Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 112 (Fakta Yang Mengejutkan)


__ADS_3

...Hei-hei ramein part ini ya. Komentar yang banyak juga dan jangan lupa share cerita ini ya....


...Happy reading...


****


Dimas, Raka, dan Rasyad sedang berada di dalam satu ruangan yang sama ketika Raka meminta keduanya untuk ke kantornya membicarakan sesuatu yang sangat penting menyangkut Amanda yang sekarang sedang bersama dengan Damian.


Raka sudah mendapatkan laporan dari Rendy jika Amanda sedang jatuh sakit setelah mendapatkan pukulan dari kakeknya. Dan Raka sama sekali tidak akan membiarkan ini semakin berlarut.


"Ada apa menyuruh kami ke sini?" tanya Dimas membuka obrolan.


"Benar! Kamu tahu kan kami juga sibuk di kantor," ucap Rasyad menimpali dengan suara ketusnya.


Raka menghela napasnya. Lalu ia membenarkan letak duduknya dan menatap kedua lelaki yang juga sama berartinya bagi Jelita.


"Ini tentang Jelita dan mama Amanda juga keluarga saya," ucap Raka dengan pelan.


Dimas mengeraskan rahangnya saat Raka menyebut nama yang sangat membuat emosinya memuncak. "Jika membahas itu sorry gue balik ke kantor duluan," ucap Dimas dengan dingin.


"Tunggu, Dim. Kamu bisa duduk dulu dan dengarkan perkataan saya!" ucap Raka dengan tegas.


Dimas yang hendak bangun dari duduknya kembali mengurungkan niatnya. Ia menatap Raka dengan sangat serius.


"Ada apa?" tanya Dimas dengan dingin.


"Kalian dengarkan penjelasan saya dan jangan ada yang memotong ucapan saya!" ucap Raka dengan dingin dan tegas.


"Cepat katakan dan jangan bertele-tele seperti ini Raka!" ucap Rasyad dengan kesal.

__ADS_1


Raka menatap Rasyad dengan tajam. Ia tidak membalas perkataan iparnya tersebut karena ia harus menjelaskan semuanya, hingga mengalirlah cerita dari Raka yang membuat kedua pria yang mendengarkan ceritanya mengumpat dengan kasar.


"Brengs*k. Lo gak lagi bohong sama gue, kan?" tanya Dimas dengan tajam.


"Saya tidak mungkin berbohong Dimas. Itulah kenyataan yang terjadi selama ini! Mama pikir setelah menikah dengan papa saya hidupnya akan bahagia tetapi ternyata tidak semuanya bagai neraka untuknya," ucap Raka dengan datar.


Rasyad menggelengkan kepalanya. "Saya tidak habis pikir dengan kakek Agam. Lelaki tua itu begitu kejam dengan istri dan mama mertua saya. Ini tidak bisa dibiarkan, Ka! Kalian tahu kan bagaimana takutnya Jelita bertemu dengan mama Amanda," ucap Rasyad dengan serius menatap kedua lelaki yang sepertinya memiliki pikiran yang sama.


"Satu-satunya cara membuat kakek sadar jika tidak semua anak haram itu pembawa sial itu adalah sikap Jelita yang lembut kepada kakek. Mungkin itu bisa membuat kakek sedikit luluh," ucap Dimas.


"Tidak! Sikap kakek sangat keras kepala, ia tidak akan luluh dengan Jelita yang bersikap lembut. Kita harus memikirkan cara yang lebih sempurna dari pada ini. Nenek, ya Satu-satunya perempuan yang kakek takuti adalah nenek yang meminta berpisah darinya," ucap Raka yang menemukan ide.


"Apakah kita harus menelepon nenek lo?" tanya Dimas dengan serius.


Raka menggeleng. "Saya yang akan kembali ke Inggris," ucap Raka dengan tegas.


"Hanya dua minggu. Setelah itu saya akan kembali ke sini lagi! Tak mungkin saya meniggalkan istri saya terlalu lama Rasyad!" ucap Raka dengan tajam.


"Stop-stop kalian ini ingin membahas kakek Agam atau membahas yang lain sih?" ucap Dimas dengan tajam yang membuat keduanya terdiam.


"Ketika saya kembali ke Inggris. Saya yakin kakek akan menemui saya dan dengan begitu ketika saya pulang pasti kakek akan mengikuti saya ke Indonesia untuk mengawasi gerak-gerik saya dan di situlah waktu yang tepat untuk kita mempertemukan Jelita dengan kakek. Bagaimana kalian setuju?" tanya Raka kepada kedua lelaki yang mendengarkannya.


"Baiklah jika ini demi kebaikan semuanya gue setuju. Tapi maaf gue belum bisa memaafkan kesalahan mama gue! Butuh waktu yang lama untuk itu," ucap Dimas dengan jujur.


"Saya juga setuju. Demi kebahagiaan Jelita apapun akan saya lakukan!" ucap Rasyad yang membuat keduanya mengangguk setuju.


*****


"Sayang kamu di mana?" teriak Rasyad saat sampai di rumahnya dan tidak mendapati istrinya ada di rumah.

__ADS_1


"Ayah!" teriak Nazwa yang berlari mendekat ke arah Rasyad.


Rasyad berjongkok di depan anaknya. "Kenapa Wawa? Bunda mana?" tanya Rasyad yang memeluk anaknya dengan erat. Nazwa semakin menggemaskan sekali.


"Ayah, bunda sakit. Dari tadi bunda muntah-muntah gak mau makan. Wawa sama mbak sudah bujuk bunda untuk makan tapi bunda sama sekali gak mau makan," adu Nazwa yang membuat Rasyad langsung khawatir dengan keadaan istrinya.


"Ayo kita bertemu bunda!" ucap Rasyad dengan cemas. Rasyad menggendong Nazwa untuk segera bertemu dengan Jelita.


Detak jantung Rasyad berdetak tak karuan saat melihat Jelita yang sedang beristirahat dengan wajah yang pucat.


"Sayang!" panggil Rasyad dengan lirih. Ia duduk di pinggir ranjang dan mengelus pipi Jelita dengan lembut.


Jelita mengerjap ia tersenyum saat melihat suaminya sudah pulang. "Mas sudah pulang?" tanya Jelita dengan pelan.


"Sudah Sayang. Kamu kenapa hmm? Kata Wawa kamu muntah-muntah dan gak mau makan. Kita ke rumah sakit ya, muka kamu pucat sekali, Sayang!" ucap Rasyad dengan lembut dan sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya saat ini.


"Aku gak apa-apa Mas. Tolong Mas ambilkan kotak itu, di situ ada obat aku," ucap Jelita dengan tersenyum lirih.


Rasyad langsung mengambil kotak yang dikatakan sang istri. "Ini obat apa Sayang? Kamu sudah dari dokter? Sama siapa? Kenapa gak bilang ke Mas?" tanya Rasyad dengan bertubi-tubi.


"Buka saja dulu Mas. Aku lemas banget harus minum obatnya, nanti aku jelasin," ucap Jelita dengan pelan.


Rasyad menganggukkan kepalanya, ia membuka kotak yang berisikan obat istrinya. Dahi Rasyad mengerut saat ia melihat benda pipih di dalamnya.


"Ini apa?" tanya Rasyad dengan bingung tetapi Jelita hanya tersenyum kepadanya.


Lalu dengan masih kebingungan yang luar biasa Rasyad mengambil kertas yang berada di dalam kotak tersebut.


"Hallo Ayah. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ayah dan Bunda, sekarang aku ada di dalam perut Bunda loh."

__ADS_1


__ADS_2