Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 78~ (Pernikahan Tanpa Cinta?)


__ADS_3

...Happy reading...


*****


Jelita menatap nanar tubuh tak berdaya Gladis yang dipenuhi alat medis sekarang. Berkali-kali ia menghela napas beratnya, pernikahannya dengan Rasyad akan berlangsung sekarang. Apakah pernikahan yang dilakukan mereka adalah pernikahan tanpa cinta? Jika mengingat rasa itu masih tertinggal di hatinya walau sedikit apakah masih bisa disebut pernikahan tanpa cinta? Tetapi walaupun begitu Jelita tidak ingin terlihat lemah di depan Rasyad maupun yang lainnya.


"Maafkan Ayah yang tidak bisa melakukan apa-apa, Nak," gumam Nathan yang meminta maaf kepada Jelita saat ini.


"Ayah tidak salah. Keadaan yang memaksa kita agar berbuat seperti ini," sahut Jelita dengan tersenyum.


Nathan mengelus kepala Jelita dengan sayang dan mengecup kening Jelita begitu lembut. "Ayah yakin Rasyad tidak sepenuhnya membencimu, Nak. Sadarkan dia dan beritahu semuanya apa yang terjadi tiga tahun lalu," ucap Nathan dengan tulus karena ia sudah tahu semuanya ketika Raka menjelaskan kepada dirinya.


"Jelita ingin kak Rasyad yang mencari tahu sendiri, Yah. Karena percuma saja Jelita menjelaskan jika kak Rasyad tetap tidak mau mendengarkan Jelita," ucap Jelita dengan tersenyum.


Ceklek...


"Penghulu sudah datang," ucap Rasyad dengan ekspresi yang sama sekali tidak terbaca.


Jelita menatap Rasyad dengan datar dan ia tersenyum ketika kedua kakaknya dan adiknya datang bersama dengan yang lainnya. Jelita menghampiri ketiga lelaki yang amat sangat berharga di kehidupannya.


"Damian!" panggil Jelita ketika melihat adiknya seperti tidak rela ia menikah. Jelita memeluk adiknya dengan erat.


"Baru juga kita ketemu, Kak. Dan sekarang kakak sudah menikah," gumam Damian dengan sendu. "Mian belum puas tinggal sama Kakak," ucap Damian lagi.


"Kamu bisa berkunjung nanti," sahut Jelita dengan lembut.


"Hmmm...bilang sama Mian ketika lelaki itu menyakiti Kakak, Mian akan menghajarnya," ucap Damian dengan dingin.


Jelita hanya tersenyum menanggapi ucapan sang adik lalu ia berpindah memeluk Dimas dengan erat yang dibalas tak kalah erat juga dengan Dimas. "Jaga diri kamu baik-baik, Sayang. Ketika dia menyakitimu balas dengan seribu kesakitan juga, buat lelaki itu menyesal telah menyakiti berlian Kakak," bisik Dimas dengan serius.


"Iya Kak pasti. Jelita bukan lagi gadis yang lemah," ucap Jelita dengan tenang.


"Kak Arieska. Cepat minta kak Dimas untuk menikahi Kakak ya, aku tidak mau keponakanku duluan hadir sebelum kalian menikah," ucap Jelita dengan terkekeh.


Arieska tersenyum malu. "Akan aku buat masa depannya hilang jika dia lama menikahiku," jawab Arieska dengan pelan. "Berbahagialah, Dek. Beri lelaki itu pelajaran yang setimpal, ini adalah waktu yang tepat," bisik Arieska dengan menyeringai jahat.


"Tentu!" Jelita tersenyum dan beralih kepada Raka yang sejak tadi terlihat diam.

__ADS_1


"Kak... Jangan khawatir aku akan baik-baik saja. Kakak bisa membunuhnya jika sedikit saja kulitku lecet," bisik Jelita di telinga Raka.


"Ya Kakak akan menguliti tubuhnya!" ucap Raka dengan dingin.


"Sebaiknya pernikahan ini segera dilaksanakan karena kondisi pasien yang belum bisa dikunjungi orang banyak," ucap dokter yang sejak tadi memantau kesehatan Gladis.


Rasyad dan Jelita mengangguk bersamaan. Pernikahan mereka dilakukan secara sederhana di ruang ICU dimana Gladis dirawat. Penghulu sudah berada di depan mereka bersama dengan Raka karena Raka lah yang akan menjadi wali nikah adik kesayangannya.


Rasyad meringis karena genggaman tangan Raka terasa sangat kuat seperti ingin mematahkan tangannya, dari matanya Raka seperti berbicara jika Rasyad menyakiti adiknya maka tamatlah riwayat lelaki itu di tangannya. Aura permusuhan terlihat Jelas di mata Raka hingga suara ijab kabul terdengar di ruangan tersebut dan kata sah sudah terucap di sana, mereka berharap setelah ini keadaan Gladis mulai membaik.


*****


Raka mengendorkan dasinya dengan kasar. Menikahkan adiknya dengan Rasyad membuat darahnya mendidih sejak tadi, jika bukan di rumah sakit Raka sudah menonjok wajah lelaki itu.


Saat ini Raka sudah pulang bersama dengan Rendy bahkan ia membawa Erina bersamanya. Ketiganya berada di rumah Raka yang lain karena Raka tidak ingin keluarganya dan keluarga Erina tahu jika ia akan menikah dengan Erina secara siri.


"Sudah kamu siapkan berkas pernikahan saya dengan Erina, Ren?" tanya Raka dengan datar.


"Sudah Tuan Muda. Penghulu yang akan menikahkan anda juga sudah datang," ucap Rendy dengan sopan.


...Surat Perjanjian Nikah Siri...


...Kami yang bertanda tangan dibawah ini. Pihak pertama adalah suami berhak mengatur seluruh kehidupan pihak kedua (istri) yang dinikahi secara siri, pihak kedua tidak boleh menolak apapun yang diinginkan oleh pihak kedua....


...Berikut sesuatu yang harus dipatuhi oleh pihak kedua :...


...1. Sebagai seorang istri yang sah di mata agama harus melayani suami dengan sebaik-baiknya....


...2. Dalam pernikahan siri ini pihak kedua tidak boleh mengatakan kepada keluarganya tentang pernikahannya dengan pihak pertama....


...3. Selama pernikahan siri ini berlangsung pihak kedua dilarang keras berteman dengan seorang lelaki manapun....


...4. Dalam pernikahan ini tidak ada kedua belah pihak yang merasa dirugikan....


...5. Pihak pertama boleh meminta haknya kapanpun kepada pihak kedua....


Erina membacanya depan pelan. Tangannya gemetar membaca surat perjanjian yang harus ia patuhi, sebentar lagi ia akan menjadi istri dari seorang Raka yang sifatnya lebih dingin dari pada Nathan maupun Rasyad. Jika Nathan dan Rasyad adalah kulkas dua pintu maka Raka adalah kulkas empat pintu.

__ADS_1


"Bagaimana hmm? Kamu tidak bisa mundur lagi Erina! Dan satu lagi kamu harus tinggal di rumah ini! Kamu dilarang bertemu dengan keluargamu kecuali atas izin saya," ucap Raka dengan dingin.


"Tapi Kak. Jika aku merindukan ayah dan bunda bagaimana? Alasan apa yang akan aku berikan ketika aku tinggal tinggal di rumah ayah lagi?" tanya Erina dengan pelan. Ia memainkan kuku jarinya ketika ia merasa takut.


"Otakmu berfungsi dengan baik, kan? Maka pikirkan alasannya sendiri karena saya tidak mau tahu kamu akan tetap tinggal di sini dan saya tidak mengizinkan kamu pergi dari rumah ini. Selangkah saja kamu pergi tanpa izin saya maka bersiaplah dengan hukuman yang akan saya berikan kepada kamu, Erina. Dan ingat dari awal kamu yang memintanya dan saya dengan senang hati mengabulkan permintaan kamu. Terima konsekuensi dengan kuputusan yang kamu buat sendiri!" gertak Raka dengan tajam.


"I-iya Kak. Maaf!" gumam Erina dengan takut.


Rendy merasa iba dengan Erina sekarang. Erina seperti mengumpankan dirinya kepada singa jantan yang sangat buas.


"Percepat pernikahan kami sekarang, Ren!" ucap Raka dengan dingin.


"Baik Tuan Muda!"


"Dan kamu duduk di samping saya. Kurang dari sepuluh menit lagi kita akan menikah!" ucap Raka dengan dingin.


Erina duduk di samping Raka dengan degup jantung yang sangat keras antara takut, sedih, senang semua bercampur menjadi satu. Gadis itu menahan napasnya saat Rendy kembali dengan bersama penghulu yang akan menikahkan dirinya dengan Raka.


"Apa anda yakin ingin menikah siri saja? Bukannya sebaiknya menikah sah di mata hukum dan agama lebih baik?" tanya penghulu tersebut sebelum menikahkan keduanya.


"Ini sudah keinginan kami, Pak. Nikahkan saja kami secepatnya!" ucap Raka dengan datar.


"Tapi..."


"Jangan banyak bicara! Cepat nikahkan kami sekarang!" sahut Raka dengan tajam.


Penghulu tersebut tidak bisa berkutik lagi saat Raka menatapnya dengan tajam. Raka menyeringai menatap Erina yang berada di sebelahnya. Dalam hitungan menit Erina sudah menjadi istri sahnya di mata agama.


"Bersiaplah setelah ini saya akan meminta hak saya. Jangan coba-coba untuk menghindar!"


****


Mau tanya mental masih aman?


Penasaran malam pertama Raka?


Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya.

__ADS_1


__ADS_2