Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 86~ (Amarah Yang Terpendam)


__ADS_3

...Happy reading...


****


Pagi ini suasana rumah Nathan terlihat sangat mencekam saat Rendy menjemput Jelita untuk berangkat kerja karena gadis itu merasa kurang enak badan. Awalnya Jelita meminta jemputan Damian tetapi pria itu sedang ada urusan di bengkelnya dan akhirnya tanpa Jelita tahu Rendy lah yang menjemputnya saat ini.


Rasyad menatap Rendy dengan dingin, tangannya terkepal dengan sangat erat kala Rendy seperti tidak merasa bersalah karena menjemput istrinya.


"Maaf Tuan saya di sini ingin menjemput nona muda Jelita karena tuan muda Damian tidak bisa menjemput nona muda," ucap Rendy dengan sopan.


"Saya tidak mengizinkannya!" ucap Rasyad dengan tegas.


"Tetapi nona muda sedang tidak enak badan Tuan," ujar Rendy tak mau kalah karena ia takut terjadi sesuatu dengan Jelita. Bisa-bisa Raka dan Damian mengamuk kepadanya.


"Tidak enak badan?" ulang Rasyad dengan nada penuh penekanan.


Rasyad menatap tajam ke arah Jelita yang baru saja datang dari dalam kamar mereka. Ia menelisik tubuh Jelita dengan seksama tetapi Rasyad tidak percaya begitu saja jika saat ini Jelita sedang sakit karena ia melihat Jelita baik-baik saja. Apa jangan-jangan ini akal-akalan Jelita agar bisa berduaan dengan Rendy? Jika iya, maka Rasyad tidak akan mengizinkan mereka bersama sedetik pun! Tidak akan pernah!


"Kenapa?" tanya Jelita saat Rasyad menatapnya dengan sangat dingin.


"Kamu sengaja hmm? Iya, kan?" tanya Rasyad dengan sangat tajam.


Jelita yang ditanya seperti itu hanya memasang raut wajah bingungnya. "Sengaja bagaimana? Apa maksud Mas?" tanya Jelita dengan datar.


"Tidak usah berpura-pura bingung, Jelita! Kamu sengaja menyuruh Rendy menjemputmu ke rumah ini agar kamu bisa berduaan dengannya, kan?" ucap Rasyad dengan tajam.


"Aku menyuruh Damian yang menjemputku bukan Rendy! Dan ternyata Damian tidak bisa menjemputku dan digantikan dengan Rendy. Apa masalahnya? Aku pun baru tahu jika Rendy lah yang menjemputku saat ini. Jadi, jangan menuduhku seperti itu!" ucap Jelita tak kalah tajamnya karena ia tidak ingin terus menerus direndahkan oleh Rasyad.


"Alah jangan mencari alasan! Aku tahu akal busukmu!" ucap Rasyad dengan marah.


"Ini bukan salah nona muda, Tuan!" ucap Rendy membela jelita.


"Diam kamu! Ini urusan saya dengan istri saya!" sentak Rasyad dengan marah. Ia merasa tak terima jika ada yang membela istrinya saat ini.


"Rendy kamu boleh pergi. Aku bisa pergi sendiri," ucap Jelita pada akhirnya.

__ADS_1


"Tapi Nona. Anda sedang sakit," ucap Rendy yang merasa enggan pergi dari sana.


"Saya yang lebih tahu kesehatan istri saya sendiri. Sekarang kamu pergi!" ucap Rasyad dengan tajam.


"Ren, pergilah! Aku bisa mengatasinya sendiri!" ucap Jelita dengan tegas.


"T-tapi..."


"KELUAR!" teriak Rasyad dengan marah.


Jelita meng-kode Rendy dengan gerakan tangannya agar pergi dari hadapan Rasyad. Dan dengan berat hati akhirnya Rendy meninggalkan rumah Nathan karena ia tidak ingin ribut dengan Rasyad walau Rendy sangat ingin memukul wajah pria itu.


Setelah kepergian Rendy. Rasyad menatap tajam ke arah Jelita. "Kamu pura-pura sakit, kan Agar Rendy yang menjemputmu?" tanya Rasyad dengan tajam.


"Aku benar-benar tidak enak badan, Mas! Kenapa kamu selalu menuduhku seperti itu seakan aku ini tidak baik di matamu!" ucap Jelita dengan dingin.


"Memang kamu tidak baik! Mana ada gadis baik-baik tidur dengan lelaki tanpa ikatan pernikahan dan sekarang setelah menikah pun kamu masih berhubungan dengan lelaki lain," ujar Rasyad dengan penuh amarah.


"Tidur dengan lelaki lain? Apa maksudmu?" tanya Jelita dengan mengepalkam tangannya.


"Hahaha....belasan tahun Mas kita hidup bersama tetapi dengan satu kesalahan yang belum benar adanya kamu langsung mengklaim aku seperti jal*ng seperti mantan istrimu itu. BELASAN TAHUN MAS! Seharusnya kamu sudah mengerti bagaimana aku, bagaimana sifatku, bagaimana sikapku selama ini. Tetapi kita selayak orang asing yang tinggal dalam hitungan hari dalam satu rumah," ucap Jelita dengan penuh penekanan.


Rasyad hanya diam saat melihat sorot mata kecewa di mata sang istri. Sedangkan Jelita berusaha untuk menahan tangisnya di depan Rasyad.


"Sebenarnya apa yang terjadi tiga tahun lalu?" tanya Rasyad dengan datar.


"Haha kamu baru menanyakan itu semua setelah tiga tahun berlalu Mas? Semua itu sudah basi!" ucap Jelita dengan terkekeh.


"Kamu tidak tahu betapa beratnya hidupku selama ini! Aku pikir kamu adalah orang yang mengerti bagaimana aku tetapi pikiranku itu salah!" teriak Jelita dengan keras. Ia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi setelah Rasyad terus menerus merendahkannya.


"SELAMAT MAS KAMU TELAH MENIKAHI DUA JAL*NG!" kekeh Jelita dengan miris. Ia menyeka air matanya dengan kasar di hadapan Rasyad yang terlihat terdiam menatapnya.


Hati dan logika Rasyad benar-benar tidak sejalan. Hatinya berkata jika Jelita bukan wanita murahan seperti yang logikanya katakan, tetapi lagi dan lagi foto itu membuat Rasyad merasa hatinya berdenyut sakit.


"MAU KEMANA KAMU?" tanya Rasyad dengan keras saat Jelita berjalan meninggalkannya. Rasyad mencekal pergelangan tangan Jelita dengan keras tetapi Jelita terus memberontak.

__ADS_1


"Lepas!" ucap Jelita dengan serak.


"K-kamu nangis?" tanya Rasyad dengan terbata saat melihat Jelita menangis.


"Jangan sok peduli!" ucap Jelita dengan tajam. Jelita menyentakkan tangannya dengan kuat dari genggaman tangan Rasyad.


Ia berlari keluar rumah dalam keadaan hati yang rapuh dan dengan kepala yang berdenyut sakit sejak tadi tetapi ia menahannya di depan Rasyad. Jelita merasa tubuhnya sakit semua karena tidur di sofa yang sempit beberapa malam.


"Jelita!" teriak Rasyad mengejar Jelita yang memasuki mobilnya sendiri.


Rasyad memundurkan tubuhnya saat Jelita membawa mobilnya seorang diri dengan kecepatan tinggi. Ada rasa khawatir melihat Jelita seperti itu apalagi ia melihat wajah Jelita yang sedikit pucat.


Rasyad mengacak rambutnya dengan frustasi. "Argghhh...."


Jika tidak ada meeting yang sangat penting pagi ini Rasyad ingin segera menyusul Jelita sekarang tetapi bunyi ponselnya yang berulang kali membuat Rasyad berdecak kesal.


*****


Jelita menghentikan mobilnya setelah mengemudi berjam-jam lamanya untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya. Rasa sakit di kepalanya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat ini, setelah tidak menemukan tujuan untuk menenangkan dirinya akhirnya Jelita memutuskan untuk pergi ke pantai.


Hari sudah mulai sore. Deburan ombak yang sangat keras sedikit menenangkan hatinya. Ia terkekeh saat mengingat kejadian tadi pagi di mana Rasyad menuduhnya selayaknya jal*ng murahan yang tak punya harga diri.


"KAMU JAHAT MAS! AKU BENCI KAMU!" teriak Jelita dengan keras. Lalu ia tertawa diiringi dengan air mata yang menetes di wajahnya menandakan jika Jelita benar-benar merasakan sakit yang teramat dalam pada hatinya.


Bunyi ponselnya sejak tadi Jelita abaikan begitu saja bahkan Jelita mematikan ponselnya. Dirinya hanya ingin menenangkan diri agar esok ia tak lagi kembali terluka karena Rasyad.


Hatinya tak sekuat yang ia kira ternyata. "Kenapa aku masih selemah ini berhadapan dengannya?" gumam Jelita dengan terkekeh.


Jelita yakin esok akan ada pelangi yang membuatnya bahagia setelah badai menerpa dirinya kembali.


*****


Sebentar lagi Rasyad akan tahu semuanya kejasian tiga tahun lalu wkwk.


Sudah siap lihat Rasyad menyesal dan bucin?🤣🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa ramein part ini ya. Share juga cerita ini ke teman-teman kalian.


__ADS_2