Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 123 (Menyesal)


__ADS_3

...Jangan tegang!...


...Happy reading...


****


Rasyad tampak gelisah saat dirinya menelepon Jelita sama sekali tak dijawab oleh sang istri.


"Pak Rasyad setengah jam pagi meeting akan dimulai," ucap sekretaris Rasyad dengan tegas.


Rasyad melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. "Kamu gantikan meeting saya hari ini, Pandu! Saya ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan," ucap Rasyad dengan tegas.


"T-tapi Pak...."


"Kamu gantikan saya Pandu!" ucap Rasyad dengan tegas.


"B-baik, Pak!" ucap Pandu tak berani membantah saat melihat wajah sang bos yang terlihat gelisah.


"Saya harus pergi!" ucap Rasyad dengan cepat yang membuat Pandu merasa heran.


Drrtt...drtt..


Ponsel Rasyad berbunyi dan tanpa berpikir lama Rasyad langsung mengangkat. "Sayang kenapa tidak mengangkat telep..."


"Ini saya Raka!" ucap Raka dengan dingin.


Rasyad langsung merubah ekspresi wajahnya. "Ada apa Raka?" tanya Rasyad dengan datar. Ia merasa ada yang berbeda dengan nada bicara Raka saat ini. Antara menahan amarah dan cemas yang luar biasa.


"Jelita ada di rumah sakit. Cepat ke rumah sakit sekarang nanti saya akan share lokasinya," ucap Raka dengan gemetar.


"APA? BAGAIMANA BISA, KA? SAYA AKAN KE RUMAH SAKIT SEKARANG!" ucap Rasyad dengan cemas.


Rasyad berlari ke arah mobilnya, ia tak lagi mempedulikan keselamatannya, bak orang yang kesetanan Rasyad dengan kencang melajukan mobilnya, ia takut terjadi sesuatu dengan Jelita dan anak kembarnya.

__ADS_1


"Sayang, Mas mohon bertahanlah!"


*****


"Sampai terjadi sesuatu dengan Jelita. Saya tidak akan memaafkan Kakek!" ucap Raka dengan penuh amarah.


"Jika tidak mengingat Kakek sudah tua, saya sudah menghajar Kakek sejak tadi. Mematahkan tangan yang sudah mencelakai adik dan calon keponakan saya," ucap Raka dengan amarah yang begitu meledak.


"Pa, kenapa Papa sangat tega kepada Jelita? Dia itu cucu Papa! Sampai Jelita kenapa-napa aku akan menuntut Papa," ucap Papa Frendy dengan tajam.


"Arghhh..."


Bukk...buk...


Raka meninju tembok dengan kuat, meluapkan amarahnya untuk sang kakek.


"Saya benci Kakek!"


"Raka, dimana istri saya? Kenapa bisa masuk rumah sakit?" tanya Rasyad dengan napas yang sama sekali tidak beraturan.


Rasyad melihat ke arah kakek Agam. Rahangnya mengeras dan Rasyad langsung menarik baju kakek Agam dengan keras. "Kamu...kamu apa kan istri saya? belum cukup kamu membuat istri saya menderita, hah?" tanya Rasyad dengan amarah yang memuncak. Apalagi melihat mama mertuanya menangis histeris, pasti keadaan Jelita tidak lagi baik-baik saja sekarang.


"JAWAB! JANGAN DIAM SAJA! KAMU BEGITU BERANI MELUKAI ISTRI SAYA TETAPI SEKARANG MENGAPA MALAH DIAM SEPERTI INI, HAH?" teriak Rasyad dengan emosi.


"Maaf Tuan bisa anda lepaskan tangan anda dari tuan besar," ucap Adnan dengan tegas.


"DIAM KAMU! KAMU PIKIR SIAPA KAMU BERANI MENYURUH SAYA, HAH? BOS BESAR KAMU INI SUDAH SANGAT KETERLALUAN, DIA SUDAH MELUKAI ISTRI DAN CALON ANAK-ANAK SAYA DENGAN KEJAM. DIMANA HATI NURANINYA SEBAGAI KAKEK? DIMANA? JAWAB SAYA!" teriak Rasyad mengamuk.


Rasyad mendorong kakek Agam hingga lelaki tua itu terjatuh.


"Tuan Rasyad anda sudah keterlaluan," ucap Adnan dengan marah.


"KAMU BILANG SAYA KETERLALUAN? LALU KAMU DAN KAKEK TUA INI APA, HAH? MELUKAI WANITA HAMIL TANPA BELAS KASIH? KALIAN APA? PSIKOPAT BEGITU? IYA?"

__ADS_1


Rasyad menarik Adnan dengan amarah yang memuncak. Raka tak melerai mereka sedikit pun, ia semakin menatap benci kakek Agam.


Buk...bukkk...


"kesakitan harus dibayar dengan kesakitan dan nyawa harus dibayar dengan nyawa!" ucap Rasyad dengan murka.


"Saya tidak akan melepaskan kalian begitu saja!"


"S-saya menyesal," ucap Kakek Agam dengan lirih.


"Apa? Menyesal? Terlambat tua bangka!" ucap Dimas dengan tajam.


Mendapatkan kabar jika adik kesayangannya masuk rumah sakit membuat Dimas kalut. "Nyawa harus dibayar nyawa!" ucap Dimas dengan geram.


"Tolong jangan membuat keributan di sini. Pasien sedang kritis karena pendarahan hebat yang terjadi pada kehamilannya," ucap dokter yang baru saja keluar.


"A-apa kritis dokter?" tanya semuanya dengan kompak.


"Iya Pak, Bu! Pasien mengalami pendaratan hebat. Dan anak kembarnya..."


"Bagaimana dengan anak kembar saya, Dok? Mereka selamat, kan?" tanya Rasyad dengan cemas.


"Mohon doanya, Pak. Agar kami bisa menyelamatkan keduanya, tetapi kemungkinan besar salah satunya tidak bisa terselamatkan," ucap Dokter dengan rasa bersalah.


Rasyad langsung terduduk di lantai. Ia menangis tanpa suara. "Tolong selamatkan istri dan anak-anak saya, Dok! Berapa pun biayanya akan saya bayar. Anak kami adalah kebahagiaan istri saya dan kebahagiaan saya adalah keselamatan ketiganya," ucap Rasyad dengan memohon.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak. Berdoa saja untuk keselamatan ketiganya," ucap dokter dengan menguatkan Rasyad.


"Saya permisi!"


Tangis kian pecah dari Mama Amanda, Erina, Arieska, bunda Gladis dan tentu saja Rasyad bahkan Raka, Damian, dan juga Dimas ikut menangis. Kakek Agam juga meneteskan air matanya, ia melihat ke arah tangan yang sudah mendorong Jelita.


"Saya pembunuh!"

__ADS_1


"KAMU MEMANG PEMBUNUH. SAYA TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN KAMU!" teriak Rasyad dengan murka.


"DASAR PEMBUNUH!"


__ADS_2