Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 116 (Tempat Ternyaman)


__ADS_3

...Happy Reading...


****


Saat ini Arieska sedang melakukan panggilan video call dengan suaminya. "Mas kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Arieska dengan lembut saat melihat sang suami murung.


"Mas!" panggil Arieska dengan hati-hati saat Dimas terdiam dan tidak merespon ucapannya.


"Hmmm...Mas pulang besok," ucap Dimas pada akhirnya.


"Loh kenapa? Apa urusannya sudah selesai? Mas sudah bertemu dengan mama?" tanya Arieska dengan bertubi-tubi.


Dimas tersenyum tipis. "Semua sudah selesai, Sayang!" ucap Dimas dengan pelan.


"Mas, aku ini istri kamu. Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan Mas, aku akan mendengarkannya dengan baik," ucap Arieska dengan lembut. "Atau aku menyusul Mas ke sana? Sekalian kita ke honeymoon, bagaimana?" tanya Arieska.


"Jangan, Sayang. Mas tidak mau kita honeymoon di sini. Kita cari tempat lain saja," ucap Dimas dengan cepat.


Arieska menghela napasnya. Lalu ia menatap Dimas yang tampak di layar ponsel dengan dalam. "Ada apa? Cepat cerita padaku, Mas!" ucap Arieska dengan tegas.


Dimas terdiam. "M-mas hanya melihat mama dari kejauhan. Melihat mama akrab dengan keluarga barunya membuat hati Mas sesak. Mas seperti orang asing di sana, Mas tidak mau mendekat lebih baik Mas kembali ke hotel dan menelepon kamu," ucap Dimas dengan tersenyum miris.


"Sayang, aku tahu bagaimana perasaan kamu saat ini. Tapi bagaimana pun mama akan tetap menjadi mama kamu selamanya, ikatan darah itu tidak akan pernah hilang Mas walau mama sudah menikah dengan orang lain dan mempunyai keluarga baru kamu akan tetap menjadi anak kandungnya," jelas Arieska dengan lembut.


"Mas tahu, Sayang. Tapi tetap saja hati Mas merasa sakit," ujar Dimas dengan sesak.


Arieska tahu bagaimana perasaannya Dimas saat ini. Ditinggalkan begitu saja oleh mamanya sejak kecil pasti Dimas merasa sangat terluka ketika melihat mamanya sangat akrab dengan keluarga barunya. "Ya udah sekarang tidak usah memikirkan mereka. Sekarang kita bahas yang membuat kita bahagia saja ya," ucap Arieska yang tidak mau Dimas larut dalam kesedihannya.


"Mas kangen banget sama kamu. Setelah Mas pulang kita langsung pergi ke Turki untuk honeymoon bagaimana? Rasyad dan Jelita saja sudah berhasil membuat adonan, Sayang. Mas juga mau adonan Mas jadi dan mempunyai kurcaci sendiri," ucap Dimas dengan terkekeh membayangkan bagaimana wajah anaknya dengan Arieska nantinya.


"Turki? Serius? Aku mau Mas!" ucap Arieska dengan bahagia.


"Serius, Sayangku!" jawab Dimas dengan tersenyum.


Bagi Dimas, Arieska adalah tempat ternyamannya. Terbukti saat ini Dimas merasa lega saat bercerita dengan sang istri, seakan beban berat yang menimpanya saat ini menghilang entah kemana saat melihat senyum manis istrinya.

__ADS_1


"Sayang mau janji sama Mas tidak?" tanya Dimas dengan serius.


"Janji apa, Mas?" tanya Arieska dengan lembut.


"Tegur Mas jika nanti Mas semakin sibuk dengan pekerjaan Mas sampai tidak ada waktu untuk kamu dan anak kita. Kamu marah kepada Mas juga tidak apa-apa, asal kamu jangan pergi meninggalkan Mas. Mas tidak ingin kehilangan kamu dan juga Mas tidak ingin anak kita nantinya mempunyai nasib yang sama seperti Mas. Kamu mau berjanji akan hal itu kan, Sayang?" tanya Dimas dengan dalam.


"Asal kamu tidak menduakan aku. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu, Mas. Aku akan menegurmu jika kamu salah, kita bicarakan baik-baik dengan kepala dingin karena aku pun tidak ingin kehilanganmu, Mas. Mas tahu kan sejak dulu aku sangat mencintai Mas?" jawab Arieska dengan tersenyum.


"Terima kasih, Sayang. Mas lega mendengarnya. Mas semakin mencintaimu, istriku!" ucap Dimas dengan terharu.


"Aku juga semakin mencintaimu, Mas."


****


Saat ini Jelita, Rasyad, dan Nazwa sedang berada di rumah Nathan. Jelita masih bingung dengan kepergian kakaknya yang tiba-tiba saja bisa berjauhan dengan Erina.


"Kak sebenarnya kak Raka pergi kemana? Jika ada urusan tentang kantor pasti dia mewakilkannya kepada Rendy karena tidak mau meninggalkan Kakak seorang diri. Tapi sekarang kenapa kak Raka pergi?" tanya Jelita yang memang tidak tahu kepergian Raka kemana dan untuk urusan apa karena Rasyad maupun Erina menyembunyikan semua ini dari Jelita.


Erina terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa karena ia takut salah bicara.


"Hmmm i-itu... Mas Raka mengecek proyek yang sedang perusahaannya bangun. Jadi, tidak bisa diwakilkan dengan siapapun. Mas Raka terburu-buru hingga tidak bisa mengabari kamu, Jelita," jawab Erina dengan gugup.


"Kakak tidak bohong sama aku, kan?" tanya Jelita dengan memicingkan matanya.


"Benar, Sayang. Kamu ini kenapa hmm? Sejak hamil kamu sangat sensitif sekali," ucap Rasyad menyelamatkan adiknya dari kecurigaan Jelita.


"Aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu dariku!" jawab Jelita dengan jujur.


"Kak Raka dan kak Dimas bisa pergi berbarengan seperti itu dan jawaban kak Erina juga kak Arieska sama-sama sangat gugup," jelas Jelita yang memang merasa curiga.


"Tidak ada yang kami sembunyikan, Jelita. Mas Raka memang sedang ada urusan penting. Sebenarnya aku juga mau ikut tetapi mas Raka sama sekali tidak mengizinkanku untuk pergi bersamanya," jawab Erina dengan lirih yang membuat Jelita merasa bersalah.


Sikap sensitifnya sekarang membuat Jelita cepat sekali menangis apalagi Rasyad tidak mau menuruti keinginannya.


"Hiks... Maafkan aku, Kak!" ucap Jelita dengan menangis.

__ADS_1


"Sayang kok nangis. Cup...cup... Tidak apa-apa," ucap Rasyad memenangkan istrinya.


Gladis dan Nathan melihat ketiganya dari kejauhan. Keduanya menggelengkan kepalanya saat melihat kedua anak mereka yang sedang hamil muda dan sangat sensitif.


"Semoga setelah ini keluarga Jelita mau menerima Jelita ya, Mas. Agar semakin lengkap kebahagiaan kita, kita akan menjadi kakek dan nenek. Apalagi sebentar lagi Rasyid juga akan menikah, rasanya sangat bahagia sekali Mas," ucap Gladis dengan mata melihat ke arah Erina, Jelita, dan Rasyad. Dimana Rasyad yang masih bingung untuk memenangkan sang istri yang tiba-tiba menangis hanya karena merasa bersalah dengan Erina.


"Aamiin, Sayang. Semoga setelah ini tidak ada lagi masalah," ucap Nathan dengan tulus.


Kembali lagi pada Rasyad yang masih mencoba menenangkan Jelita. Sedangkan Erina hanya bisa meringis karena sebenarnya ia tidak kesal sedikit pun dengan Jelita.


"Sayang sudah jangan menangis. Erina juga tidak marah sama kamu," ucap Rasyad dengan lembut.


"Iya Jelita, aku tidak marah," ucap Erina dengan lembut.


Jelita mengangguk. Ia mengapus air matanya dengan cepat. "Aku mau kelapa bakar Mas!" ucap Jelita dengan polosnya yang membuat Rasyad gemas.


Tadi menangis dan sekarang meminta kelapa bakar kepadanya dengan wajah yang sangat imut sekali. Bagaimana Rasyad tidak gemas coba?


"Oke akan Mas carikan sekarang," ucap Rasyad dengan tersenyum.


"Erina kamu mau sesuatu juga?" tanya Rasyad kepada adiknya.


Erina menggelengkan kepalanya, ia tidak menginginkan apapun selain kepulangan Raka. Karena memang mual, ngidam semua Raka yang mengalaminya.


"Yakin?" tanya Rasyad.


"Yakin, Kak. Aku hanya ingin mas Raka pulang secepatnya itu saja," ucap Erina dengan tersenyum.


"Baiklah Kakak belikan saja kelapa bakar seperti yang Jelita inginkan ya!" ucap Rasyad dengan tulus.


"Jangan lama Mas!" rengek Jelita dengan manja.


"Iya, Sayang. Tunggu di sini bersama Erina. Mas akan secepatnya membawa kelapa bakar ke hadapan kamu," ucap Rasyad dengan tersenyum.


Cup....

__ADS_1


Sebelum pergi Rasyad mengecup kening istrinya. Sungguh menuruti keinginan ngidam sang istri sangat menyenangkan sekali. Kebahagiaannya jauh lebih besar dari sebelumnya.


__ADS_2