
...Hei-hei aku update lagi nih. Jangan lupa ramein dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
****
3 minggu kemudian.
Australia, 3 PM.
Australia di sore hari, tampak jelas Jelita tersenyum bahagia karena Raka selalu memberikan kebahagiaan baru untuknya, kesehatan Jelita sedikit demi sedikit membaik karena kesabaran Raka merawat adiknya tersebut. Bahkan Jelita sudah tidak banyak melamun, tidak sering histeris karena katakutan, Jelita sudah membaik walau terkadang ia juga masih melamun seorang diri. Kesehatan Jelita juga tidak lepas dari psikiater terbaik yang Raka pekerjakan untuk adik tercintanya serta kedua suster yang selalu sigap membantu Jelita di saat dirinya bekerja, walaupun begitu Raka tetap tidak tenang meninggalkan adiknya di rumah tanpa pengawasan dirinya.
Raka mempunyai perusahaan di Australia. Perusahaan yang ia dirikan seorang diri tanpa melibatkan keluarganya. Hasil dari kerja kerasnya seorang diri, sedangkan perusahaan yang berada dalam naungan keluarga besarnya ia serahkan kepada adik bungsunya. Ia tahu kepergiaannya akan membuat keluarga besarnya curiga tetapi Raka tidak peduli, sebab kesehatan adiknya lebih penting dari apapun itu. Dari awal Raka sudah menentang semua keputusan dari tua bangka itu, Raka tidak peduli jika dirinya akan dikeluarkan dari keluarga besar tersebut. Lebih baik hidup berdua dengan Jelita dan menciptakan kebahagiaan baru bersama adiknya.
Saat ini Raka baru saja pulang dari kantor. Jelita yang sedang bersama kedua susternya langsung berhambur ke pelukan Raka. Membuat Raka tersenyum, rasa lelahnya hilang sudah saat melihat kebahagiaan di wajah adiknya.
"Rindu sekali sama Kak Raka ya?" tanya Raka saat merasakan pelukan adiknya sangat erat sekali. Padahal keduanya masih bisa dihitung hari tinggal bersama tetapi Jelita sudah sangat merasa nyaman dengan Raka. Raka adalah kebahagiaan hidupnya sekarang tanpa Raka mungkin Jelita akan sangat hancur. Bagi Jelita, Raka adalah malaikat penolongnya.
__ADS_1
Jelita mengangguk dengan mantap. "Kenapa Kakak bekerja terus? Jelita mau jalan-jalan di tempat surga ini. jelita sangat bahagia berada di sini," ucap Jelita dengan polosnya.
"Kalau Jelita baik sama mbak Maya, mbak Lidia dan ibu Sofia, Kak Raka akan bawa Jelita jalan-jalan. Jelita tidak merepotkan kedua mbak yang menjaga Jelita, kan? Dan tidak membuat susah ibu Sofia?" tanya Raka menangkup wajah adiknya dengan kedua tangannya.
"Jelita gak membuat mbak Maya dan mbak Lidia repot kok. Jelita tadi mengajak main mereka. Jelita sayang ibu Sofia, ibu Sofia seperti mama Jelita," ucap Jelita dengan teekekeh. Tatapannya kembali kosong membuat Raka dengan cepat mengalihkan pembicaraan agar adiknya tidak melamun kembali.
"Oo iya? Adik Kak Raka sangat pintar sekali. Sekarang temani Kak Raka ke kamar yuk, kak Raka mau cerita sesuatu," ucap Raka dengan tersenyum.
"Ayo! Jelita suka tidur di dada Kak Raka. Rasanya nyaman sekali, Jelita seperti punya Papa," ucap Jelita dengan mengulum senangnya membuat Raka tersenyum miris.
Raka menggandeng tangan Jelita dengan erat, keduanya berjalan ke arah kamar Raka yang berada di lantai dua.
"Benar, Dok. Saya kasihan melihatnya seperti itu, kita harus bisa membuat nona muda sembuh, Dok. Dan melupakan trauma dan kesakitannya selama ini," ucap Suster yang bernama Maya tersebut.
"Kita sudah dibayar mahal di sini bahkan semua biaya kehidupan kita tuan muda yang menanggungnya jadi kita harus bisa membuat nona muda sehat dengan karakter yang lebih kuat agar orang -orang tidak mudah menjatuhkan mentalnya kembali seperti itu," ujar Suster Lidia dengan penuh tekad.
"Kalian benar. Kita tidak boleh menyia-menyiakan kepercayaan tuan muda, kita harus bisa membuat nona muda kembali sehat dan menemukan kebahagiaannya di sini," ucap Ibu Sofia dengan tegas.
__ADS_1
Rendy yang dari tadi mendengar ucapan ketiganya tersenyum tipis karena ia memang tidak salah memilih dokter dan suster untuk merawat majikannya. "Semoga nona muda bahagia. Aamiin," gumam Rendy di dalam hatinya.
****
Di dalam kamar Raka. Jelita langsung membaringkan tubuhnya dengan lengan Raka yang menjadi bantalnya, entah mengapa jika bersama Raka rasa traumanya langsung hilang, mungkin karena Raka kakak kandungnya yang membuat Jelita merasa tidak takut.
Raka memiringkan tubuhnya agar leluasa menatap wajah cantik adiknya yang sudah terlihat kembali berisi. "Jelita sayang Kak Raka tidak?" tanya Raka dengan memainkan rambut adiknya.
Jelita mengangguk mendengar pertanyaan sang kakak. "Sayang banget!" ucap Jelita dengan tulus.
"Kalau sayang Kak Raka, Jelita harus bahagia di sini bersama Kak Raka ya! Jelita harus jadi gadis yang kuat, tidak boleh takut dengan lelaki, kalau ada yang menyakiti Jelita lawan saja mereka jangan pernah menjadi lemah," ujar Raka dengan tegas.
Jelita hanya mengangguk saja sebab di dalam diri Jelita masih menyimpan ketakutan yang luar biasa ketika melihat lelaki asing berada di dekatnya bahkan menyentuhnya walau hanya sekedar bersalaman reaksi Jelita akan berbeda.
"Kakak sayang Jelita. Bahkan sangat sayang lebih dari nyawa kakak sendiri, jika Jelita terluka maka Kak Raka lah yang lebih terluka," gumam Raka mengelus pipi Jelita tetapi Jelita tak lagi meresponnya tatapannya sudah kosong kembali membuat Raka menatap sendu adiknya.
"Jelita!" panggil Raka dengan serak tetapi Jelita tidak bergeming tatapannya kosong lurus ke depan.
__ADS_1
Raka mengusap wajahnya dengan kasar. "Ya Tuhan sampai kapan adikku terus seperti ini?" tanya Raka dengan lirih.