Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 41~ (Penyesalan Dua Orang Lelaki)


__ADS_3

...Hei-hei aku kembali lagi dengan cerita ini, Pagi ini double up ya. Cerita ini emang sad di awal ya jadi yang gak kuat dengan kesedihan bisa di skip saja. Gimana dengan part ini? Jangan lupa ramein part ini dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya! ...


...Happy reading...


****


"Bersiaplah dengan kematian lo Elang!" ucap Dimas dengan terkekeh. Lalu ia menatap tajam dengan pistol yang siap untuk ia tembakan.


Dorrr..


Dorr...


"Mentari!"


"Arieska!"


Mentari tersenyum menatap ke arah Elang yang berada di pelukannya. Lelaki itu menangis tanpa suara, saat tembakan itu berhasil di luncurkan Dimas dan saat itu pula Mentari berlari ke arahnya dan memeluk dirinya. Bertepatan dengan Dimas, polisi juga melayangkan tembakan ke arah Dimas. Namun, Arieska yang entah datang dari mana menyelamatkan Dimas. Kedua wanita itu tertembak demi menyelamatkan lelaki yang mereka cinta. Dimas menjatuhkan pistolnya dengan lemas saat menatap Arieska yang sudah menutup mata, butiran air mata menjatuhi kedua pipinya. Mengapa lagi dan lagi harus Arieska yang menjadi korbannya dari semua tingkah kejahatannya?


"Arieska!" ucap Dimas dengan lirih. Arieska yang mendengar suara Dimas secara sayup-sayup mencoba membuka matanya yang sudah terasa berat. Arieska tersenyum hangat saat Dimas menatapnya dengan tatapan terluka, lelaki itu jatuh terduduk dengan nyawa yang seperti dipaksa lepas dari raganya.


"Kenapa lo menyelamatkan gue? Lo sudah berjanji untuk tidak ikut campur dengan urusan gue!" ucap Dimas dengan lirih.


"Uhuk...uhuk...." Arieska mengangkat tangannya dengan sekuat tenaga yang ia bisa. Dengan gemetar Dimas memegang tangan Arieska dan meletakkannya di pipinya.


"G-gue...ga...k...mung....kin....mem...biar....kan....lo....ter...luka....Dim!Gu...e...sa....yang....sa....ma....lo...apa...pun....ya...ng....ter...jadi...gu...e....ak...an....te...tap....men...cin...tai...lo...wa...lau....pun....nya....wa....gue....taru...han....nya," ucap Arieska dengan rerbata.


Napas gadis itu sudah sangat sesak tetapi Arieska mencoba untuk mempertahankan kesadarannya. "G-gue....su...dah....gak....ku...at...la....gi...Dim....hi....dup...lah....den....gan....ba...ik....kare....na.....gu...e....gak....bi...sa....men....ja...ga....lo...la...gi...Di...mas...ha...rus...beru...bah....se...la...mat....ting...gal..." setelah menyelesaikan ucapannya Arieska merasa dadanya sangat sesak membuat Dimas panik bahkan air matanya mengalir begitu saja.


"Arieska, lo kenapa?" panik Dimas. "Gue janji gue akan berubah asal lo jangan seperti ini, Arieska!" teriak Dimas dengan histeris tetapi semuanya sudah terlambat Arieska tak lagi dapat mendengar suaranya, gadis itu sudah menutup matanya dengan rapat.


Sedangkan Elang menatap istrinya dengan hati yang sangat terluka. "Kenapa kamu lakuin ini Mentari?" Tanya Elang dengan bibir gemetar.

__ADS_1


"Men...ta...ri...sa...yang...Mas...Ela...ng," ucap Mentari dengan terbata-bata. Sakit yang ia rasakan karena tembakan dari Dimas tepat di punggungnya ia abaikan karena ingin melihat Elang untuk terakhir kalinya.


"Men...ta...ri...gak...ak...an...bia...rin...Di...mas...me...lu...kai...Mas...Ela...ng," ucap Mentari dengan mengelus pipi Elang dengan gemetar. Mentari sudah tidak kuat untuk menahan sakit yang iya rasakan secara bertubi-tubi.


"Kamu gak harus ngelakuin ini. Aku...aku..." Elang menangis dengan memeluk tubuh tak berdaya Mentari yang masih bisa tersenyum ke arahnya ketika sebuah luka banyak tergoreskan di tubuh wanita itu. Bahkan Elang hampir tidak mengenali wajah Mentari karena banyaknya luka di wajah wanita itu.


"Men...ta...ri...ba...ha...gia...bi...sa...men...ja...di...pe...lin..dung...Mas...Ela..ng...mas...gak...bo...leh...per...gi...ka...re...na...ma...sih...ba...nyak..ora...ng...ya...ng...sa...ya...ng...sa...ma...Mas...Ela...ng." Mentari sudah tak mampu melanjutkan kata-katanya, tenggorokkannya terasa sangat kering bersamaan dengan itu matanya mulai terasa berat.


"Men...ta...ri...cin...ta...Mas...Ela...ng." setelah mengucapkan itu mata Mentari tertutup dengan rapat membuat Elang menggelengkan kepalanya bersamaan dengan derasnya air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"MENTARI JANGAN TINGGALIN AKU! BANGUN! AYO BUKA MATA KAMU! AKU MENCINTAI KAMU! BANGUN!" teriak Elang mengguncang tubuh Mentari. Elang memeluk Mentari dengan terduduk di lantai, ia menatap ke arah Dimas dengan tajam penuh kebencian.


"LO PUAS SEKARANG HAH? LO PUAS SUDAH MENYAKITI ISTRI GUE, HAH?" teriak Elang dengan penuh amarah. Dimas hanya terdiam menatap ke arah Arieska, hatinya sangat sakit melihat Arieska yang tak berdaya. Kilasan memori tentang Arieska bermunculan di benak Dimas. Bagaimana gadis itu selalu melindunginya tetapi dirinya hanya bisa menyakiti gadis itu.


"Bawa dia Pak!" ucap Leon menunjuk ke arah Dimas. Leon yang baru saja masuk bersama dengan Akbar juga tampak sangat lelah karena harus melawan anak buah Dimas.


Tak ada perlawanan dari Dimas. Pria itu pasrah saat polisi membawanya.


"Tunggu! Saya ingin membawa Arieska ke rumah sakit," ucap Dimas dengan lirih.


"Sudah ada ambulance yang ke sini. Sebaik anda mempertanggungjawabkan kesalahan anda," ucap polisi tersebut kepada Dimas.


"Tidak! Biarkan aku saja yang membawanya. Aku ingin memastikan keselamatannya," ucap Dimas menolak. Ia enggan meninggalkan Arieska sedikit pun.


"Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Biarkan kami melakukan tugas kami dengan mudah," ucap polisi teesebut dengan tegas.


"Arieska!" teriak Dimas dengan histeris.


"Aku mohon, Pak. Biarkan saya ikut ke rumah sakit!"


"Tidak bisa!"

__ADS_1


Kembali ke Elang. Pria itu masih setia meneluk tubuh Mentari dengan erat, ia mengecup seluruh wajah Mentari dengan lembut tak peduli darah yang menempel di bibirnya.


"Bangun! Aku mencintaimu Mentari! Please buka mata kamu," pinta Elang dengan lirih.


"Elang, ambulance sudah datang sebaiknya kita harus membawa Mentari dan Arieska ke rumah sakit," ucap Akbar dengan lirih.


Elang mengangguk dengan lemas. Nyawanya seperti dipaksa keluar dari tubuhnya. Sakit sekali melihat Mentari yang tak berdaya di dalam gendongannya, wanita itu masih setia menutup matanya membuat Elang sangat merasakan takut di dalam hatinya. Air matanya tak berhenti mengalir, baru kali ini ia menangis hanya karena seorang wanita. Dulu sewaktu Fika mengkhianatinya Elang tidak merasakan sakit seperti ini.


Elang sadar Elang sangat mencintai Mentari dan tidak mau Mentari pergi dari hidupnya. Semua kebersamaannya dengan Mentari membuat Elang semakin merasakan sesak yang menghimpit dadanya karena wajah pucat itu tidak lagi menampilkan sebuah senyuman yang sangat indah. Senyuman itu redup dengan sekejap bersamaan dengan cinta mereka yang baru saja terucap.


Jika mencintai harus merasakan sebuah sakit. Maka Elang memilih tidak ingin melihat Mentari terluka, karena sakit yang di rasakan Mentari sangat mampu mematikan sistem sarafnya, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak, nafasnya terasa sangat sulit bahkan hatinya berdenyut sakit.


Jika mencintai harus kehilangan. Maka Elang rela kehilangan nyawanya untuk menebus kesakitan istrinya. Namun, itu semua di lakukan Mentari kepadanya. Begitu baik wanita itu untuknya.


Genggaman Tangan Elang tidak pernah lepas dari tangan Mentari saat mobil ambulance sudah melaju dengan sangat kencang. Selang oksigen sudah terpasang di hidung Mentari. Elang mengelus setiap luka di wajah Mentari dengan lembut, bibirnya bergetar lagi menahan tangis yang ingin menyeruak keluar dengan mudah.


Cup..


Elang menciumi tangan Mentari dengan lembut. Sekarang Elang berada di dalam fase titik terendah, yaitu kehilangan belahan jiwanya yang baru ia sadari kehadiran rasa di hatinya. Apa arti cinta jika orang yang kita cinta akan pergi meninggalkam kita?


Hancur?


Ya itulah hati Elang sekarang. Elang tidak akan memaafkan Dimas begitu saja! Dimas telah membuat Mentari-nya terluka padahal Elang baru saja bisa mencintai istrinya.


"Aku janji kalau kamu bangun aku akan memperlakukanmu dengan lembut selayaknya seorang istri yang sangat dicintai suaminya karena aku memang mencintaimu," gumam Elang meneteskan airmata.


Dua orang lelaki yang merasa menyesal karena telah menyia-nyiakan cinta yang tulus dari dua orang gadis yang masing-masing sangat berharga di dalam hidup mereka. Kini, Dimas dan Elang hanya bisa menangis tanpa suara dengan kesakitan yang keduanya rasakan.


"Arieska, gue mohon bertahan untuk gue! Gue janji akan berubah demi lo dan Jelita! Jangan tinggalkan gue!" ucap Dimas di dalam hatinya saat ia dipaksa untuk ikut bersama dengan polisi.


Dimas juga tidak tahu akibat perbuatannya ini membuat sang adik yang ia benci juga dalam keadaan tidak baik-baik saja bersama dengan pria yang menolongnya. Jika Dimas tahu maka makin terluka lah hatinya saat ini.

__ADS_1


****


Siapa yang penasaran dengan malam pertama Rasyad dan Lolita? Bakal ada episode besok yak🤭🤭🤭


__ADS_2