
...Part Dimas dan Arieska di part berikutnya ya. Jangan lupa ramein part ini gengs....
...Happy reading...
****
Intinya begini :
Hubungan bisa bertahan tergantung laki-laki. Kenapa harus laki-laki?
Karena pada kenyataannya perempuan bisa memaafkan berkali-kali, sedangkan laki-laki? Dengan satu kesalahan saja dia bisa mengubah kita menjadi dua orang asing dalam waktu ya g singkat.
Dan itu terjadi pada kita! Aku dan kamu bagaikan orang asing yang tak saling mengenal!
\*\*\*\*
Suasana pagi ini begitu sangat indah bagi anak kecil bernama Nazwa. Hatinya berbunga-bunga saat dirinya kembali memiliki bunda yang sangat menyayanginya.
"Bunda!" panggil Nazwa dengan menatap Jelita intens.
Jelita yang sekarang sedang sibuk menata sarapan untuk Nazwa dan Rasyad menatap ke arah Nazwa dengan tatapan yang begitu lembut. Jelita seperti melihat dirinya kembali sewaktu kecil ketika melihat Nazwa. "Kenapa Sayang? Wawa mau apa?" tanya Jelita mengelus lembut rambut Nazwa.
"Bunda nangis ya? Mata Bunda kok sembab?" tanya Nazwa dengan polosnya membuat Jelita mematung lalu tersenyum tipis ke arah Nazwa.
Percakapan keduanya tak luput dari penglihatan Rasyad yang memang sedang menuju ke ruang makan setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Menangis? Apa Jelita menangis semalam?" gumam Rasyad di dalam hati saat menatap istri dan anaknya yang sedang mengobrol.
"Bunda gak nangis, Wawa. Tadi Bunda iris-iris bawang merah makanya air mata Bunda keluar karena perih," jelas Jelita berbohong kepada Nazwa. Kenyataan yang ada Jelita menangis sejak semalam saat dirinya bertengkar dengan Rasyad. Sekuat apapun dirinya sekarang, Jelita tetaplah seorang perempuan yang hatinya begitu rapuh jika di hina dengan tajam oleh suaminya sendiri.
"Benelan Bunda? Bunda gak bohong sama Wawa, kan?" tanya Nazwa mendesak Jelita untuk jujur.
Jelita terkekeh, Nazwa begitu lucu ketika sedang mengintrograsinya seperti ini. Jelita mengacak rambut Nazwa dengan gemas hingga ia terdiam melihat dan mendengar Rasyad mendekat ke arah mereka.
"Ekhem..." Rasyad berdehem saat ia sudah mendekat ke arah Jelita dan Nazwa.
"Ayahhh...." teriak Nazwa dengan senang.
"Hei.... Anak Ayah pagi-pagi sudah senang banget. Ada apa nih?" ucap Rasyad dengan tersenyum.
"Iya dong. Kalena ini hali spesial ada bunda Jelita di sini," jawab Nazwa dengan tersenyum.
Nazwa melihat ke arah ayah dan bundanya bergantian. "Ayah dan bunda lagi malahan ya? Kok diam-diaman?" tanya Nazwa dengan polos.
__ADS_1
"E-enggak kok!" jawab keduanya dengan cepat.
"Kita gak lagi marahan kan Bunda?" tanya Rasyad menatap Jelita. Suaranya juga teramat lembut untuk meyakinkan anaknya yang masih terlihat kepo.
Rasyad mengkode Jelita dengan matanya agar gadis itu cepat menjawab pertanyaan Nazwa yang terlihat belum puas sekali.
"I-iya Sayang. Bunda mana mungkin marahan sama ayah," jawab Jelita dengan kikuk.
"Telus kalau gak malahan kenapa jauh sama ayah? Kenapa Ayah juga gak peluk Bunda dan cium kening Bunda?" tanya Nazwa dengan sangat cerewat.
Keduanya menjadi kikuk karena ucapan Nazwa yang sangat menohok hati keduanya. Rasyad mendekat ke arah Jelita dan memeluk Jelita dari samping, awalnya Jelita ingin menolak tetapi melihat binar bahagia di wajah Nazwa membuat Jelita menerima pelukan Rasyad begitu saja.
Cup....
Tubuh Jelita mematung dengan hebat saat tiba-tiba saja ia mendapatkan ciuman dari Rasyad di keningnya.
"Sekarang Wawa sudah percaya kan kalau Ayah dan bunda tidak sedang marahan?" tanya Rasyad dengan tersenyum.
"Pelcaya. Ayah dan Bunda halus belsama telus ya!" pinta Nazwa dengan penuh harap.
"Pasti, Sayang. Iya, kan Bunda?" tanya Rasyad dengan tersenyum.
"Jawab Bunda," bisik Rasyad di telinga Jelita yang masih terdiam mematung karena perbuatannya.
"Bunda dan ayah tidak akan pernah terpisah, Sayang!" ucap Jelita pada akhirnya.
"Benar! Kita tidak akan pernah terpisah Jelita!" gumam Rasyad di dalam hati dengan penuh tekad. Entah mengapa Rasyad tak bisa melepaskan Jelita begitu saja.
"Sekarang ayo kita sarapan karena kita akan ke rumah sakit menjenguk nenek," ucap Jrlita dengan tersenyum.
Saat ini ketiganya sarapan dengan tenang karena Jasmine sudah dijemput oleh Kendra. Mereka akan langsung ke rumah sakit untuk menggantikan keluarga yang lainnya.
****
Erina mengerjabkan matanya setelah silau matahari mengganggu tidurnya. Ia meringis saat merasakan semua tubuhnya ngilu dan seperti remuk. Raka benar-benar membuatnya tak berdaya, lelaki yang sudah berstatus suaminya itu terus meminta haknya sampai benar-benar mereka lelah hingga keduanya terlelap bersama.
Erina melihat ke arah sampingnya. Kosong? Kemana suaminya? Erina membenarkan selimutnya dan mengelus tempat di sampingnya di mana Raka tertidur semalam. Tempat itu sudah terasa dingin berarti Raka sudah meninggalkannya lama. Kenapa ia merasa sedih ya? Erina seperti wanita yang dipakai lalu ditinggalkam begitu saja.
Huftt...
Erina menarik napasnya dengan perlahan. Seharusnya ia tidak perlu merasa sakit karena ini adalah permintaannya. Erina lagi-lagi meringis saat merasakan miliknya sangat perih.
"Dia benar-benar perkasa," gumam Erina dengan berjalan tertatih ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Erina berendam dengan air hangat untuk merilekskan tubuhnya yang terasa remuk. Cukup lama Erina berendam hingga akhirnya ia memutuskan menyudahi berendamnya. Ia takut Raka menunggunya dan kembali menyulutkan amarah pria itu. Erina keluar dari dalam kamar mandi dan segera berganti pakaian, ia dibuat terkejut dengan banyaknya bekas kepemilikan Raka di tubuhnya.
"Astaga banyak banget. Gimana caranya aku menutupi bekas ciuman Mas Raka?" tanya Erina kelada dirinya sendiri dengan panik.
"B-bagaimana nanti kalau ayah dan yang lainnya curiga? A-aku harus bisa menutupi bekas ini!" ucap Erina dengan gugup. Kissmark itu begitu terlihat jelas.
"Kenapa lama sekali? Saya bangun sudah sejak tadi dan kamu masih berada di sini dengan handuk yang melilit di tubuhmu. Apa kamu mengundang saya untuk bercinta kembali?" ucap Raka dengan tiba-tiba yang membuat Erina sedikit terkejut.
"M-mas kapan masuknya? Kok aku gak dengar sama sekali? A-aku sedang bingung untuk menutupi ini semua dengan apa," ucap Erina dengan gugup saat mata Raka seperti Elang yang ingin menerkamnya.
"Jika tidak ingat jika hari ini saya ada meeting. Sudah saya habisi kamu di ranjang, Erina. Cepat ganti pakaianmu sebelum saya berubah pikiran!" ucap Raka dengan dingin.
"I-iya Mas..." jawab Erina dengan gugup dan langsung berlari walk-in closet. Raka yang melihat istrinya seperti itu menghela napasnya dengan berat.
"Kenapa denganku? Sepertinya aku sudah gila jika berada di dekatnya," gumam Raka dengan pelan.
"Saya hitung sampai lima jika belum keluar juga aku akan mengurungmu di kamar," teriak Raka dengan keras.
"Satu...dua....tiga...empat....li..."
"Aku sudah siap Mas!" ucap Erina dengan cepat.
"Hmmm...." Raka menelisik tubuh Erina dengan ekor matanya. Ternyata ia benar-brnar ganas semalam hingga Raka tak sadar jika sudah banyak meninggalkan jejak kepemilikan di tubuh Erina.
"Hari ini saya tidak pulang. Kamu boleh datang ke rumah sakit, tapi sebelum jam 10 malam kamu harus sudah berada di rumah ini. Saya beri waktu seminggu untuk kamu menjelaskan kepada keluargamu jika kamu tidak tinggal di rumah orang tuamu lagi," ucap Raka dengan tegas.
"S-seminggu Mas? B-bisa beri waktu lebih lama lagi tidak? B-bunda juga belum siuman," ucap Erina dengan lirih.
"Dua minggu dan tidak ada penawaran lagi!" ucap Raka dengan dingin.
"Iya Mas. Terima kasih," ucap Erina dengan senang.
"Hmmm..." Raka berjalan hendak keluar kamar tetapi Erina mencegah tangannya yang membuat Raka kembali menatapnya
"Mas tunggu!"
"Ada apa? Saya sudah telat!" ucap Raka dengan datar.
"Sebentar!" ucap Erina dengan tersenyum. Ia mendekati Raka dan berhadapan dengan pria itu. "Aku perbaiki dasi Mas dulu. CEO harus terlihat rapi," gumam Erina yang membuat Raka terdiam dan menatap Erina dengan jarak yang amat dekat.
"Cantik," gumam Raka di dalam hati.
"Sejak pertama kali bertemu aku sudah tertarik kepadamu. Dan siapa sangka kamu yang akan menawarkan diri kepadaku. Dan aku tidak akan melepaskanmu walau nanti keluargamu menentangku! Kamu sudah di bawah kuasa seorang Raka Erlangga, Erina. Dan kamu tidak bisa lepas dariku begitu saja!"
__ADS_1