
...Happy reading...
****
Jelita tampak diam ketika dirinya ikut makan bersama dengan dengan keluarganya. Ia hanya mengaduk-ngaduk makanannya dan sama sekali tidak memakannya, saat ini yang ada di dalam pikirannya hanya Dimas. Apa kepergian kakaknya itu berdalih bulan madu hanya untuk menghindari ini? Jika ia tahu Jelita ingin ikut bersama dengan kakaknya itu dari pada di sini dengan suasana yang sangat canggung.
"Sayang kenapa tidak makan? Apa perut kamu mual lagi?" tanya Rasyad dengan perlahan.
Jelita tersenyum tipis, ia meletakkan sendoknya. "Aku sudah kenyang, Mas!" jawab Jelita dengan lirih.
"Apa makanannya tidak enak, Nak? Kamu sama sekali belum menyentuh makananmu," ucap Papa Frendy dengan cemas.
"Makanannya enak kok. Perutku saja yang sudah merasa kenyang," jawab Jelita dengan datar.
Raka menatap adiknya dengan dalam. Ia tahu jika Jelita belum bisa menerima pertemuannya dengan kedua orang tua mereka serta sang nenek yang mencoba akrab dengan Jelita tetapi wanita hamil itu masih sangat merasa aneh.
"Kamu mau apa? Biar Kakak pesankan," ucap Raka dengan perhatian. Bahkan Raka dengan perhatiannya juga menyuapi Erina yang memang susah makan jika tidak disuapi olehnya.
Jelita menggeleng. "Tidak menginginkan apapun, Kak!" jawab Jelita dengan pelan. "Aku ke taman belakang dulu ya kalian lanjutkan saja makannya," ucap Jelita dengan tersenyum canggung ke arah papa, mama dan juga neneknya.
Rasyad dan yang lainnya melihat kepergian Jelita ke taman belakang dengan menghela napasnya perlahan. "Maafkan sikap istri saya yang kurang sopan," ucap Rasyad meminta maaf pada mertuanya.
"Tidak apa-apa mungkin Jelita belum bisa menerima kami semua hadir di kehidupannya," ucap Papa Frendy dengan sendu dan berusaha memaklumi dengan apa yang terjadi sekarang. Tetapi papa Frendy yakin perlahan pasti Jelita mau menerima kehadirannya.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf, Pa. Kalau begitu saya menyusul Jelita dulu," ucap Rasyad dengan sopan yang diangguki oleh semuanya yang ada di sana.
*****
Rasyad mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Jelita yang sedang berada di taman belakang rumah Raka, ia mendesah lega saat melihat istrinya sedang tiduran di rumput dengan memandang ponselnya.
"Lagi menelepon siapa, Sayang?" tanya Rasyad yang ikut berbaring di samping sang istri.
"Ehhh...Mas kok ke sini? Makannya sudah selesai?" tanya Jelita yang merasa kaget dengan kedatangan suaminya.
"Jawab dulu pertanyaan Mas, Sayang! Kamu sedang menelepon siapa?" ucap Rasyad dengan tegas menatap istri.
"Kak Dimas," jawab Jelita dengan sendu. "Dia sama sekali tidak menjawab teleponku. Saat ini hatinya pasti sedang terluka makanya kak Dimas mengajak kak Arieska ke Turki," jawab Jelita dengan sendu.
Jelita memeluk suaminya, mereka saling memeluk di atas rumput hijau tak peduli pakaian mereka akan kotor nantinya. "Aku belum bisa menerima kedatangan mama, papa, dan nenek. Aku bahagia mereka mau menerimaku, Mas. T-tapi aku masih merasakan hatiku sakit, Mas. Membayangkan mereka bahagia tanpa aku rasanya sangat sesak sekali," jelas Jelita dengan lirih.
Rasyad mencium kening istrinya dan mengelus perut Jelita dengan lembut. "Kamu tidak sendiri sekarang, Sayang. Ada anak kita di dalam perut kamu. Kamu tidak boleh stress, mereka datang baik-baik, terima mereka dengan hati yang lapang. Bukankah keluarga yang utuh yang kamu inginkan hmm? Dan sekarang adalah waktunya," ucap Rasyad dengan menatap Jelita.
"Senyum, Dong!" ucap Rasyad menarik bibir Jelita agar tersenyum.
Jelita akhirnya tersenyum, benar kata suaminya ia harus menerima keluarganya dengan perlahan karena itulah yang Jelita inginkan sejak dulu. Tetapi bagaimana dengan Dimas? Kakaknya itu pasti merasa sedih sekali karena mama mereka tak lagi bersama dengan papa Dero.
"Terima kasih sudah ada di saat aku merasa terpuruk seperti ini," gumam Jelita dengan tulus.
__ADS_1
"Apapun akan Mas lakukan agar kamu tidak bersedih lagi, Sayang."
****
"Mas kenapa tidak diangkat telepon Jelita?" tanya Arieska saat melihat suaminya hanya mendiamkan ponselnya tanpa berniat menjawab teleponnya.
Dimas menghela napasnya. "Biarkan saja, Sayang. Mas ingin Jelita menikmati waktu bersama dengan keluarganya, Mas tidak ingin menganggu mereka," ucap Dimas dengan tersenyum. Senyum yang menurut Arieska menyimpan banyak kesedihan di sana.
"Tapi mama Jelita adalah mama kamu juga, Mas! Seharusnya kita juga ada di sana," ucap Arieska dengan lembut.
Dimas menatap langit-langit kamar hotel yang mereka tempat sekarang. "Tidak usah bahas itu ya, Sayang. Bagaimana jika kita pergi ke Cappadocia sekarang?" ucap Dimas dengan tersenyum. Dirinya mengajak Arieska ke Turki untuk menghilangkan kegundahan hatinya dan sama sekali tidak ingin membahas mamanya dan keluarga barunya.
"Mas..."
"Please, Sayang. Aku tidak ingin membahas mereka. Kedatangan kita ke sini untuk bersenang-senang bukan untuk memikirkan mereka!" jawab Dimas dengan tegas.
Arieska mengela napasnya dengan pasrah. "Maaf, Mas. Ya sudah aku siap-siap dulu ya," ucap Arieska merasa bersalah.
"Iya, Sayang!" ucap Dimas dengan tersenyum.
Setelah kepergiaan Arieska ke kamar mandi. Dimas berjalan ke arah jendela, ia menatap keluar dengan pandangan yang sama sekali tidak bisa diartikan. "Mama kita sama, Dek. Tapi keluarga kita berbeda. Kakak merasa tidak sanggup melihat kebahagiaan mama dengan papa kamu, kakak jadi teringat di mana dulu mama bahagia bersama dengan papa Dero sebelum kesibukan papa menghancurkan keluarga kita," gumam Dimas dengan lirih.
Jika kalian menjadi Dimas apa yang akan kalian lakukan jika melihat mama yang melahirkan kalian bahagia dengan keluarga barunya? Tentu sangat terluka bukan?
__ADS_1
Saat ini Dimas benar-benar merasa sedih karena hal itu karena keluarganya tidak bisa bersatu seperti dulu. Tetapi walaupun begitu kebahagiaan Jelita adalah yang utama baginya tak apa hatinya terluka asal adiknya bahagia dengan keluarga yang utuh.