
...Maaf ya kemarin tidak update karena ada pengajian di rumah. Jangan lupa ramein part ini ya!...
...Happy reading...
***
Nathan menatap tajam ke arah Raka saat ini, setelah mendapatkan kabar jika sang anak berada di rumah sakit Nathan dan yang lainnya langsung menyusul ke sini kecuali Rasyad dan Jelita, mereka mungkin sedang bermandikan peluh saat ini.
"Kenapa anak saya bisa bersama kamu? Bukankah Erina berada di rumah?" tanya Nathan dengan tajam.
Raka menatap Nathan tanpa rasa takut sedikit pun. "Saya yang membawanya Yah!" jawab Raka dengan tenang.
"Yah? Maksud kamu?" tanya Nathan dengan dingin.
"Karena Erina istri saya maka anda adalah mertua saya!" jawab Raka dengan tenang.
"APA?" tanya Nathan dengan keterkejutan yang luar biasa atas pengakuan Raka kepadanya.
Bukannya tidak sopan atas perilaku beraninya kepada Nathan tetapi menurutnya ia harus berani mengakui semuanya di depan mertuanya sendiri walau nanti mungkin wajah tampannya akan babak belur karena amukan Nathan kepadanya, walaupun begitu Raka tak akan melawan sedikit pun.
"Bagaimana mungkin kalian menikah sedangkan saya tidak pernah menikahkan kalian?" tanya Nathan dengan tajam.
__ADS_1
"Saya menikahi Erina secara siri. Maafkan atas kelancangan saya karena awalnya saya menolak saat Erina menyerahkan dirinya kepada saya agar saya memberikan restu terhadap pernikahan antara Jelita dan Rasyad. Dan pernikahan mereka tetap terlaksana walau saya sebenarnya merasa enggan karena saya takut adik saya terluka kembali karena Rasyad. Timbal balik pernikahan Rasyad dengan Jelita maka Erina harus menikah siri dengan saya," jelas Raka yang membuat Nathan kembali syok.
Bukk...
"Kamu sadar tidak kamu juga telah melukai anak saya?" teriak Nathan dengan murka dan langsung memukul wajah Raka dengan kuat.
Rendy yang menyaksikan tuannya dihajar oleh Nathan langsung ingin melindungi Raka tetapi dengan cepat Raka mencegah Rendy dengan tangannya agar Rendy tidak mendekat ke arahnya.
"Saya sadar Ayah makanya saya ingin mengakui semuanya di hadapan anda tanpa ada satu pun yang tertutupi lagi. Saat ini Erina sedang mengandung anak saya makanya saya ingin memperjuangkannya dan menjadikan Erina istri sah saya di mata hukum maupun agama," ucap Raka dengan tegas. Ia mengelap sudut bibirnya yang terasa perih. Raka yakin sudit bibirnya mengeluarkan darah walau tak banyak karena pukuran keras Nathan kepadanya.
Nathan mengusap wajahnya dengan kasar. Saat ini tentu saja ia sangat marah kepada Raka, terlebih kepada dirinya sendiri yang tak begitu memperhatikan sang anak hingga Erina bernasib seperti ini. Rasa bersalahnya kepada Erina membuat Nathan diam mematung menatap Raka dengan sangat tajam.
Gladis yang sejak tadi penasaran apa yang dikatakan kedua pria berbeda generasi itu diam-diam menguping pembicaraan antara suaminya dan kakak dari Jelita tersebut. Air matanya luruh seketika saat ia merasa tidak becus menjaga anaknya dan kurang memperhatikan Erina. Gladis sangat sadar itu. Saat kembalinya Jelita, ia kurang memperhatikan Erina karena ia merasa bersalah kepada Jelita atas perlakuan Rasyad kepada anak angkatnya tersebut hingga ia tidak sadar jika anak kandungnya juga membutuhkan perhatiannnya. Bahkan Erina rela mengorbankan masa depannya agar bisa memenuhi keinginannya. Gladis benar-benar ibu yang tidak becus yang telah menelantarkan anaknya sendiri.
Nathan, Raka, dan Rendy langsung menoleh melihat siapa yang menangis. Nathan langsung terkejut begitu sang istri yang menangis, ia yakin Gladis mendengar pembicaraannya dengan Raka. Takut terjadi sesuatu dengan istrinya, Nathan langsung menghampiri Gladis.
"Hiks...hiks...A-aku bunda yang tidak becus Mas. Aku Bunda yang egois," ucap Gladis dengan berlinang air mata.
Nathan berjongkok di hadapan istrinya untuk menyamai tinggi Gladis yang saat ini masih duduk di kursi roda. "Jangan menyalahkan diri kamu seperti ini Sayang," ucap Nathan dengan pelan.
"Tapi aku yang salah. Andai aku sedikit lebih peka mungkin Erina tidak akan seperti ini. Menikah siri? Ya Tuhan, Mas...aku sudah menghancurkan harapan anakku sendiri untuk menikah dengan orang yang sangat ia cintai dengan suasana yang sangat romantis. Pantas saja Erina terlihat lebih pendiam saat menghadiri pernikahan Rasyad dan Jelita, dia seakan menghindariku," ucap Gladis dengan terisak. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak, sadar jika Gladis mulai merasa sesak Nathan mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Maafkan saya Bunda! Saya akan bertanggungjawab dengan Erina, saya akan membuat resepsi pernikahan seperti yang Erina inginkan karena saya....s-saya mencintai Erina," ucap Raka dengan tercekat.
Mencintai Erina? Kenapa Raka sangat berani mengakui perasaanya di hadapan orang tua Erina?
"Erina sedang hamil anak saya!" ucap Raka yang membuat Nathan kembali menatap Raka dengan tajam.
"Saya akan membawa Erina pulang. Saya ingin melihat sebesar apa rasa cinta anda untuk anak saya saat anak saya sedang tidak bersama dengan anda," ucap Nathan dengan tegas.
Raka mendelik tidak suka. Ia ingin protes tetapi Nathan langsung berkata dengan cepat kembali. "Suka atau tidak suka saya akan tetap membawa anak saya pulang. Saya tunggu perjuangan anda," ucap Nathan dengan mendorong kursi roda istrinya memasuki ruang inap Erina saat ini.
Raka mengusap wajahnya dengan kasar lalu ia menatap Rendy dengan datar. "Ren apa mertua saya ingin berniat memisahkan saya dengan istri dan anak saya? Bagaimana bisa dia mengatakan dengan mudahnya ingin membawa Erina pulang. Erina milik saya, Ren! Kau dengar tidak Erina milik saya?" ucap Raka dengan risau.
"Saya mendengarnya Tuan Muda dan saya rasa ini adalah sesuatu yang terbaik," ucap Rendy tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada Raka.
"Enak saya kau bilang ini adalah yang terbaik. Jika ayah Nathan memisahkan saya dengan Erina bagaimana?" protes Raka dengan tajam.
"Saya rasa tidak mungkin Tuan Muda karena anda berhasil memberikan cucu kandung. Ya walaupun Nazwa sudah dianggap cucu oleh mereka, saya yakin di benak keduanya ingin memiliki cucu kandung dari anak-anak mereka. Dan Tuan Muda berhasil mewujudkan walau dengan cara yang salah," ucap Rendy dengan sopan.
"Jadi maksudmu apa yang saya lakukan selama ini salah begitu? Kau sudah berani kepada saya, Ren?" tanya Raka dengan tajam.
"B-bukan begitu Tuan Muda. Maafkan kesalahan ucapan saya," ucap Rendy dengan takut.
__ADS_1
Raka berdecak kesal. Ia meninggalkan Rendy begitu saja, lebih baik ia melihat keadaan istrinya sekarang dari pada berbicara kepada Rendy yang sangat menyebalkam hari ini.