
...Happy reading...
*****
"Dimana Jelita? Kata ayah kalian sudah menikah kok kamu sendirian?" tanya Gladis dengan mata yang mencari keberadaan Jelita.
"J-jelita...Jelita...." Rasyad tidak bisa menjawab pertanyaan bundanya bibirnya seakan keluh untuk memberitahu keberadaan Jelita sekarang.
"Aku di sini Bunda!" ucap sebuah suara yang membuat Rasyad bahagia sekaligus lega akhirnya ia bisa melihat sang istri setelah dua hari tidak bertemu.
Jelita menghampiri Gladis dan juga Nathan. Ia menatap Rasyad dengan sekilas, sebenarnya ia kasihan dengan Rasyad, terlihat jelas sekali jika lelaki itu tidak bisa tidur dengan nyenyak matanya sayu dan itu mungkin karena rasa bersalahnya kepada Jelita.
Tanpa membuang kesempatan yang ada Rasyad langsung memeluk Jelita dari samping dan mencium puncak kepala gadis itu dengan sayang. Jelita tak bisa menolak yang hanya bisa ia lakukan adalah tersenyum canggung ketika Rasyad memperlakukannya seperti itu di depan kedua orang tua mereka.
"Kalian bahagia?" tanya Gladis dengan pelan. Ia berharap pernikahan anaknya kali ini akan berjalan dengan baik karena ia tahu Jelita adalah gadis yang sangat baik berbeda dengan mantan menantunya dulu.
"Bahagia banget Bunda. Andai saja aku tahu kebenarannya sejak dulu mungkin aku sudah menikahi Jelita saat itu juga," jawab Rasyad dengan ketegasan yang terdengar dari kata-katanya.
"Bunda tahu kesalahan Rasyad padamu sangat banyak, Nak. Tetapi Bunda juga tahu Rasyad akan berubah, maka beri kesempatan untuk Rasyad ya! Maafkan semua kesalahannya. Bunda juga tahu di antara kalian masing-masing masih memiliki rasa yang sama, mulailah semua dari awal," ucap Gladis dengan lirih.
Nathan yang mendengar ucapan tulus istrinya hanya bisa tersenyum dengan mengelus punggung tangan Gladis dengan lembut.
"Iya Bunda," jawab Jelita dengan tersenyum.
Rasyad tahu jawaban itu belum dari hati sang istri tetapi setidaknya Rasyad bersyukur ketika Jelita tidak menolak untuk memulai semuanya dari awal.
"Kami akan melangsungkan resepsi pernikahan bersamaan dengan Dimas dan juga Arieska. Bagaimana Bunda setuju?" tanya Rasyad dengan antusias.
"Mas bunda belum sembuh total!" tolak Jelita dengan cepat. Ia beralibi jika sang bunda belum sehat benar agar mereka tak tahu jika Jelita menolak dengan keras keinginan Rasyad. Ia tak mau ada resepsi ketika pernikahannya saja entah berakhir seperti apa nantinya.
"Bunda setuju. Kapan Dimas akan melangsungkan pernikahannya?" ucap Gladis dengan bahagia.
"Dua minggu lagi kan, Sayang?" tanya Rasyad kepada Jelita. Rasyad tahu informasi ini dari Dimas sendiri sejak mereka bertemu kemarin.
__ADS_1
"Makanya Bunda harus sehat agar bisa melihat anak bunda seperti raja dan ratu di pelaminan," ujar Rasyad dengan tulus.
"Bunda pasti sehat untuk melihat kebahagiaan kalian," jawab Gladis dengan terharu.
"Ya Tuhan, istriku sangat bahagia dengan pernikahan Rasyad dan Jelita. Berikan kebahagiaan untuk pernikahan keduanya agar aku bisa melihat senyum indah istriku kembali. Sudah cukup ia terbaring lemah di rumah sakit," gumam Nathan di dalam hati.
"Kemana pun kamu pergi kamu akan kembali kepadaku Sayang. Karena apa? Karena kita memang ditakdirkan bersama. Resepsi pernikahan kita memang sudah aku rencanakan sejak aku tahu jika Dimas dan Arieska sebentar lagi akan menikah agar kamu tidak bisa lepas dariku begitu saja. Maafkan kebodohanku dulu Jelita," ucap Rasyad di dalam hati.
"Seperti inikah caranya kamu mengikatku, Mas? Baiklah akan aku lihat sejauh mana perjuanganmu untuk membuatku bahagia. Karena apa? Karena sejujurnya aku juga masih mencintaimu dan berharap pernikahan kita akan bahagia seperti apa yang aku impikan dulu," gumam Jelita di dalam hati.
*****
Sejak dua hari ini Raka sama sekali tidak fokus dengan pekerjaannya. Maka dari itu ketika ia tahu mertuanya sudah sadar, ia langsung menuju rumah sakit karena ia tahu Erina berada di sana. Ternyata berpisah dua hari dengan Erina membuat hatinya benar-benar tidak tenang. Kenapa Raka harus merasakan perasaan seperti ini yang dirinya sendiri tidak tahu mengapa bisa begitu.
"Keluar sebentar!"
Itulah pesan yang Raka kirimkan untuk Erna ketika ia sudah sampai di rumah sakit. Raka bersandar dengan bertumpu pada kedua tangannya, ia melihat ke arah luar Jendela menunggu kedatangan Erina yang menurutnya sangat lama. Ketika ia melihat Erina berjalan mendekat ke arah mobilnya barulah Raka menyunggingkan senyuman tipisnya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Raka dengan datar saat Erina memasuki mobil.
"Lalu? Apa kamu sudah mengatakan jika tidak tinggal bersama dengan mereka? Saya sudah sangat lama menunggu dan kamu selalu mengulur waktu akan hal itu," sentak Raka dengan tajam.
Erina menatap Raka dengan dalam membuat lelaki itu terdiam menatap manik mata Erina yang terlihat terluka. "Besok aku akan mengatakannya," jawab Erina pada akhirnya walau tadi ia ingin protes karena sang ibu baru saja sadar tetapi Raka sudah mendesaknya.
"Kita pulang!" ucap Raka dengan cepat dan entah mengapa Raka sudah sangat merindukan tubuh Erina.
Erina hanya diam, Ia melihat ke arah samping jendela mobil Raka. Percakapan sang bunda dengannya dan yang lainnya membuat Erina murung. Sebentar lagi Rasyad dan Jelita akan menggelar resepsi pernikahan dengan sangat mewah bahkan setelah Rasyad, Rasyid juga akan berencana menikah dengan Gea. Itu artinya kedua kakaknya akan bahagia bersama dengan pasangannya, sedangkan dirinya masih tak tahu bahagia itu kapan hadir dipernikahannya dengan Raka. Walau mereka hanya menikah siri tetap saja Erina berharap bahagia hidup bersama dengan Raka bahkan ia berharap Raka akan menikahinya secara resmi. Tetapi harapan itu apa mungkin terjadi?
Raka hanya melirik sekilas ke arah istrinya. Kenapa Erina lebih pendiam tidak seperti biasanya? Itu membuat bibir Raka seakan gatal ingin bertanya kepada Erina tetapi niat itu ia urungkan saat mereka sudah sampai di halaman rumah mewah milik Raka.
"Turun!" ucap Raka dengan datar
"T-turun?" tanya Erina dengan bingung.
__ADS_1
Raka menatap Erina tajam saat melihat raut wajah bingung dari istrinya. Erina menatap sekelilingnya untuk melihat mereka sudah berada di mana. Erina mendesah lega saat ia ternyata sudah berada di rumah Raka yang dipersiapkan untuknya.
"Kamu tuli atau bagaimana? Saya bilang turun kenapa masih di dalam mobil?" ucap Raka dengan tajam yang membuat Erina langsung dengan cepat keluar dari mobil dan mengikuti langkah Raka masuk ke dalam rumah.
Kemana semua pelayan? Kenapa tampak sepi sekali? Erina yang masih bingung dan bertanya-tanya dibuat terkejut akan aksi Raka yang mendorong tubuhnya ke dinding dan menghimpit tubuhnya dengan tubuh kekar lelaki itu.
"Saya mau kamu!" bisik Raka dengan serak membuat Erina gugup.
Cup...
Tanpa meminta persetujuan Raka langsung mencium Erina dengan dalam. "Semua pelayan saya liburkan hari ini. Jadi layani saya dengan baik," bisik Raka dengan serak.
Tanpa bisa menolak Erina mengangguk setuju, ia mulai membalas ciuman Raka yang sangat menuntut kepadanya.
"Ahhh..." Erina mendesah kala bibir basah Raka menggigit kulit lehernya dengan gemas hingga meninggalkan kissmask di sana.
Kaki Erina terangkat ke atas paha Raka. Tangan Raka mengelus paha Erina dengan gerakan perlahan yang membuat gadis itu meremang akan sentuhan Raka.
Erina menatap sayu ke arah Raka yang sudah melepas semua kain penutup tubuhnya. Bahkan lelaki itu membuang pakaian mereka sembarangan arah.
"Ahhh...Massss!" teriak Erina tertahan saat Raka mulai memasukinya dengan perlahan.
Erina menggigit bibir bawahnya saat Raka bergerak dengan semangat. Erina merasa kakinya sudah pegal karena bercinta dengan Raka dalam posisi berdiri, dan tanpa melepas penyatuan mereka Raka menggendong Erina menuju kamar mereka.
Kembali Raka melanjutkan aksinya di sana. Ia rindu dengan tubuh ini! Ia juga rindu pada pemilik tubuh indah ini hingga Raka benar-benar kehilangan akal sehatnya karena merasakan nikmatnya tubuh Erina.
"Ahhhhh...." Erina terus dibuat mendesah oleh junior Raka yang sangat betah berada di dalam bahkan belum ada tanda-tanda untuk menumpahkan raharnya.
Tubuh Erina bergetar dengan hebat saat mendapatkan pelepasannya. Napasnya memberat kala gelombang kenikmatan itu datang menerjang tubuhnya. Raka juga merasakan nikmat yang sama saat miliknya seperti terjepit di dalam sana. Ia menunggu Erina menikmati sisa-sisa kenikmatannya dengan melahap bukit kembar Erina dengan gemas. Setelah itu ia bergerak dengan liar yang membuat Erina tak kuasa untuk menahan suara desahannya.
"Ouhhh...." Junior Raka memuntahkan laharnya di rahim Erina. Ia ambruk di tubuh Erina dengan keringat yang membasahi keduanya serta napas keduanya yang sama sekali tidak beraturan.
"Saya tidak bisa jauh darimu!"
__ADS_1
Deg....