Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 54~ (Waktu Cepat berlalu)


__ADS_3

...Hei aku kembali lagi nih. Gimana dengan part ini? Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....


... ...


...Happy reading...


****


Waktu cepat sekali berlalu, kini sudah 3 tahun gadis cantik itu meninggalkan tanah kelahirannya. Parah cantik, tubuh mungil dan sukses di usia muda membuat sang gadis banyak dikagumi oleh banyak pria. Namun sayang, hatinya sudah tertutup untuk satu nama lelaki yang sudah menghiasi hatinya sejak lama, ia tidak bisa menerima lelaki baru untuk singgah di hatinya.


Arieska Beauty adalah brand kosmetik terbaru dari skincare yang Arieska punya. Atas kerja kerasnya ia bisa mendirikan Arieska Beauty hingga sukses sampai sekarang. Pabrik kosmetiknya sudah berdiri dengan gagah di negara tempat ia tinggal sekarang dan Arieska ingin memiliki pabrik kosmetik di Indonesia karena skincare miliknya sudah sangat di kenal di Indonesia, bahkan banyak yang cocok menggunakan produk miliknya.


"Arieska!" panggil seseorang lelaki dengan suara beratnya. Lelaki yang sangat gencar mendekatinya.


Arieska melihat ke arah lelaki tersebut. "Iya," jawab Arieska dengan singkat. Sebenarnya ia sangat malas untuk bertemu dengan lelaki yang juga berasal dari Indonesia hanya saja lelaki itu sudah menetap di Korea sejak usianya masih remaja.


"Mau ke pabrik?" tanya Lintang, lelaki yang menyukai Arieska.


Arieska mengangguk. "Ada produk terbaru yang akan aku luncurkan di bulan ini," jawab Arieska.


Lintang tersenyum bangga. "Kamu hebat sekali, di usia muda sudah sukses seperti ini," puji lintang.


Arieska tersenyum tipis. "Tidak usah berlebihan Lintang," ujar Arieska. Gadis itu melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku duluan ya, karyawanku pasti sudah menunggu," ucap Arieska.


"Arieska!' panggil Lintang dengan lembut.


Arieska berdecak kesal melihat ke arah Lintang. "Ada apa?" tanya Arieska dengan datang.


"Tidak apa-apa. Ya sudah hati-hati," ucap Lintang dengan senyum terpaksa. Padahal sebenarnya ia ingin mengantarkan Arieska ke pabrik tetapi melihat wajah Arieska yang kesal membuat Lintang mengurungkan niatnya.


Lintang menatap kepergiaan Arieska dengan tersenyum, gadis bertubuh mungil itu selalu saja membuat kinerja jantungnya lebih cepat. Ya, Arieska tak lagi terlihat gendut, tubuhnya sudah kurus sehingga ia terlihat sangat mungil sekali apalagi tingginya yang hanya 150 cm.


"Kapan hatimu terbuka untukku, Arieska? Kamu terlalu dingin hingga sulit aku gapai. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" gumam Lintang dengan lirih. Setelah itu Lintang memasuki mobilnya, ia juga memutuskan untuk bekerja walau udara pagi ini sangat dingin sekali.


****

__ADS_1


"Kak, kapan Kakak akan menikah?" tanya Jelita kepada Raka dengan manja.


Raka menghela napasnya dengan perlahan. Ia melepas kacamatanya setelah ia fokus dengan pekerjaannya. "Beberapa bulan ini kamu terus bertanya itu pada Kakak, Jelita. Apa kamu tidak bosan?" tanya Raka dengan malas.


Jelita bersedekap dada di depan Raka. "Tidak! Apa Kakak tidak bosan menjomblo terus? Usia Kakak tidak lagi muda," ucap Jelita dengan kesal.


Jelita ingin sekali melihat Raka menikah, sudah cukup Raka mengurusnya 3 tahun ini dan melupakan masa depan dirinya sendiri padahal Jelita sudah sangat sehat bahkan ia juga menjadi sekretaris pribadi Raka tak hanya itu Jelita juga mempunyai butik dan beberapa cafe miliknya sendiri, Jelita sukses menjadi wanita hebat di tangan Raka.


"Aku tidak pernah melihat Kakak membawa seorang wanita ke rumah, padahal banyak yang mendekati Kakak. Selama ini Kakak hanya dekat denganku dan Rendy saja, apa jangan-jangan...."


"Kamu ini bicara apa? Kakakmu ini normal, Jelita!" dengus Raka dengan kesal.


"Ya aku takut saja Kakak seperti kak Dimas," ucap Jelita dengan lirih. Menyebut nama Dimas, Jelita sangat merindukan lelaki itu. Seperti apa Dimas sekarang? Apa sudah berubah setelah 3 tahun berlalu?


Raka mengela napasnya dengan pelan. "Kakak tidak punya pasangan bukan berarti kakak lelaki seperti itu, Sayang. Hanya saja Kakak belum mendapatkan yang benar-benar tulus. Sekarang Kakak tanya. Kapan kamu akan membuka hati kamu untuk seorang pria? Ini sudah 3 tahun dan sudah sebaiknya kamu menikah," ucap Raka dengan lembut.


Jelita mengedikkan bahunya acuh. "Entahlah, aku ingin fokus bekerja saja," jawab Jelita dengan cuek.


"Ck, kamu ini," ucap Raka berdecak kesal.


"Masuk!" ucap Raka saat mendengar suara ketukan pintu.


Raut wajah Jelita menjadi sangat dingin ketika melihat rekan kerja kakaknya masuk bersama dengan Rendy.


"Tuan Muda, Tuan Keenan datang untuk membahas kontrak kerja sama dengan perusahaan kita," ucap Rendy setelah membungkuk dengan sopan.


"Ya aku sudah tahu, Ren. Tuan Keenan silahkan duduk," ucap Raka dengan tegas.


"Terima kasih Tuan Raka," ucap Keenan tak kalah tegasnya.


"Ooo ayolah Keen jangan menatap adikku seperti itu!" ucap Raka dengan datar saat melihat sahabatnya memandang adiknya dengan penuh kagum sedangkan Jelita yang di tatap seperti itu hanya menampilkan raut wajah dingin dan tak sukanya kepada Keenan.


Keenan terbahak, ia akui sangat mengagumi kecantikan Jelita. Tetapi gadis itu terlalu dingin untuk ia dekati.


"Adikmu terlalu dingin, Ka. Apakah dia lahir dari kulkas?" canda Keenan membuat Jelita mendengkus.

__ADS_1


"Kak, aku tidak nyaman berada di sini," bisik Jelita dengan jujur.


Raka yang paham tidak memaksa Jelita untuk tetap bersamanya, ia takut trauma Jelita kembali muncul walau Raka tak pernah melihat ketakutan adiknya lagi. Yang sering Raka lihat adalah raut wajah dingin dan datar adiknya ketika bertemu dengan seorang pria.


"Keluarlah dan ajak Rendy untuk menemani," ucap Raka pada akhirnya.


Jelita langsung berdiri setelah mendapatkan persetujuan dari Raka. Rendy yang tahu kode tuan mudanya langsung mengikuti Jelita keluar.


Keenan yang tahu ketidaknyamanan Jelita hanya bisa menghela napasnya. "Sebenarnya aku ingin dekat dengan adikmu tetapi rasanya tidak mungkin. Ya sudahlah, kita bahas saja kerja sama kita," ucap Keenan pada akhirnya.


"Biarkan saja Jelita mencari pria yang cocok untuknya, jangan memaksa kehendakmu sendiri. Jika kamu melukai adikku akan kuhanguskan perusahaanmu," ucap Raka dengan datar.


"Ck galak sekali. Sebenarnya kau ini kakaknya atau suaminya sih? Posesif sekali," gerutu Keenan dengan kesal. Raka tidak menjawab wajahnya kembali ke mode serius membuat mau tak mau Keenan juga serius karena kerjasama mereka adalah sesuatu yang sangat penting.


Sedangkan Jelita sudah berada di dalam mobil bersama dengan Rendy. "Anda mau kemana Nona Muda?" tanya Rendy dengan pelan karena saat ini Jelita sedang melamukan sesuatu.


"Ren, apa kau tahu bagaimana kabar kak Dimas?" tanya Jelita dengan lirih.


Rendy terdiam sebentar lalu pria itu menjawab pertanyaan adik tuan mudanya dengan tenang. "Tuan Dimas sudah keluar dari penjara sejak 2 tahun yang lalu Nona Muda. Tuan Dimas juga sudah banyak berubah bahkan tuan Dimas menjadi lelaki yang pekerja keras untuk membangun usahanya saat ini," jawab Rendy sesuai informasi yang ia dapatkan.


"Aku sangat merindukannya. Aku tidak ada bersamanya di saat ia kesulitan. Aku bukan adik yang baik ya Ren?" gumam Jelita dengan lirih.


"Itu terjadi bukan kehendak anda Nona Muda. Sekarang tuan Dimas jauh lebih baik dari sebelumnya," ucap Rendy dengan sabar.


Jelita tersenyum. "Aku ingin pulang!" ucap Jelita membuat Rendy menegang.


"M-maksud Nona?" tanya Rendy tergagap.


"Ck.... Kau ini selalu saja bereaksi berlebihan. Alu ingin pulang ke Indonesia dan melihat keadaan kak Dimas," ucap Jelita.


"T-tapi..."


"Tidak sekarang, Ren. Aku tahu ketakutan kalian. Aku bukan Jelita yang lemah lagi sekarang. Aku akan pulang bersama dengan kak Raka nantinya. Aku ingin melihat kak Raka menikah," ucap Jelita dengan tersenyum membayangkan jika Raka menikah.


"Andai nona muda tahu kalau tuan muda tidak akan menikah sebelum nona benar-benar bahagia dan mendapatkan lelaki yang tulus mencintai anda pasti nona muda akan syok mendengarnya," gumam Rendy di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2