebut dengan tajam.


Tatapan lelaki itu melunak saat melihat ke arah Jelita. Ia memejamkan mata karena tubuh Jelita yang polos tanpa pakaian dan banyaknya luka cambukkan di tubuhnya. "Maafkan yang aku terlambat! Seharusnya sejak dulu aku membawamu pergi," gumam lelaki itu dengan lirih.


"Jangan takut Jelita! Aku orang baik," gumamnya dengan lirih.


"Aku kotor hiks...hiks.... Aku mau mati!" teriak Jelita dengan histeris.


Lelaki tersebut meneteskan air matanya merasa iba dengan kehidupan Jelita. "Maafkan aku! Seharusnya sejak dulu aku bisa tegas dengan mereka maka kehidupan kamu tidak akan seperti ini, Jelita!" gumam lelaki tersebut menyesal.


"Jangan sentuh aku! Aku mohon! Aku hanya ingin bahagia!" racau Jelita.


"Kamu akan bahagia! Sekarang pakai pakaian kamu, kita akan pergi dari sini dan hidup dengan bahagia," ucap lelaki itu dengan lembut.


"Bahagia? Apa aku bisa bahagia?" tanya Jelita dengan polosnya.


Lelaki itu mengangguk dengan mantap. "Kamu akan bahagia!" ucap Lelaki tampan seusia Rasyad itu dengan tegas.


"Bohong!" teriak Jelita.

__ADS_1


"Aku tidak bohong aku akan membawamu pergi dan kamu akan hidup bahagia," ucap lelaki itu dengan yakin. Sorot matanya penuh dengan ketegasan dan keseriusan.


"Kamu siapa?" tanya Jelita menatap lelaki itu dengan tatapan kosong.


Lelaki itu tersenyum miris. "Tidak perlu tahu siapa aku yang harus kamu ingat aku akan membuatmu bahagia. Aku akan menebus semua kesakitan yang kamu alami karena...." lelaki itu tidak kuat melanjutkan ucapannya sendiri tangannya terkepal menahan amarah setiap mengingat sesuatu.


"Pakai pakaianmu. Kita akan pergi!" ucap lelaki itu dengan tegas.


"Malaikat penolong," gumam Jelita dengan tersenyum kecil setelahnya senyuman itu lenyap begitu saja digantikan dengan tatapan kosong.


Jelita tak lagi memberontak ia menurut saat lelaki tersebut membantu memakaikan pakaiannya. Tatapannya kembali kosong yang membuat lelaki tersebut semakin khawatir.


Lelaki tampan itu menggendong Jelita dengan perlahan. Ia membawa Jelita keluar dari rumah Dimas. "Bagaimana dengan lelaki bajing*n itu?" tanya lelaki itu kepada anak buahnya yang berada di dalam mobil.


"Dia tidak akan bisa kemana-mana Tuan Muda. Polisi sedang mencarinya dan besok saya pastikan media heboh dengan pemberitaannya. Saya pastikan dia terjerat hukuman berlapis karena bajing*n itu adalah bandar narkoba, dan berencana melakukan pemerkosaan terhadap seorang gadis," ucap anak buahnya dengan tegas.


"Bagus! Tapi bungkam mulut media agar tidak menyebutkan siapa gadis yang akan diperkosa oleh bajing*n itu aku tidak mau Jelita semakin depresi," ucap Lelaki tersebut dengan dingin.


"Baik Tuan Muda!"


"Bagaimana keadaan nona Jelita, Tuan Muda?" tanya anak buahnya dengan hati-hati.


"Dia sudah banyak sekali menderita, Ren. Aku terlambat menyelamatkannya," ucap lelaki itu dengan sendu.


"Anda belum terlambat Tuan Muda!" ucap pria yang di panggil Ren tersebut. Rendy lebih tepatnya.


"Seandainya aku bisa menentang keputusan mereka. Dia tidak akan seperti ini, aku pikir ketika Jelita bersama dengan Dimas dan juga keluarga tuan Nathan, Jelita akan bahagia tetapi mereka semua hanya memberikan kebahagiaan sesaat untuknya. Lihat Ren, tatapan gadis ini begitu kosong, jiwanya tidak ada di tempatnya, aku takut Jelita mengalami depresi berat," ucap lelaki tersebut dengan lirih.


"Apa aku pantas disebut malaikat penolong untuk gadis malang ini?" tanyanya dengan lirih.


Rendy menatap tuan mudanya dengan iba. Selama bekerja dengan tuan mudanya Rendy tidak pernah melihat tuan mudanya menangis dan sekarang tuan mudanya menangis karena menyesal terlambat menyelamatkan gadis yang sangat berharga dalam hidupnya.


Jelita hanya diam saja. Sama sekali tak merespon ucapan kedua lelaki tampan yang berada di dekatnya. Pikirannya sudah kosong. Ia hanya mematung tanpa sekata patah pun keluar dari mulutnya ini adalah puncak dari rasa lelahnya, batinnya tak lagi menerima.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Tuan Muda?" ucap Rendy merasa iba.


"Carikan psikiater terbaik Ren untuk menghilangkan rasa trauma yang dialami Jelita. Aku yakin kali ini kondisinya tidak baik-baik saja," ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda!"


"Kita pulang ke tempat yang akan membuat kamu bahagia, Sayangku. Maafkan aku yang terlambat menjemputmu, aku pastikan mereka akan menyesal telah membuat hidupmu seperti ini."


__ADS_2