
Faiz meraup salju dibawahnya. Anak itu yang sekarang berusaia dua belas tahun, membentuk salju itu menjadi bola.
Plak! Lemparannya telak menghantam pipi kanan Nasira yang sekarang berusia enam tahun.
"Mak Long Azizah, Bang Faiz nakal, lempar Nasira pakai salju," Nasira mengadu pada Azizah. Mereka saat ini berada di halaman depan sebuah apartment mewah di daerah Kavaklider. Halaman apartment itu ditutupi salju akan tetapi tidak terlalu tebal.
Tidak terasa sekarang ini sudah enam tahun berlalu. Kedua anak itu telah tumbuh besar sekarang.
Mereka baru kemarin sampai di Turki setelah sebelumnya ibadah umroh selama seminggu di Tanah Suci. Libur sekolah Faiz dan Nasira berlangsung selama dua minggu. Kedua orangtua mereka kemudian mengajak keduanya untuk umroh selama satu minggu di Tanah Suci. Sisa libur seminggu lagi akan mereka habiskan di Turki.
Mereka masuk Turki melalui ibu kota negaranya Ankara. Kemarin saat pesawat yang mereka naiki mendarat di bandara internasional Esenboga, Andari langsung minta kepada supir taksi yang mereka naiki untuk mengantarkan mereka ke kawasan Kavaklider. Mereka akan menginap satu malam di apartment milik Tuti. Tuti setelah lulus S1dari UAD melanjutkan S2 nya di UIN Suman Kalijaga. Saat ia melanjutkan pendidikannya ini, ia bertemu dengan seorang pemuda Turki yang melanjutkan pendidikannya di Indonesia. Pemuda itu bernama Aydin.
Setelah lulus dari pendidikan S2, Tuti dan Aydin memutuskan untuk menikah. Aydin kemudian Memboyong Tuti ke Turki.
"Faiz jangan gangu adik mu."
"Dasar tukang ngadu, ndak asyik."
"Faiz sini deh bantu bapak sama Pak Ngah Fahri angkat travel bag ke dalam bagasi mobil."
Faiz menurut. Ia menghampiri Nizar dan Fahri lalu membantu kedua orang dewasa tersebut mengangkat travel bag dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Berat ya, sini Pak Ngah saja yang masukkan travel bag itu ke dalam bagasi mobil." Fahri mengambil travel bag terakhir dari tangan Faiz. Ia kemudian memasukkan travel bag ke bagasi mobil setelah sebelumnya tadi Nizar memasukkan sebuah travel bag ke dalam bagasi mobil.
Andari sedang berbincang dengan Tuti yang sekarang sedang hamil satu bulan. Ini adalah kehamilannya yang pertama. Aydin sekarang sedang berada di Jerman karena kantor ia bekerja mengirim ia ke sana. Dua hari lagi Aydin pulang ke Turki.
"Maaf sekali aku ndak bisa menemani kalian jalan-jalan ke Istanbul."
" Tidak mengapa kan sudah ada Dimas."
Dimas adalah anak kedua dari Pak Puji. Pak Puji merupakan salah satu tetangga Fahri di Perumahan Dwi Ratna. Setalah tamat dari MAN 2 Pontianak, Dimas melanjutkan pendidikannya di Universitas Istanbul. Setelah lulus Dimas tak lantas pulang ke Indonesia. Bersama teman kampus yang lainnya, ia membuka usaha cafe di pusat kota Istanbul.
Pada saat hari terakhir mereka di Madinah, Fahri sempat menghubungi Dimas, bertanya kepada Dimas apakah bisa menjadi pemandu wisata untuk mereka saat mereka di Istanbul nanti. Dimas menyangupi permintaan dari Fahri.
"Kekencangan ndak Mak?" tanya Arini. Ia membantu memasangkan syal motif rajut di leher Nurpiah.
"Pas kok."
Suhu di Ankara diperkirakan antara lima sampai enam derajat celcius. Kota ini terletak di dataran tinggi jadi jika musim dingin tiba salju akan menutupi kota ini.
***
"Siapa Bang?" tanya Andari yang duduk di kursi tengah mobil bersama Nurpiah dan Arini. Nursiah duduk di pangkuan ibunya sedangkan Nizar serta Azizah dan juga Faiz duduk di kursi belakang mobil.
"Dimas kirim pesan mengenai hotel tempat kita menginap nanti," kata Fahri saat ia membaca SMS yang masuk di ponselnya. Ia duduk di samping supir mobil sewaan. Mobil sewaan yang mereka naiki melintasi sebuah jalan menuju Istanbul. Di luar tampak salju yang turun lagi walau tipis.
Kurang lebih empat jam kemudian mereka sampai di Istanbul. Istanbul sendiri bukan kota terdingin di Turki. Biasanya salju turun pertengahan bulan Desember. Itu pun tipis saja. Akan tetapi karena ini akhir Desember mereka dapat melihat beberapa atap bangunan serta jalanan di Istanbul yang telah tertutup salju tebal. Pohon merangas tanpa daun hanya menyisakan batang serta ranting. Pohon-pohon itu akan tumbuh kembali daunnya kembali saat Turki memasuki musim semi sekitar bulan Maret.
Dengan menggunakan Bahasa Inggris Fahri coba memberi tahu alamat hotel tempat mereka menginap selama di Istanbul kepada supir mobil sewaan mereka. Mengernyit kening supir mobil sewaan mereka. Ia betul-betul tak paham apa yang diucapkan Fahri. Terpaksa Fahri menghubungi Dimas. Melalui telpon Fahri, Dimas yang berada di seberang sana berbicara kepada supir mobil sewaan mereka dengan bahasa Turki, memberi tahu alamat hotel tempat Fahri dan keluarganya menginap selama di Istanbul.
Beberapa menit kemudian mobil sewaan yang mereka naiki berhenti di depan Acra Hotel. Hotel ini jaraknya tidak jauh dari Masjid Biru dan juga Hagia Sophia yang saling berhadapan, kurang lebih hanya dua menit
saja berjalan kaki. Di depan pintu hotel telah menunggu Dimas. Ia akan membantu Fahri sekeluarga untuk check in di hotel tersebut.
"Kemana dulu, Hagia Sophia atau Masjid Biru atau Istana Topkapi?" tanya Fahri esok paginya. Setalah sarapan, mereka memutuskan untuk menjelajah Istanbul. Di luar salju tidak lagi turun tapi menumpuk di jalan. Langit di luar pun tampak cerah. Mereka berharap salju tidak turun seperti tadi malam.
Dimas telah menunggu mereka di depan hotel. Tadi ia sempat menghubungi Fahri. Mereka kemudian memutuskan untuk terlebih dahulu mengunjungi Hagia Sophia.
__ADS_1
Mereka harus membayar empat puluh Lira atau mereka bisa membeli tiket meseum pas seharga delapan puluh Lira untuk lima hari untuk masuk ke Hagia Sophia. Karena besok mereka akan ke Cappadocia mereka memilih membayar empat puluh Lira saja.
Hagia Sophia dulunya adalah sebuah gereja yang begitu mewah. Di bangun pada masa Kaisar Byzantium. Setalah ditaklukkan oleh Sultan Mehmed Dua atau Sultan Muhammad Al Faith pada tahun seribu empat ratus lima tiga maka Hagia Sophia dirubah menjadi masjid.
Pada tahun sembilan belas tiga lima, Hagia Sophia dirubah lagi menjadi meseum atas perintah Mustafa Kemal Atatruk. Beliau adalah president pertama Turki. Di bagian depan mimbar di dalam Hagia Sophia mereka dapat melihat lukisan mozaik Bunda Maria sedang mengendong bayi Yesus di atas singasana penuh akan perhiasan. Lukisan ini memiliki tinggi lima meter, akan tetapi Karena struktur bangunan Hagia Sophia yang begitu besar dan megah membuat lukisan ini tampak kecil. Lukisan ini sendiri diapit oleh dua piringan besar berdiameter tujuh meter dengan tulisan Allah dan Muhammad. Dua piringan ini hasil karya pelukis kaligrafi Mustafa Izzet Efendi pada tahun delapan belas empat dan delapan belas empat sembilan.
Selesai mengunjungi Hagia Sophia, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke Istana Topkapi. Dari Hagia Sophia hanya membutuhkan waktu kurang lebih enam menit berjalan kaki menuju Istana Topkapi.
Untuk masuk ke dalam Istana Topkapi mereka dikenai biaya sekitar tiga puluh Lira. Mereka kemudian memutuskan untuk mengunjungi Istana Harem Topkapi. Istana Harem Topkapi merupakan bangunan khusus untuk Ibu serta istri-istri sultan. Bangunan ini terdiri dari banyak kamar. Kurang lebih tiga ratusan kamar. Untuk memasuki Istana Harem Topkapi dikenai biaya lagi sekitar lima belas Lira.
Di Istana Harem Topkapi ada sebuah ruangan dengan ornamen keramik yang sangat indah. Di ruang inilah tempat berkumpul selir-selir sultan.
Selain Istana Harem Topkapi mereka juga mengunjungi Paviliun Relikui Suci. Ruang yang dulunya kamar sultan ini menyimpan barang peninggalan nabi Muhammad SAW. Seperti surat dan jubah serta pedang nabi yang disimpan di sebuah peti terbuat dari emas. Janggut nabi yang dimasukan ke dalam tabung kaca serta relik yang di dalamnya terdapat patahan gigi nabi saat perang Uhud dan juga cetakan kaki kanan nabi. Cetakan kaki kiri nabi tersimpan di Masjid Al- Alqsa.
Sebenarnya masih banyak ruangan yang belum mereka singgahi di Istana Topkapi akan tetapi saat ini jam telah menunjukan pukul dua siang lewat lima belas menit. Mereka harus menyudahi kunjungan mereka di Istana Topkapi karena mereka belum menunaikan sholat Dzuhur.
Dari Istana Topkapi mereka menuju ke Masjid Sultan Ahmed atau orang lebih mengenal sebagai Masjid Biru. Dari Istana Topkapi menuju Masjid Biru hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua belas menit berjalan kaki.
Masjid Biru yang merupakan landmark dari Istanbul ini memiliki enam buah menara. Ada sebuah rantai besi di atas pintu gerbang masjid. Menurut cerita pada masa lampau, hanya Sultan Ahmed saja yang boleh masuk ke dalam masjid dengan menunggangi kuda. Rantai besi ini dipasang supaya saat Sultan Ahmed akan masuk ke dalam kawasan masjid, ia akan menundukkan kepalanya agar ia tidak terantuk rantai tersebut. Ini adalah simbol bahwa pemimpin harus rendah hati.
Keramik biru sebanyak kurang lebih dua puluh ribu keping menutupi lantai Masjid Biru. Keramik lantai bawah dibuat dengan desain tradisional Turki. Lantai galeri dibuat dengan desain bunga dan buah-buahan. Lantai itu ditutupi dengan karpet sutra terbaik.
Kaca jendela masjid terbuat dari kaca hias. Kaca itu berjumlah kurang lebih dua ratus buah. Kusen dan bingkai jendela dirangkai dengan potongan berbagai material pilihan. Dibentuk kemudian dengan pola mozaik.
Mihrab terbuat dari mamer yang dipahat dengan hiasan stalaktit serta panel incritve dobel di atasnya. Langit-langit masjid dihiasi kaligrafi yang sangat indah.
Sholat berjamaah yang biasa dilaksanakan
di Masjid Biru telah usai dilaksanakan beberapa jam lalu. Tak jauh di belakang mereka, terlihat beberapa orang berwajah oriental sedang mengambil foto dengan latar belakang bagian dalam Masjid Biru.
Mereka kemudian melaksankan sholat Dzuhur dan Nizar ditunjuk sebagai imam sholat karena selain bacaan sholatnya fasih, ia juga lelaki tertua diantara mereka.
"Pak lapar," kata Nizar di tengah perjalanan. Ia berjalan di samping Nizar.
"Nasira juga Pak," kata Nasira kepada Fahri yang mengendongnya.
"Ikuta-ikutan jak."
"Biarin, lagi pula Nasira memang lapar, memang Bang Faiz jak yang lapar."
Mereka kemudian singgah di sebuah restoran. Mereka memilih untuk duduk di lantai tiga. Tak jauh dari kanan mereka, dibatasi kaca transparan, mereka dapat melihat Selat Bosphorus. Beberapa kapal tampak melintas di atas permukaan Selat Bosphorus.
Menu restoran ini menyaksikan menu masakan tradisional Turki. Dimas membantu mereka dalam memilih menu di buku menu.
"Borek itu apa Mas?" tanya Andari kepada Dimas, saat Dimas bertanya apakah mereka mau memesan borek.
"Sejenis kue masin khas Turki Kak. Isinya bisa daging giling, bayam, dan keju. Dapat dilapis atau digulung seperti lasagna."
Mereka kemudian memesan tiga borek, dua kuzur tandir, satu pide , dua kumpir , lima sahlep , dan tiga teh ihlamur. Sebagai makan penutup mereka memesan lokum .
Setelah selesai makan siang, mereka melanjutkan perjalanan ke Grand Bazaar untuk belanja oleh-oleh.
Grand Bazaar merupakan pasar tertutup terbesar dan tertua di dunia. Digagas oleh Sultan Mehmed Dua. Di mulai antara tahun empat belas lima satu hingga empat belas lima enam. Pasar ini memiliki luas kurang lebih lima empat ribu persegi. Jumlah toko di Grand Bazaar diperkirakan kurang lebih empat ratus empat puluh toko. Tersebar di enam puluh empat jalan di Gran Bazaar.
Jumlah pengunjung Gran Bazaar diperkirakan setiap harinya berjumlah dua ratus lima puluh ribu orang.
"Berapa Mas?" Tanya Andari kepada Dimas. Saat ini mereka berada di salah satu toko karpet di Grand Bazaar. Andari begitu tertarik dengan motif sebuah karpet seukuran sajadah di toko tersebut. karpet itu juga cukup tebal.
__ADS_1
Dengan menggunakan Bahasa Turki, Dimas menanyakan kepada penjaga toko harga karpet tersebut.
"Enam ratus Lira Kak."
"Berapa kalau di rupiahkan?"
"Sekitar tiga juta setengah."
Andari kemudian menyuruh Dimas untuk menawar harga karpet tersebut. Akhirnya pedagang itu mau melepas karpet itu dengan harga tiga ratus Lira.
Selain karpet, mereka juga membeli kerudung khas Turki, gantungan kunci, magnet kulkas, mug serta piring dari keramik.
***
Esok harinya sekitar pukul sebelas siang, pesawat yang mereka tumpangi keluarga Fahri dan Dimas mendarat di bandar udara Erkelit. Bandara ini terletak Kayseri. Jika ke Cappadocia menggunakan bus, butuh waktu kurang lebih dua belas jam dari Istanbul akan tetapi jika menggunakan pesawat hanya butuh kurang lebih satu jam saja dari Istanbul.
Keluar dari bandara, mereka langsung diserbu supir taksi. Para supir taksi berebut saling menawarkan jasa, siap mengantar turis ke Cappadocia. Dimas menghalau para supir taksi tersebut menggunakan Bahasa Turki.
Seorang laki-laki paruh baya melambaikan tangan ke arah mereka. Laki-laki itu bernama Ahmed. Ia merupakan salah satu paman dari teman Dimas. Aslinya dari Kayseri akan tetapi ia tinggal dengan istrinya di Cappadocia.
Ahmed yang akan mengantar mereka ke Cappadocia. Kemarin di Istanbul, Dimas sempat menghubungi Ahmed, menanyakan apakah ia bersedia mengantar mereka besok ke Cappadocia. Setalah sepakat dengan uang sewa mobil yang ditawarkan Fahri, Ahmed bersedia mengantar mereka ke Cappadocia.
Sebelumnya Dimas sudah pernah bertemu dengan Ahmed. Pertemuan mereka terjadi dua tahun lalu saat Ates mengajak liburan ke Cappadocia. Ates adalah salah satu teman Dimas. Mereka satu jurusan di kampus.
Mobil yang mereka tumpangi membelah sebuah jalan menuju Cappadocia. Dari bandar udara Erkelit butuh waktu kurang lebih satu jam perjalanan menuju Cappadocia. Di luar lagi-lagi turun salju dan kali ini agak sedikit tebal. Mereka berharap cuaca besok cerah. Rencanya besok mereka akan naik balon udara.
Sebelum menuju Cave Land Hotel tempat mereka menginap selama di Cappadocia, mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu rumah makan di kawasan Avanos. Dari Kayseri ke Avanos hanya butuh waktu kurang lebih lima puluh enam menit. Mereka kemudian memesan kebab pottery serta teh apel khas Turki untuk makan siang mereka.
Selesai makan siang, mereka menuju Cave Land Hotel di daerah Goreme. Tempat wisata di Cappadocia memang banyak terdapat di kawasan Goreme. Dari Avanos menuju Goreme butuh waktu kurang lebih sebelas menit.
"Indah ya Bang," komentar Andari saat esok paginya mereka naik ke balon udara. Ia menatap pemandangan di bawah mereka. Seluruh bangunan di Cappadocia yang terbuat dari batu tertutup oleh salju. Mereka bersyukur hari ini cuaca begitu cerah jadi tidak ada halangan bagi mereka untuk naik balon udara. Di sekitar mereka terdapat beberapa balon udara yang dinaiki turis asing seperti mereka.
"Iya, indah sekali," Fahri berkomentar. Di dalam balon udara ini hanya terisi keluarga Fahri dan juga Dimas.
Andari tersenyum, menatap matahari yang mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Hatinya diliputi kebahagian saat ini. Ia memiliki keluarga yang begitu sempurna sekarang, dan ia berharap kebahagian ini terus bertahan hingga mereka terpisahkan oleh maut. Cinta mereka kini benar-benar sempurna.
SELESAI
CATATAN
Pak Ngah: panggilan untuk paman nomor dua dalam Bahasa Melayu.
Kuzur tandir: daging Donna yang digantung dan dipanggang seluruhnya secara tradisional. Disajikan dengan nasi atau yogurt atau bisa juga dengan kentang.
Pide: pizza khas Turki. Isinya daging giling, bayam dan keju.
Kumpir : kentang panggang khas Turki. Isinya mentega tawar dan keju kasar.
Sahlep: minuman yang terbuat dari tepung umbi sebuah tanaman anggrek jenis Orchis Italia. Biasa diminum pada musim dingin.
Teh Ihlamur : rebusan daun teh dan bunga pohon linden.
Lokum: lebih dikenal dengan nama Turkish Delight. Makanan penutup ini begitu kenyal dan lengket. Memiliki berbagai rasa dan isi. Biasa diberi taburan gula halus di atasnya. Sangat enak dimakan ketika baru jadi karena yang siap makan isinya lebih ringan dan banyak gula sehingga mengering lebih cepat.
Kebab pottery : kebab di dalam pot tanah liat. Bagian pot ditutupi semacam tembikar lalu dilapisi aluminium foil . Kebab ini lalu dimasak dengan cara dibakar atau dimasukan ke dalam oven hingga matang. Makan ini adalah makanan khas masyarakat Cappadocia. Kebab ini biasa dimakan bersama nasi atau roti. Kebab ini sendiri memiliki rasa pedas, kecut dan juga masam. Bahkan kebab ini adalah potongan tomat, paprika, daging sapi atau kambing, bawang merah, bawang bombay, dan beberapa sayuran seperti terong.
CATATAN TAMBAHAN
__ADS_1
Buku ini ditulis sebelum Hagia Sophia berubah kembali statusnya menjadi masjid.
Buat teman-teman yang telah membaca cerita ini. Dari memberi like hingga rate saya ucapkan terima kasih 😊