Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 125 (Permintaan Maaf)


__ADS_3

...Happy reading...


*****


Kakek Agam merasa bahagia ketika mengetahui Jelita sudah sadar, lelaki tua itu mengintip dari balik jendela besar bagaimana Jelita di dalam sana bersama dengan keluarganya tanpa kakek Agam. Ada rasa miris di hati kakek Agam setelah melihat kebersamaan keluarganya. Ternyata benar kebahagiaan keluarga adalah sesuatu yang sangat menyenangkam dan membuat hidup tenang tetapi karena kesalahannya sendiri kakek Agam sampai melupakan keluarganya dan menciptakan nerakanya sendiri.


"Apa sebaiknya kita tidak pulang saja Tuan besar? Anda juga perlu beristirahat," ucap Adnan dengan sopan.


"Tidak Adnan, saya tidak akan pulang dari sini," ucap Kakek Agam tanpa melihat ke arah Adnan karena dirinya masih sibuk menatap Jelita dari balik jendela.


"Nona Jelita sudah siuman Tuan Besar dan keadaannya sudah baik-baik saja. Anda juga perlu untuk beristirahat saya takut anda jatuh sakit Tuan," ucap Adnan mencoba membujuk majikannya tersebut.


"Saya harus menebus dosa-dosa saya Adnan. Walaupun saya harus mati sekarang saya tidak peduli," ucap Kakek Agam dengan tegas.


Adnan menghela napasnya, kakek Agam adalah lelaki yang sangat keras kepala dan Adnan sama sekali tidak bisa membantahnya.


Sedangkan Jelita sangat merasa bahagia dengan keluarga yang berkumpul di ruang inapnya. Akhirnya ia bisa kembali tertawa ketika Kendra menghiburnya dengan tingkah koyol sepupu suaminya tersebut.


Mata Jelita tak sengaja menatap ke arah jendela dan tak sengaja dirinya bertemu pandang dengan kakeknya. Jelita menatap kakeknya dengan sendu begitu pun kakek Agam.


"Kakek minta maaf!" Itulah yang Jelita baca dari gerakan bibir kakeknya, mata Jelita Berkaca-kaca melihat wajah tua kakeknya sekarang.


Rasyad yang paham akan situasi dan ekspresi wajah sang istri yang tiba-tiba saja terdiam langsung melihat ke arah di mana Jelita memandang dan rahangnya langsung mengeras saat kakek Agam lah yang dilihat oleh sang istri.

__ADS_1


Rasyad langsung berjalan ke arah pintu untuk mengusir kakek Agam yang membuat semua yang ada di ruangan menatap ke arah Rasyad yang terlihat menahan amarah.


"Sudah berapa kali saya peringatkan jangan pernah datang ke sini lagi!" ucap Rasyad dengan sarkas.


Kakek Agam menatap Rasyad dengan datar. "Saya hanya ingin meminta maaf kepada Jelita," ucap Kakek Agam dengan tegas.


"Jelita tidak memerlukan maaf dari anda. Kepergian anda adalah kebahagiaan keluarga saya," ucap Rasyad dengan tajam.


perkataan Rasyad sangat menohok hati kakek Agam sekarang. Hatinya terasa di cabik-cabik dan begitu sakit ia rasakan ketika semua keluarganya menolak kehadirannya sekarang.


"Adnan tolong bawa kakek tua ini pergi dari hadapan saya sebelum kesabaran saya habis dan menghancurkan tulang-tulang tuanya," desis Rasyad dengan tajam.


"Tidak perlu menghina tuan saya. Saya akan membawanya pergi sekarang," ucap Adnan dengan tajam.


Jelita yang dibantu dengan Raka berjalan ke arah pintu di mana Rasyad sedang marah kepada kakeknya.


"Mas sudah jangan berantem," ucap Jelita melerai pertengkaran antara suami dsn kakeknya.


"Sayang masuk! Kenapa kamu berjalan ke sini, kamu gak boleh banyak gerak!" ucap Rasyad dengan cemas.


"Biar ini menjadi urusan Mas dengan kakek Agam," seru Rasyad dengan datar.


"Sudah Mas, aku tidak mau pagi ada keributan dan kebencian di dalam keluarga kita. Aku sudah capek dengan semuanya, aku ingin bahagia dengan kita yang saling memaafkan. Maafkan kakek Agam ya Mas, kejadian yang telah lalu menjadi pelajaran untuk kita semua," ucap Jelita dengan lembut dan memang sudah merasa lelah dengan kebencian yang berada di dalam keluarganya.

__ADS_1


"Kita berdamai ya, Mas! Kebencian tidak akan membuat kita bahagia. Aku ingin semuanya akur dan anak-anak kita mendapatkan kasih sayang yang banyak dari keluarga kita, aku tidak mau kejadian di mana aku dan kak Dimas terpuruk terulang pada anak-anak kita kelak karena sebuah kebencian," ujar Jelita dengan lirih.


Rasyad hanya diam dengan membuang tatapannya ke sembarangan arah tak ingin menatap kakek Agam.


Sedangkan kakek Agam berjalan ke arah Jelita. "Maaafkan Kakek, Sayang. Kakek salah," ucap Kakek Agam dengan tulus.


Jelita memegang tangan keriput kakeknya dan mengusapnya dengan lembut. "Semua orang memiliki kesalahan, Kek. Dan semua orang berhak untuk bahagia, aku sudah memaafkan kakek," ucap Jelita dengan tersenyum.


Mata kakek Agam berkaca-kaca tanpa kata kakek Agam memeluk Jelita dengam erat.


"Terima kasih, Jelita!" ucap Kakek Agam dengan terharu.


"Kek, jangan kencang-kencang memeluk Jelita!" ucap Rasyad dengan tajam.


"M-maaf," ucap Kakek Agam melepaskan pelukannya pada Jelita.


Jelita tersenyum tipis dengan keposesifan suaminya terhadap dirinya. "Sebaiknya Kakek pulang dulu saja. Aku tahu Kakek sejak kemarin berada di sini dan Kakek juga memerlukan istirahat," ujar Jelita dengan lembut.


"Baiklah Kakek akan pulang. Cepat sehat cucu kakek," ucap Kakek Agam dengan tersenyum.


Semua yang berada di sana tidak menyangka jika Jelita sudah memaafkan kakek Agam. Melihat kebahagiaan Jelita membuat semuanya tidak bisa menolak kakek Agam asal kakek Agam tidak lagi menyakiti Jelita mereka bisa menerima kakek Agam dengan baik. Jika kakek Agam berani menyakiti Jelita kembali maka mereka tidak akan tinggal diam.


"Kebahagiaan yang seperti inilah yang aku inginkan sejak dulu. Mungkin dengan kesakitan yang aku rasakan dulu membuat rasa bahagia ini lebih membuncah dari apapun yang pernah aku dapatkan. Mama, papa, kakek, nenek, dan yang lainnya sudah bisa menerimaku dengan baik. Terima kasih Ya Allah, engkau telah menggantikan rasa sakit itu dengan kebahagiaan yang berlimpah sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2