
...Happy reading...
***
Rasyad memegang tangan Jelita dengan erat saat ini Jelita sudah melewati masa kritisnya dan calon kedua anak mereka juga baik-baik saja walaupun nantinya Jelita harus bedrest total dan pastinya Rasyad tambah posesif kepada sang istri mengingat kejadian itu sudah hampir merenggut nyawa istri dan kedua anaknya.
"Sayang ayo bangun," ucap Rasyad dengan lirih.
Rasyad menciumi tangan Jelita dengan lembut, air matanya jatuh seketika saat mengingat betapa kejamnya kakek Agam kepada sang istri, walau sekarang kakek Agam terlihat baik tetapi Rasyad sama sekali tak mengizinkan kakek Agam untuk bertemu istrinya walau hanya sebentar saja. Bahkan kakek Agam tak pernah beranjak dari duduknya, ia terus menunggu Jelita di luar.
Jelita yang merasakan tangannya disentuh oleh seseorang mencoba membuka matanya yang terasa berat, perlahan tapi pasti mata Jelita terbuka.
"A-anakku... Anakku dimana? anakku hiks...hikss," racau Jelita dengan histeris yang membuat Rasyad tersentak.
"Sayang, tenang dulu oke! Kamu tidak boleh banyak gerak," ucap Rasyad dengan cemas.
"Anak kita, Mas. D-dia... Anakku hiks..." ucap Jelita dengan menjambak rambutnya sendiri. Jelita sangat takut kehilangan anak kembarnya, kejadian dimana ia jatuh dan bersimbah darah membuat Jelita berpikir jika sudah kehilangan anak-anaknya sekarang.
__ADS_1
Tanpa banyak kata Rasyad memeluk istrinya dengan erat, ia mengelus kepala istrinya dengan lembut. Jelita terus menangis histeris yang membuat Rasyad semakin cemas. "Hei tenang, Sayang. Anak kita baik-baik saja," ucap Rasyad dengan pelan.
Jelita yang tadinya terisak langsung terdiam dan melepaskan pelukan suaminya. tangannya yang gemetar mencoba mengelus perutnya. Jelita menghembuskan napasnya dengan lega saat ia merasa perutnya masih seperti biasanya
"Anak kita selamat?" tanya Jelita dengan lirih.
"Iya, Sayang. Anak kita selamat," ucap Rasyad dengan tersenyum.
Jelita langsung memeluk Rasyad dengan erat, ia menangis bahagia karena kedua anak kembarnya masih berada di dalam rahimnya dan tidak meninggalkannya, Jelita tak tahu jika kehidupannya tanpa kedua anaknya mungkin Jelita akan benar-benar gila karenanya.
"Hiks... Aku lega sekali, Mas. Aku pikir twins akan meninggalkan kita, kalau itu benar-benar terjadi mungkin aku akan gila, Mas. Aku tidak sanggup kehilangan mereka, tidak aksn pernah sanggup, Mas!" ucap Jelita dengan lirih.
Jelita menundukkan kepalanya. Kejadian dimana sang kakek mendorongnya membuat Jelita semakin merasa takut untuk bertemu dengan kakek Agam lagi.
"Hei Sayang..." panggil Rasyad dengan menarik dagu Jelita dengan perlahan.
"Kamu dengarkan ucapan Mas barusan hhmmm?" tanya Rasyad dengan dalam.
__ADS_1
Jelita mengangguk dengan lirih. "Dengar, Mas!" gumam Jelita dengan pelan.
Rasyad tersenyum ia mengecup kening Jelita dengan lembut. "Jangan pernah meninggalkan Mas, Sayang!" ucap Rasyad dengan tulus.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan Mas!"
****
Kakek Agam diam menunduk menunggu Jelita di luar ruangan ditemani oleh Adnan.
"Sebaiknya kakek pulang saja!" ucap Raka dengan dingin.
"Tidak! Kakek tidak akan pergi dari sini," ucap Kakek Agam dengan tegas.
"Untuk apa Kakek di sini? Kehadiran Kakek sama sekali tidak dibutuhkan! Saya dan juga yang lainnya tidak akan mengizinkan Kakek bertemu dengan Jelita!" ucap Raka dengan tajam.
"Kakek menyesal Raka! Kakek ingin memastikan cucu dan cicit Kakek baik-baik saja," ucap Kakek Agam dengan lirih.
__ADS_1
"Terlambat, Kek! Apa yang selama ini Kakek tuduhkan ke Jelita sama sekali tidak beralasan, dan gara-gara Kakek adik Raka menderita. Coba Kakek bayangkan berapa banyak kesakitan yang Jelita rasakan saat tidak bisa kumpul dengan keluarga kita? Berapa banyak, Kek? Dan Kakek tidak pernah mengakui Jelita sebagai cucu Kakek sendiri. Sekarang apa? Kakek baru menyesal setelah kejadian dimana nyawa Jelita dan calon anak kembarnya hampir melayang?"
"Jika waktu bisa diulang maka Kakek tidak aksn membenci Jelita!'