
...Happy reading...
***
Rasyad dengan tidak fokus mengikuti meeting dengan salah satu koleganya yang sudah bekerja sama dengannya bahkan sejak Nathan yang memegang perusahaan ini. Sedangkan Rasyid memegang perusahaan dari pihak bundanya.
Pikiran Rasyad tertuju pada Jelita yang pergi dari rumah dengan keadaan kacau. Apa yang terjadi pada tiga tahun lalu? Mengapa Jelita terlihat kecewa sekali dengannya? Apa foto itu tidak benar adanya?
"Pak Rasyad!"
"Pak Rasyad!"
"Ahh..iya, kenapa?" tanya Rasyad dengan linglung saat sekretarisnya memanggil namanya dengan berbisik.
"Meeting sudah selesai sejak 10 menit yang lalu dan pak Ghali sudah menunggu anda untuk makan siang bersama," ucap sekretaris Rasyad bernama Barra.
Rasyad mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu ia menatap pak Ghali yang se-usia dengan ayahnya duduk di hadapannya dengan tersenyum.
"M-maaf, Pak. Hari ini saya tidak fokus," ucap Rasyad merasa bersalah.
"Tidak masalah Pak Rasyad karena saya tahu mungkin anda sedang memikirkan keadaan ibu anda yang belum sadarkan diri," ucap Pak Ghali yang memang juga berteman akrab dengan ayahnya.
"Iya Pak. Akhir-akhir ini saya sangat mengkhawatirkan bunda saya karena walaupun dokter mengatakan keadaan bunda saya sudah membaik tetapi sampai saat ini bunda saya belum sadarkan diri," jelas Rasyad yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Saya turut bersedih dengan keadaan ibu anda, pak," ucap Pak Ghali dengan menepuk pundak Rasyad.
"Bagaimana jika kita makan siang bersama untuk menghilangkan rasa gundah di hati anda?" tanya Pak Ghali dengan akrab.
"Boleh saja, Pak." jawab Rasyad dengan tersenyum. Ia tidak mungkin menolak ajakan pak Ghali walaupun perasaan hatinya sedang tidak tenang saat ini.
"Barra kamu handle semua pekerjaan saya hari ini. Saya mungkin tidak akan kembali ke perusahaan karena sore ini juga saya ada jadwal mengajar," ucap Rasyad dengan tegas.
"Baik Pak!" jawab Barra dengan sopan.
"Ayo Pak!" ajak Rasyad kepada pak Ghali yang diangguki pria paruh baya tersebut.
*****
__ADS_1
Saat ini Rasyad dan pak Ghali sedang menikmati makan siang mereka dengan diselingi obrolan ringan yang membuat keduanya tampak akrab.
"Ngomong-ngomong kamu sudah menikah lagi ya?" tanya pak Ghali dengan penasaran.
"Iya Pak sudah," ucap Rasyad dengan tersenyum membuat ia kembali mengingat Jelita yang tak mengangkat teleponnya sejak tadi. Kemana gadis itu?
Pak Ghali tertawa. "Saya tidak menyangka jika kamu sudah menikah dengan adik angkatmu sendiri. Kemarin Nathan yang bercerita padaku saat aku menjenguk ibumu bersama dengan istriku, dan ternyata dunia ini sangat sempit. Kamu menikah dengan gadis yang sangat tepat Rasyad, tolong jaga dia dengan baik," ucap Pak Ghali menghentikan makannya sejenak.
"Anda mengenal istri saya?" tanya Rasyad dengan terkejut.
"Tentu saya mengenalnya Rasyad. Nona muda Jelita adalah pasien istri saya," ucap Pak Ghali dengan tersenyum
"P-pasien? M-maksud anda?" tanya Rasyad dengan terbata. Jantungnya bedebar dengan sangat kencang menunggu jawaban dari orang yang berada di hadapannya ini
"Iya Jelita adalah pasien istri saya tiga tahun lalu," ucap Pak Ghali dengan mengenang bagaimana ia bisa mengenal Jelita dan ia kembali ke titik kejayaan setelah Raka membantunya.
"Tunggu-tunggu, Pak. Saya belum mengerti sama sekali. Pasien? Istri saya pasien istri anda tiga tahun lalu? Apa maksudnya ini? Coba jelaskan kepada saya, Pak! Bukannya istri anda seorang psikiater?" ucap Rasyad dengan tak sabaran.
"Loh kamu tidak tahu jika Jelita adalah pasien istri saya? Tiga tahun lalu Jelita hampir diperkosa dengan teman kakaknya sendiri kalau gak salah teman dari Dimas. Di saat itu kesehatan mentalnya mulai memburuk Jelita dinyatakan depresi berat oleh istri saya selaku psikiater yang menangani Jelita. Jika tidak datang tuan muda Raka waktu itu selaku kakak dari Jelita mungkin saat itu Jelita sudah diperkosa oleh Dave dan mungkin keadaannya jauh lebih buruk dari depresi yang saat itu dia derita. Beberapa kali Jelita mencoba melakukan bunuh diri tetapi selalu gagal karena ketahuan oleh Raka dan istri saya. Jelita selalu mengkhayal jika dirinya akan hidup bahagia dan tidak tersiksa lagi dengan keadaan yang menimpa batinnya bertubi-tubi. Dulu perusahaan saya hampir bangkrut tetapi karena bantuan tuan Raka perusahaan saya mulai bangkit kembali tetapi dengan syarat istri saya harus ikut ke Australia untuk membantu kesembuhan Jelita. Setelah dua tahun berjuang akhirnya Jelita kembali seperti semula walau terkadang di tengah malam Jelita sering mimpi buruk. Itulah mengapa tuan Raka sangat posesif kepada adiknya," jelas pak Ghali yang membuat tubuh Rasyad menegang.
Bagai tersambar petir Rasyad terlihat diam dengan jantung yang berdetak tak karuan dan hati yang dipenuhi rasa penyesalan yang teramat dalam.
"J-jelita depresi berat?" tanya Rasyad dengan tercekat seakan tenggorokkan tertimpa batu yang sangat besar.
Pak Ghali mengangguk dengan mantap. "Buat dia bahagia Rasyad. Jangan buat mentalnya kembali down dan menyebabkan depresinya kembali mengusai pikirannya," ucap Pak Ghali dengan mantap.
"S-saya pulang dulu Pak! Terima kasih penjelasannya!" ucap Rasyad terburu-buru.
Pak Ghali hanya melihat kepergian Rasyad dengan bingung. "Apa benar Rasyad tidak tahu semuanya? Aku rasa tidak mungkin karena keduanya saat dekat menurut cerita Nathan waktu itu. Tapi kenapa Rasyad terlihat terkejut setelah aku menjelaskannya?" monolog pak Ghali dengan pelan.
Sedangkan Rasyad membawa mobilnya seperti orang yang kesetanan. Ia terus menelepon Jelita tetapi gadis itu sama sekali tak mengangkat teleponnya. Pikiran dan hati Rasyad dipenuhi rasa penyesalan yang teramat dalam karena selama ini ia terus menuduh Jelita yang tidak-tidak. Padahal gadis itu adalah korban percobaan pemerkosaan? Kenapa dari awal ia tidak mencari tahu? Kenapa ia harus mengikuti logikanya dari pada hatinya? Rasyad memukul stirnya dengan keras dan membelokkan mobilnya ke rumah ayahnya.
Rasyad tidak melihat mobil Jelita ada di garasi itulah yang membuat pria itu semakin kalut saat memasuki rumah dengan tergesa-gesa.
"Istri saya sudah pulang Bi?" tanya Rasyad dengan tak sabaran.
"Belum Tuan!" jawab asisten rumah tangga Nathan dengan sopan.
__ADS_1
"Memangnya ada apa Tuan? Nyonya Gladis sudah siuman?" tanya pembantu tersebut.
"Belum Bi. Di mana Nazwa? Apa dia rewel?" tanya Rasyad dengan pikiran yang sudah kalut.
"Nona Nazwa sedang bersama baby sitternya Tuan. Sejak tadi nona kecil mencari nyonya Jelita," ucap pembantu tersebut yang semakin membuat Rasyad kalut.
"Di mana kamu, Jelita?" gumam Rasyad dengan lirih.
****
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tetapi Jelita belum juga pulang. Gerimis mulai datang yang membuat Rasyad sangat mengkhawatirkan istrinya. Rasyad tak mungkin bertanya kepada Raka maupun Damian, bisa-bisa dua lelaki tersebut menghajarnya yang hanya bisa Rasyad lakukan adalah menunggu kepulangan Jelita bersama dengan Nazwa yang sudah tertidur di gendongannya.
Berulang kali Rasyad melihat ke luar melalui jendela. Ia sungguh sangat khawatir dengan keadaan istrinya, Rasyad ingin meminta maaf kepada Jelita karena sudah menuduh Jelita dengan sangat jahatnya.
Deru mesin mobil memasuki perkarangan rumah membuat Rasyad bernapas dengan lega.
"Mbak Ema!" panggil Rasyad dengan tak sabaran.
Membuat perempuan muda tersebut berlari tergopoh-gopoh menghampiri Rasyad. "Ada apa Tuan?" tanya Ema, baby sitter Nazwa.
"Bawa Nazwa ke kamarnya ya!" perintah Rasyad yang langsung diangguki oleh Ema.
Setelah Nazwa di bawa oleh Ema. Rasyad langsung berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu utama rumah itu.
Ceklek....
Tubuh Jelita dan Rasyad mematung bersamaan. Rasyad melihat Jelita yang terdiam tanpa ekspresi dengan pakaian basah yang masih dipakainya.
"Dari mana?" tanya Rasyad dengan suara yang teramat lembut.
Jelita tak menjawab. Pandangan gadis itu mulai memberat dan akhirnya ia tidak bisa menopak tubuhnya kembali. Jelita terjatuh dipelukan Rasyad dengan mata yang tertutup serta bibir yang bergerak karena menggigil.
"JELITA!"
****
...Gimana part ini? ...
__ADS_1
...Mengundang emosi di hati?...
...Jangan lupa ramein yak!...