
...Happy reading...
****
Dimas sudah cuti bekerja sejak seminggu yang lalu karena ia takut Arieska akan melahirkan ketika dirinya tidak ada di rumah. Dari pagi Arieska sudah merasakan sakit pada perutnya tetapi ia tahan dan tidak mengatakannya kepada sang suami.
Menjelang Isya Arieska sudah tidak bisa menahan kontraksi pada perutnya. "Arghhh...M-mas..." panggil Arieska dengan lirih.
Dimas yang berada di dapur langsung berlari ke arah Arieska yang berada di ruang TV. Dimas mendengar suara Arieska begitu lirih seakan menahan kesakitan dan tanpa kata Dimas langsung menghampiri sang istri yang ternyata sudah menahan sakit hingga bulir-bulir keringat sudah menetes dari dahi sang istri.
"Ya Allah ketuban kamu pecah, Sayang!" ucap Dimas dengan panik.
Arieska melihat ke arah pahanya dan benar saja air ketubannya sudah pecah. "S-sakit Mas," lirih Arieska yang memang merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Dimas dengan cepat. Dimas membopong istrinya dengan susah payah keluar dsri rumah untuk memasuki mobil.
Setelah mendudukkan Arieska dengan nyaman, Dimas memutari mobilnya dan masuk ke mobil, ia mengendarai mobilnya sendiri karena supir yang biasa mengantarkannya juga sedang cuti.
"Sabar ya, Sayang," ucap Dimas dengan cemas.
Dimas menggenggam tangan sang istri dengan erat dan menciuminya dengan lembut. Air muka Dimas tak bisa lagi menyembunyikan kekhawatiran terhadap sang istri yang terus mengeluh sakit pada perutnya. Hatinya di landa gelisah karena merasa mobilnya berjalan dengan sangat lambat.
"A-aku tidak kuat lagi Mas," ucap Arieska dengan napas yang terengah-engah.
"Kamu kuat, Sayang. Kamu pasti kuat," ucap Dimas dengan suara serak menahan tangisnya.
Dimas kalut melihat sang istri terus merintih kesakitan tetapi ia harus bisa mrmbsgi fokusnya dalam mengendarai mobilnya, ia tidak mau terjadi sesuatu dengan sang istri dan anak mereka.
Setelah menempuh Perjalanan yang lumayan lama akhirnya Dimas dan Arieska sudah ssmpai di rumah sakit. "Dokter tolong istri saya mau melahirkan," teriak Dimas dengan kalut.
Tenaga medis langsung membantu Dimas untuk membopong Arieska. "Ketuban istri Bapak sudah pecah. Kita harus cepat membawa istri Bapak ke ruang persalinan saya takut bayi anda menelan air ketuban," ucap dokter dengan cepat.
"Lakukam yang terbaik untuk istri saya, Dok!" ucap Dimas dengan cemas.
__ADS_1
Dokter mengangguk dengan mantap. Brankar yang ditiduri oleh Arieska di dorong dengan cepat hingga sampai ke ruanv persalinan. Suster membantu dokter menyiapkan segspa keperluan persalinan Arieska. Dimas setia berada di samping sang istri.
"Sudah pembukaan sepuluh. Ibu dengarkan instruksi saya ya," ucap dokter dengan tegas.
Arieska mengangguk walau perasaannya saat ini sangat campur aduk karena sakit yang ia rasakan. Arieska mengejan sesuai dengan intruksi dokter, rasanya tulangnya remuk sekarang, napasnya tersengah-sengal dan ia merasa tidak sanggup lagi.
"A-aku tidak kuat Mas," ucap Arieska dengan lirih. Napasnya benar-benar tidak teratur sekarang, seakam nyawanya akan lepas dsri raganya.
"Kamu kuat, Sayang! Kamu pasti bisa," ucap Dimas dengan mata yang berkaca-kaca.
Dimas tidak tega dengan Arieska bahkan pikiran buruk terus menghantuinya saat melihat Arieska kesakitan.
"Terus, Bu. Ibu pasti bisa kepala anak ibu sudah keluar," ucap Dokter memberikan semangat.
Bagai mendapatkan kekuatan kembali Arieska mulai mengejan dengan keringat yang sudah bercucuran.
"Arkhhhhh...."
"Ooooeeekkk...ooekkkkk..."
"Dokter, istri saya kenapa? istri saya tidak kenapa-napa kan, Dok?" tanya Dimas dengan panik saat melihat mata sang istri terpejam.
Dokter memeriksa keadaan Arieska setelah anak Arieska di tangani terlebih dahulu. "Tidak apa-apa, Pak. Istri anda hanya kelelahan saja," ucap dokter dengan tersenyum yang membuat Dimas merasa lega tetapi ia masih merasa khawatir dengan keadaan sang istri.
Dimas berkaca-kaca saat suster memberikan anaknya. Dengan hati-hati Dimas menggendong anaknya, Dimas mengazani anaknya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Selamat datang anak Papa dan mama. Andreas Anggara," ucap Dimas dengan lirih.
*****
"Ya Allah.... Dimas kenapa kamu baru mengabari mama dan papa kalau istri kamu melahirkan," ucap Mama Amanda dengan gemas bercampur rasa kesal saat ia dikabari Dimas jika Arieska sudah melahirkan dan mama Amanda langsung ke rumah sakit beserta dengam yang lain.
"Dimas lupa dan panik, Ma. Semua tidak ada yang Dimas kabari termasuk mama Erika dan papa Haris," ucap Dimas dengan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
__ADS_1
"Gimana reaksi mertua kamu pasti sama dengan reaksi mama, kan?" tanya Mama Amanda dengan sebal.
Dimas nyengir. "Mereka sangat marah, Ma. Tapi tidak lama karena setelah itu mereka bahagia saat aku kirimkan foto Andreas. Saat itu juga mama dan papa langsung terbang ke Indonesia," jawab Dimas.
"Sudah-sudah jangan ribut. Kasihan Arieska perlu istirahat," ucap papa Dero menengahi.
Papa Dero baru menikah dengan seorang janda tanpa anak karena anaknya meninggal terkena penyakit yang sama dengan mantan suaminya. Dan itu berkat Jelita, sekarang semuanya tampak bahagia dengan keluarga masing-masing. Bahkan istri baru Papa Dero masih terbilang sangat muda dan cantik seperti Dimas dan Jelita akan mendapatkan adik juga dari mama baru mereka.
Dimas menghampiri sang istri yang masih tertidur dengan pulas. Anaknya sedang digendong mama tirinya.
"Mbak Amanda. Cucu kita ganteng sekali ya," ucap Mama Mia dengan berkaca-kaca. Ia teringat dengan almarhum anaknya sekarang.
"Iya, Mia. Kamu jangan kelelahan, sini Andreas sama Mbak," ucap Mama Amanda dengan lembut.
Papa Dero menghampiri sang istri dan membawa istrinya duduk di sofa. "Papa sudah bilang Mama jangan kelelahan," ucap Papa Dero dengan perhatian.
Mama Mia masih merasa canggung dengan sang suami karena di dalam sini ada mantan istri suaminya. Ia hanya tersenyum tipis saja karena hatinya belum bisa melupakan mantan suaminya tetapi mama Mia juga sudah mencintai suaminya saat ini.
Tahu jika istri dari mantan suaminya tidak nyaman. Mama Amanda mengajak sang suami keluar, ia juga merasa tidak nyaman dengan perhatian papa Dero kepada mama Mia. Entahlah rasa canggung menguasai mereka saat ini.
*****
Sudah seminggu Arieska menjadi seorang mama. Tetapi ada perasaan sedih yang menghampirinya saat ini karena asinya sama sekali tidak keluar.
"Maafkan Mama yang tidak bisa menjadi mama yang terbaik untuk kamu," ucap Arieska dengan sedih saat anaknya sama sekali tidak minum asinya sejak lahir. Hanya sedikit saja dan setelah itu asinya kering begitu saja.
"Mama tetap menjadi mama yang terbaik untuk Andreas," ujar Dimas menghampiri sang istri dan anaknya.
Arieska menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak bisa memberikan asi untuk Andreas, Mas. Aku merasa gagal menjadi seorang ibu, lebih baik aku merasakan sakit seperti Jelita dulu dari pada harus seperti ini. Aku sedih, Mas," ucap Arieska dengan lirih.
"Bisa menyusui atau tidak kamu akan tetap menjadi mama Andreas, Sayang. Jangan sedih ya, Andreas masih bisa minum susu terbaik, dia masih bisa tumbuh dengan sehat," ucap Dimas dengan lembut.
"Tetap saja aku merasa gagal," ucap Arieska dengan sedih.
__ADS_1
"Jangan sedih Mama. Andreas sayang Mama," ucap Dimas menirukan suara anak kecil dengan memainkan tangan mungil anaknya.
Arieska tersenyum tipis. Rasa bersalahnya kepada Andreas membuat Arieska kadang tidak enak makan. Tetapi mau bagaimana lagi, asinya sama sekali tidak keluar, mau tak mau Andreas minum susu yang direkomendasikan oleh dokter.