
...Happy reading...
***
Suasana rumah yang tadinya terlihat sepi kini terdengar sedikit ramai karena langkah kaki tegas dari Raka yang membawa adiknya qpulang ke rumah mereka.
"Kak Raka kenapa menarik kak Jelita seperti itu?" tanya Damian dengan dingin.
Raka tak bergeming ia masih menatap Jelita dengan datar. "Sekarang apa yang kamu pikirkan sih, Dek? Kenapa kamu hampir goyah dengan permintaan ibu angkat kamu itu? Kalau saja tadi Kakak tidak datang mungkin kamu langsung menyetujui permintaan gila mereka!" cerca Raka dengan geram.
"Bunda sedang sakit, Kak! A-aku tidak mungkin tega menolaknya. Tapi bukan berarti aku masih mencintai kak Rasyad, sedikit pun rasa cinta itu tidak tertinggal di hatiku!" ucap Jelita dengan tegas.
"Tapi tidak dengan menerima pernikahan itu!" ucap Raka dengan dingin.
"Ini ada apa sih, Kak? Pernikahan? Pernikahan siapa?" tanya Damian dengan bingung.
"Kakak kesayangan kamu itu hampir saja menerima pernikahan dari lelaki yang sangat bodoh!" jawab Raka dengan dingin.
"Kak, aku menerima pernikahan itu bukan berarti aku masih mencintainya. Tolong mengerti Kak! Aku hanya membalas kasih sayang bunda Gladis karena sejak dulu dia yang memberikan kasih sayangnya dengan tulus," ucap Jelita dengan datar.
"Apapun alasannya Kakak tetap tidak setuju. Sekarang kamu masuk ke kamar!" ujar Raka dengan dingin.
Jelita menghembuskan napasnya dengan kasar. Jujur ia hendak menerima pernikahannya dengan Rasyad hanya karena ibu angkatnya bukan karena ia masih mencintai Rasyad. Ia tidak akan memakai hati dan perasaannya lagi untuk urusan cinta seperti itu walau masih ada rasa yang tertinggal di hatinya untuk Rasyad tetapi rasa kecewanya kepada Rasyad jauh lebih besar dari pada rasa cintanya sendiri.
"Masuk ke kamar kamu Jelita dan jangan diam seperti ini!" sentak Raka dengan tajam membuat Jelita langsung berjalan ke arah kamarnya tanpa mengucapkan suatu apapun kepada kakak dan adiknya.
"Tidak seharusnya kakak bersikap seperti itu kepada kak Jelita!" ucap Damian dengan pelan.
Raka mengusap wajahnya dengan kasar saat ini pikirannya sangat kacau memikirkan adik perempuannya yang selalu ia perjuangkan kebahagiaannya.
"Kakak tidak mau dia salah langkah!" ucap Raka dengan mendaratkan bokongnya di sofa.
"Rendy!" panggil Raka dengan berteriak.
"Iya Tuan Muda!" jawab Rendy dengan sedikit berlari.
"Telepon Dimas sekarang! Suruh dia membawa kekasihnya ke rumah ini untuk menenangkan Jelita!" ucap Raka dengan tegas.
"Baik Tuan Muda!" ucap Rendy dengan hormat. Rendy langsung menelepon Dimas dengan cepat sebelum tuan mudanya kembali mengeluarkan taringnya.
__ADS_1
*****
Sedangkan Dimas yang masih berada di kantornya masih sibuk bermesraan dengan Arieska. Kekasihnya itu baru saja datang setelah mengecek pabrik kosmetik miliknya yang semakin diminati oleh kaum wanita dan pria yang ada di Indonesia bahkan Dimas juga memakai rangkaian skincare milik Arieska walau dirinya tidak mengerti sebelumnya.
"Duduk di sini!" pinta Dimas dengan menepuk pahanya agar Arieska duduk di pangkuannya.
Dimas menarik Arieska dengan cepat agar gadis itu segera duduk di pangkuannya. Dimas memejamkan matanya mengirup wangi rambut Arieska yang sangat ia sukai. "Papa dan mama sudah datang?" tanya Dimas dengan memeluk pinggang Arieska.
"Belum. Kedatangan mereka ditunda seminggu lagi Mas," jawab Arieska dengan lembut.
"Baiklah waktu seminggu sudah cukup untuk mempersiapkan semua perjuangan Mas untuk menikahi kamu," ucap Dimas dengan mengelus pipi Arieska dengan lembut.
Arieska tersenyum membalas senyuman manis kekasihnya. Gadis itu memejamkan matanya kala hembusan napas Dimas semakin dekat dengannya, bibir mereka hampir bertemu tetapi bunyi ponsel Dimas membuat Dimas mengumpat.
"Dasar pengganggu!" umpat Dimas dengan kesal membuat Arieska terkekeh.
"Angkat dulu Mas! Siapa tahu penting," ucap Arieska menenangkan kekasihnya. Dimas mengangguk dan mengangkat telepon dari Rendy walau sebenarnya hatinya kesal karena Rendy telah mengganggu kesenangannya.
"Ada apa?" tanya Dimas dengan dingin.
"Maaf Tuan. Tuan Raka menyuruh anda dan kekasih anda untuk datang ke rumah," ucap Rendy dengan tegas.
"Tidak bisa Tuan karena ini menyangkut nona muda. Nona Muda sedang mengalami masalah dan hampir membuat tuan muda murka," jawab Rendy dengan tenang.
"Apa yang terjadi pada adikku?" tanya Dimas dengan cemas membuat Arieska juga ikut cemas.
"Ada apa Mas?" tanya Arieska tanpa suara. Dimas menjawab pertanyaan Arieska dengan gelengan kepala yang membuat Arieska menanti penjelasan dari Dimas.
"Sebaiknya anda dan kekasih anda cepat datang kemari Tuan. Nanti Tuan Muda yang akan menjelaskan semuanya," ucap Rendy.
"Baiklah kami akan segera ke sana!" ucap Dimas dengan cepat. Dimas langsung mematikan sambungan teleponnya, ia menatap Arieska dengan dalam.
"Kita ke rumah Raka sekarang, Sayang!" ucap Dimas dengan cepat.
Tidak banyak tanya Arieska langsung menganggukkan kepalanya. Arieska sepertinya mengerti situasi sekarang yang menyebabkan Dimas terlihat khawatir.
****
"Tuan Muda ada seorang gadis yang ingin menemui anda," ucap Zack saat menemui Raka yang masih duduk di sofa ditemani oleh Rendy sedangkan Damian sudah menyusul Jelita ke kamar.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Raka dengan mengeryitkan kedua alisnya. Gadis? Raka tidak pernah dekat dengan gadis manapun lalu sekarang ada yang ingin bertemu dengannya. Siapa gadis itu?
"Gadis itu mengaku bernama Erina, Tuan Muda!" jawab Zack dengan sopan
Raka menyeringai setelah Zack menyebutkan nama gadis yang akan menemui. "Suruh gadis itu ke ruangan kerja saya!" ucap Raka dengan seringai iblisnya.
"Baik Tuan Muda! Permisi!"
Raka menganggukkan kepalanya. "Jelaskan apa yang terjadi pada Dimas setelah lelaki itu datang ke sini. Saya akan menemui Erina sebentar," ucap Raka dengan tegas.
"Baik Tuan Muda!" jawab Rendy dengan sopan.
Setelah memerintahkan Rendy sesuai dengan apa yang ia inginkan Raka langsung melenggang pergi ke dalam ruang kerjanya menunggu Erina yang akan menemuinya. Entah apa yang akan gadis itu bicarakan tetapi Raka merasa sangat penasaran tentang kedatangan gadis itu ke rumahnya.
Tokk..tokk..
"Masuk!" ucap Raka dengan tegas.
Erina yang terlihat kacau langsung masuk ke ruang kerja Raka setelah diperintahkan oleh pria itu.
"K-kak Raka," ucap Erina dengan lirih.
"Ada apa kau menemuiku?" tanya Raka dengan datar menatap Erina yang terlihat kacau, entah mengapa hati Raka sakit melihatnya. Mata sembab gadis itu membuat Raka tidak tega.
Erina langsung berlutut di hadapan Raka yang membuat pria itu terkejut bukan main dengan apa yang Erina lakukan sekarang. "Bangun! Apa yang kau lakukan hah?" sentak Raka yang merasa risih.
"Hiks...hiks....a-aku tidak mau kehilangan bunda, Kak. Keadaan bunda saat ini kritis setelah kepergian kalian. Aku mohon Kak tolong kabulkan permintaan Bunda!" pinta Erina dengan tangisan pilunya. "Aku mohon!" ucap Erina dengan menangkupkan kedua tangannya. Air matanya mengalis dengan deras saat ini.
"Tidak bisa! Sampai mati pun aku tidak akan mengabulkan permintaan bunda kalian!" ucap Raka dengan tajam. Giginya bergemelutuk geram, menahan marahnya yang kembali mencuat.
"Aku mohon Kak! Tolong aku sekali ini saja! Hiks...hiks...bagaimana aku hidup tanpa bunda? Aku tidak bisa kehilangan ibu yang sangat baik di dalam hidupku. Hidupku akan hancur jika bunda pergi meninggalkanku Kak," pinta Erina dengan pilu.
"Bagaimana caranya agar kak Raka mau menyetujui permintaan bunda. A-aku akan sujud di kaki Kakak sekarang. Tolong aku Kak! Aku hanyalah seorang anak yang ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Hiks...hikss...a-aku tidak bisa kehilangannya!" racau Erina dengan pilu.
"A-aku akan melakukan apapun agar kak Raka mau menyetujui permintaan bunda yang mungkin akan menjadi permintaan terakhirnya. Perasaan ayah sangat sedih sekarang melihat tubuh bunda dipenuhi alat medis. Hiks...hikss...tolong Kak!" ucap Erina berlutut di kaki Raka bahkan mencium kaki Raka yang tertutup sepatu tersebut. Erina sudah sangat kacau sekarang ia tidak bisa berpikir dengan jernih lagi karena mengingat kondisi ibunya yang kapan pun bisa meninggalkannya.
Raka menatap dingin ke arah Erina yang masih bersujud di bawah kakinya. "Apapun?" tanya Raka dengan tajam. "Apa jaminannya jika saya menyetujui pernikahan itu? Apa jaminannya yang kamu berikan untuk kebahagiaan adik saya jika menikah dengan kakakmu?" cerca Raka kepada Erina dengan banyak pertanyaan.
"A-aku jaminannya Kak! A-aku rela menjadi wanita simpanan Kak Raka yang akan memuaskan ranjang Kak Raka! A-aku dan tubuhku jaminan kebahagiaan Jelita!"
__ADS_1