
...Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya. Maaf sedikit karena mulai sibuk dari pagi sampai sore jadi malam sudah capel sekali. Semoga kalian tetap terhibur ya. ...
...Happy reading...
***
Jelita duduk di tepi pantai saat matahari mulai terbenam, ia tersenyum saat menikmati hembusan angin dengan pemandangan yang sangat indah. Jelita menghirup napasnya dengan dalam menikmati suasana tenang dan sejuk yang sudah lama tidak ia rasakan, tetapi keadaannya sangat membaik ketika bersama dengan Raka.
Jelita tersentak saat ada seseorang yang memakaikan jas ke tubuhnya. "Udara sore ini sangat dingin Nona," ucap Rendy di saat Jelita menatapnya dengan bingung.
"Terima kasih, Ren. Aku tidak merasa dingin karena tempat ini begitu sejuk, suasana seperti ini perlahan mengobati rasa rinduku kepada tanah kelahiranku," ujar Jelita dengan tersenyum dan merapatkan jas Rendy ke tubuhnya membuat aroma Rendy tercium di indra penciumannya dan membuat Jelita begitu tenang.
Rendy tersenyum kaku dan ikut duduk di samping Jelita menikmati pemandangan yang tercipta di saat hari menjelang malam. "Besok kita akan terbang ke Jakarta setelah urusan tuan muda di Bali selesai Nona," ucap Rendy dengan pelan, ia juga ikut menikmati deburan ombak yang menyapa mereka.
"Benarkah? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu kak Dimas," ucap Jelita dengan binar bahagia.
"Dimana kak Raka? Kenapa kau meninggalkannya dan malah menemuiku di sini?" tanya Jelita dengan bingung.
"Tuan muda sedang bertemu dengan kolega bisnisnya dan saya disuruh tuan muda untuk menjaga anda," jawab Rendy dengan sopan.
__ADS_1
Jelita mencibikkan bibirnya. "Ck...aku bukan lagi anak kecil kenapa selalu diawasi oleh manusia kaku dan dingin seperti kalian?" tanya Jelita dengan kesal.
"Karena keselamatan anda lebih penting bagi kami Nona Muda," jawab Rendy dengan tegas.
"Dasar posesif sekali," gumam Jelita membuat Rendy tersenyum kecil.
Keduanya terdiam sejenak lalu Rendy menatap wajah Jelita. Ia terpana dengan kecantikan Jelita apalagi angin yang berhembus membuat rambut Jelita berterbangan menutupi wajah cantiknya. Sebelum semakin terpesona Rendy mulai menyadarkan dirinya dengan mengalihkan pandangannya ke arah depan.
"Hari sudah mulai gelap, Nona. Sebaiknya kita kembali ke hotel sepertinya tuan muda juga selesai," ajak Rendy yang mulai bangun dengan perlahan dan membersihkan pakaiannya dari pasir pantai.
Dengan berat hati Jelita mengangguk dengan ajakan Rendy. Ia juga bangun dengan dibantu oleh Rendy, setelah berdiri ia juga membersihkan pasir pantai yang melekat pada celananya dan bajunya.
Keduanya melangkah dengan perlahan secara beriringan tetapi dengan tidak di sengaja Jelita menabrak seseorang yang berjalan di depannya.
"Aww...."
"Nona tidak apa-apa?" tanya Rendy dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa, Rendy!" jawab Jelita dengan meringis.
__ADS_1
"M-maafkan saya Tuan...."
"Jelita!"
Tubuh Jelita mematung melihat siapa orang yang ia tabrak tadi. Jelita menghembuskan napasnya dengan perlahan untuk menghilangkan gejolak debaran di dadanya. Setelah tiga tahun sudah tidak bertemu mengapa mereka dipertemukan di tempat ini.
Rasyad yang terkejut dengan keberadaan Jelita di Bali membuat tubuhnya mematung juga. Ia terpana dengan kecantikan Jelita sekarang apalagi aura yang terpancar di diri Jelita sangat berbeda dari tiga tahun yang lalu. Setelah sadar dengan keterpanaannya Rasyad tersenyum sinis ke arah Jelita.
"Hebat sekali. Setelah menghilang tiga tahun akhirnya bertemu di sini. Siapa dia? Apa dia lelaki yang menyewa tubuhmu?" tanya Rasyad dengan sinis.
"Apa maksudmu?" tanya Jelita dengan dingin.
"Tidak usah berpura-pura tidak tahu," ucap Rasyad dengan sinis. Lalu ia menilai penampilan Jelita dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Berapa harga tubuhmu?" tanya Rasyad dengan dingin.
Plak....
Jelita langsung menampar Rasyad dengan keras, tangannya terkepal dengan sangat erat mendapat hinaan dari Rasyad dengan sangat kejam.
"Nona sebaiknya kita segera kembali. Lelaki gila ini tidak baik untuk kesehatan anda," ucap Rendy dengan dingin.
__ADS_1
"Ayo. Aku malas sekali meladeni pria sepertinya," ucap Jelita dengan dingin dan menarik tangan Rendy untuk berjalan dengan cepat meninggalkan Rasyad begitu saja.
"Dia benar-benar berubah!" ucap Rasyad dengan sinis.