
...Hei aku kembali lagi dengan cerita ini. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya. Untuk novel Cut sabar ya aku udah up dari sore tapi masih di review sampai sekarang....
...Happy reading...
****
Rasyad membuang semua foto Lolita yang berada di rumahnya, semua yang berkaitan dengan Lolita sudah Rasyad bakar tanpa menyisakan barang satu pun yang berkaitan dengan Lolita. Proses perceraian mereka sudah berjalan dan Rasyad langsung menalak tiga Lolita tanpa pertimbangan apapun karena rasa cintanya untuk wanita itu hilang tidak tersisa yang ada di hati Rasyad hanya sebuah kekecewaan dan kebencian untuk Lolita. Mengingat perceraiannya, Rasyad menjadi ingat dengan Jelita yang hidup tanpa orang tuanya. Bagaimana kehidupan Nazwa nantinya? Apa akan sama seperti Jelita? Apakah ini karma yang ia dapatkan?
"Rasyad!" panggil Gladis dengan pelan membuat Rasyad tersentak dan berbalik menatap ke arah sang bunda yang menghampirinya.
"Iya Bunda," jawab Rasyad dengan tersenyum karena ia tidak mau membuat Gladis khawatir kepadanya dan membuat kesehatan bundanya kembali menurun. Cukup karena Jelita saja bundanya sakit dan bersedih.
Gladis menarik napasnya dengan perlahan melihat kobaran api yang menghanguskan semua tentang Lolita tak tersisa seperti apa yang Rasyad lakukan pada barang Jelita tiga tahun lalu, mengingat itu dada Gladis kembali sesak karena Rasyad begitu membenci Jelita dengan kesalahan gadis itu yang sama sekali belum terbukti, bahkan sampai sekarang Gladis masih mengharapkan Jelita pulang ke rumahnya.
"Setelah ini apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Gladis dengan menatap mata putranya.
"Aku akan ke Bali untuk menyelidiki Lolita, Bunda. Bukan aku peduli kepadanya, hanya saja perceraian kami masih berjalan jadi aku akan memastikan sesuatu terlebih dahulu," ucap Rasyad.
"Memastikan sesuatu? Apa itu, Nak?" tanya Gladis penasaran.
Rasyad menghela napasnya dengan perlahan. "Rekan bisnisku ada melihat Lolita bersama dengan lelaki memasuki kamat hotel yang berada di Bali," jawab Rasyad dengan berat.
__ADS_1
Gladis yang mendengarnya langsung merasa syok, tiba-tiba saja dadanya merasa sakit dan kakinya lemas hingga terhuyung membuat Rasyad langsung sigap menolong bundanya.
"Bunda gak apa-apa?" tanya Rasyad dengan panik.
"Bunda gak apa-apa, Nak!" jawab Gladis dengan lirih.
"Segera urus istri kamu itu. Sejak kepulangannya dari Paris tiga tahun lalu Bunda sudah merasa ada yang berbeda dengan Lolita tetapi sejak saat itu Bunda tidak terlalu berpikir jauh karena Bunda lebih mementingkan Jelita," ucap Gladis dengan tegas.
"Bun jangan sebut nama itu lagi!" ucap Rasyad tak suka.
"Kamu boleh membenci Jelita tetapi bagi Bunda dia adalah anak bunda juga terlepas," ucap Gladis dengan tajam membuat Rasyad terdiam.
"Cepatlah pergi ke Bali. Biar Nazwa bersama dengan Bunda dan ayah, ada Rasyid dan Erina juga yang menjaga anak kamu," ujar Gladis selanjutnya.
Gladis menganggukkan kepalanya. Ia berjalan meninggalkan Rasyad seorang diri, jujur saja Gladis sangat kecewa dengan Rasyad karena membenci Jelita dengan alasan foto yang dikirim oleh seseorang yang sama sekali tidak mereka kenal, bisa saja foto itu sengaja dibuat agar Rasyad dan keluarganya membenci Jelita. Anaknya itu tidak pernah berpikir dengan baik padahal dulu Rasyad sangat menyayangi Jelita.
"Nak, Bunda sangat rindu kepadamu. Di sisa hidup Bunda apakah kita masih bisa bertemu dan hidup bersama seperti keluarga sama di saat seperti dulu? Bunda harap kamu masih menjadi anak Bunda, sebenarnya sejak dulu Bunda sangat menginginkan kamu menikah dengan Rasyad karena Bunda lihat kalian saling mencintai tetapi Rasyad memilih menikah dengan Lolita. Jika ada kesempatan apakah kamu mau menikah dengan Rasyid karena hanya Rasyid yang bisa menjaga kamu dengan baik?"
****
Prank...
__ADS_1
Jelita sangat terkejut karena gelas yang berisi teh panas yang baru saja ia buat pecah begitu saja dan airnya mengenai kakinya bahkan pecahan gelas itu juga mengenai kakinya hingga terluka dan sedikit mengeluarkan darah.
"Dek, kamu kenapa? Kenapa gelasnya bisa pecah?" tanya Raka dengan panik. Raka yang berada di ruang tamu bersama dengan Rendy membahas kepindahannya kembali ke Indonesia langsung berlari ke arah dapur di saat Raka mendengar sesuatu yang pecah di arah dapur.
Jelita yang masih syok hanya bisa terdiam karena tiba-tiba saja ja teringat dengan Gladis dan Rasyad. Saat ini detak jantungnya tidak beraturan dan dadanya terasa sesak, ia ingin menangis sekarang juga tetapi air matanya tidak bisa mengalir.
"Sayang!" panggil Raka dengan cemas. Raka sedikit menggoncang tubuh adiknya hingga Jelita kembali sadar.
"Kenapa gelasnya bisa pecah? Kaki kamu berdarah kita obati dulu ya ini juga memerah kena teh panas," ucap Raka dengan panik.
"A-aku gak apa-apa, Kak. Aku juga gak tahu kenapa gelasnya tiba-tiba saja pecah," ucap Jelita dengan terbata.
"Ya sudah, ayo kita obati dulu luka kamu," ucap Raka dengan lembut.
Jelita hanya mengangguk saja dan pasrah saat sang kakak menggendongnya.
"Ren, tolong ambilkan kotak P3K," ucap Raka dengan tegas.
"Baik Tuan Muda," ucap Rendy dengan patuh.
Raka menatap adiknya dengan cemas. Ia meniup kaki adiknya dengan perlahan setelah ia menundukkan adiknya di kursi dan meletakkan kaki adiknya di pahanya.
__ADS_1
Sedangkan Jelita masih bergelut dengan pikirannya sendiri, banyak pertanyaan yang berkecamuk di otaknya sekarang.
"Kenapa aku bisa memikirkan bunda dan kak Rasyad? Selama ini aku sudah berusaha melupakan mereka tetapi tiba-tiba saja entah mengapa aku mengingat mereka kembali. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dadaku terasa sesak sekali?"