
...Hei-hei aku kembali nih. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya. Bantu share juga cerita ini ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang baca cerita ini....
...Happy reading...
****
Setelah seharian di rumah sakit untuk menjaga Gladis yang belum siuman sejak saat itu. Rasyad dan Jelita memutuskan untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya, Nathan sudah Jelita bujuk untuk pulang bersama tetapi ayahnya tersebut tetap tidak mau pulang. Jelita sebenarnya ingin menginap di rumah sakit tetapi ia ingat dengan Nazwa yang mereka tinggalkan bersama dengan baby sitter yang Rasyad pekerjakan untuk menjaga sang anak.
Tak ada percakapan dari keduanya. Jelita sedang sibuk bertukar pesan kepada adik manjanya yang merengek untuk Jelita segera pulang ke rumah mereka. Jelita terkekeh, ia tidak sadar jika Rasyad memperhatikannya sejak tadi.
"Lucu banget sih!" gumam Jelita yang tertawa kecil membaca pesan adiknya.
"Lucu? Hanya melihat benda kecil itu kamu tertawa?" ujar Rasyad dengan datar. "Lucu banget sih!" ucap Rasyad mengulangi ucapan Jelita tadi. Tiba-tiba saja Rasyad menjadi kesal sekarang, bisa-bisanya Jelita tertawa dengan benda tak berguna itu padahal ada dirinya di samping gadis itu.
"Mas bicara padaku?" tanya Jelita dengan raut wajah tak bersalahnya.
"Bukan! Aku sedang bicara pada spion!" jawab Rasyad dengan ketus.
"Oooo..." Jelita dengan santainya hanya ber-o-ria saja membuat Rasyad semakin kesal. Selalu saja Jelita bisa menjungkir balikkan keadaan sekarang.
Rasyad tak lagi berbicara ia lebih memilih fokus menyetir, sudah cukup emosinya dipermainkan oleh Jelita sekarang. Sebenarnya Jelita sedang bertukar pesan kepada siapa? Rendy atau ada lelaki lain lagi? Memikirkan itu membuat Rasyad merasa panas, ia butuh udara segar sekarang.
Keduanya sudah sampai di rumah. Jelita langsung membuka pintu mobil, karena memang ia tak ingin banyak bicara kepada Rasyad yang akan berpotensi menyakiti hatinya kembali. Sedangkan Rasyad, pria itu berulang kali mengambil napas untuk meredakan emosinya, ia juga menyusul Jelita masuk ke dalam rumah. Tidak mendapati sang istri di sana Rasyad langsung menuju kamarnya.
Rasyad dibuat terenyuh saat melihat pemandangan dimana Nazwa berada di dalam gendongan Jelita.
"Bunda!" panggil Nazwa dengan lirih.
"Iya Sayang! Kenapa hmm?" tanya Jelita mengelus rambut Nazwa dengan lembut.
__ADS_1
"Wawa gak mau kehilangan Bunda sepelti Wawa kehilangan mama. Mama jahat Bunda! Mama pelgi ninggalin Wawa gitu aja. Mama seling bentak Wawa kalau ayah gak ada di lumah, Wawa takut mama datang Bunda," adu Nazwa yang membuat Jelita dan Rasyad memejamkan matanya.
"Kenapa Wawa bisa ngomong seperti itu? Bunda tidak akan meninggalkan Wawa," ucap Jelita dengan lirih.
"Tadi Wawa mimpi mama bawa Wawa pelgi. Wawa gak mau tapi mama tetap maksa wawa. Wawa gak mau kehilangan Bunda," cerita Nazwa yang membuat Jelita tersenyum.
"Wawa gak akan kehilangan Bunda. Iya kan Bun?" ucap Rasyad memghampiri keduanya.
Jelita tersenyum paksa. "Iya Ayah! Bunda tidak akan meninggalkan Wawa!" ucap Jelita pada akhirnya.
"Wawa mau tidul sama ayah dan bunda," ucap Nazwa membuat Jelita dan Rasyad tercengang.
"Boleh, kan?" tanya Nazwa dengan penuh harap.
"B-boleh!" ucap keduanya terbata.
*****
"Tidur sudah malam!" ucap Rasyad dengan dingin. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang berkala, saat ini Rasyad tidak bisa tidur karena piyama yang Jelita pakai membangunkan sesuatu di bawah sana, Rasyad terpancing gairah hanya melihat belahan dada Jelita.
"Sial! Kenapa dari dulu sampai sekarang aku selalu tidak kuat jika melihat lekuk tubuhnya? Ya Tuhan aku bisa mati jika seperti ini terus," gumam Rasyad di dalam hati.
Kepalanya berdenyut sakit saat merasakan ngilu pada miliknya yang terus memberontak ingin dikeluarkan dari tempatnya.
"Bagaimana bisa tidur kalau kamu terus bergerak seperti itu," jawab Jelita mencari pembelaan karena sebenarnya ia tidak bisa tidur karena ada Rasyad di sampingnya.
"Diamlah!" ucap Rasyad dengan kesal.
"Kamu yang diam! Menyebalkan!" ucap Jelita tak terima.
__ADS_1
"Arghh..." Rasyad turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Sepertinya malam ini ia harus bermain solo bersama dengan sabun yang akan menemaninya malam ini.
Jelita yang merasa aneh dengan sikap Rasyad hanya mengedikkan bahunya acuh dan mulai mencoba tidur dengan memeluk Nazwa.
****
Erina mengelus tempat tidur Raka. Ia kesepian sekarang karena Raka tidak pulang ke rumah ini, berulang kali Erina memejamkan matanya tetapi tidak berhasil. Erina tidak bisa tidur sekarang, ia merasa kehilangan Raka padahal baru kemarin mereka tidur bersama tetapi seperti kehilangan Raka bertahun-tahun.
Ceklek....
Erina beringsut bangun saat mendengar suara pintu terbuka. Ingin sekali Erina meloncat kepelukan Raka saat melihat pria itu memasuki kamarnya.
"M-mas pulang?" tanya Erina bangun dari kasur dan menghampiri Raka membantu pria itu membuka jas kerjanya.
"Kenapa? Gak suka saya pulang?" tanya Raka dengan dingin.
Sebenarnya Raka sudah ingin menginap di rumahnya sendiri. Ia tidak ingin Damian curiga tetapi entah mengapa Raka merasa gelisah dan kepikiran dengan Erina. Akhirnya Raka memutuskan untuk pulang demi menghilangkan rasa gelisahnya.
"B-bukan begitu. A-aku pikir Mas tidak akan pulang karena tadi Mas bilang kalau tidak akan pu..."
"Pekerjaan saya sudah selesai!'" ucap Raka dengan cepat memotong ucapan Erina. "Saya lelah mau tidur!" ucap Raka yang langsung merebahkan dirinya di kasur.
Erina tersenyum dan menyusul suaminya yang sudah berbaring di sampingnya. "Aku pijatin ya Mas!"ucap Erina memijat kepala suaminya dengan perlahan.
Raka merasa nyaman dengan pijatan Erina saat ini. Tetapi ia mencegah tangan Erina. "Ini sudah malam tidurlah!" ucap Raka dengan tegas.
Erina dibuat bungkam saat Raka memeluknya dari belakang. Bahkan Erina tak berani bergerak saat pelukan itu semakin erat.
"Jangan bergerak jika tidak ingin membangunkan sesuatu di bawah sana!" ucap Raka dengan datar saat merasakan pergerakan kecil dari Erina yang bisa membahayakan miliknya.
__ADS_1
Bisa saja Raka kembali meminta jatahnya. Namun, entah mengapa Raka tidak tega melihat Erina saat pagi tadi berjalan dengan sangat aneh, apalagi ringisin wanita itu. Raka bisa menebak jika milik Erina robek karena ulah juniornya.
"Bagaimana aku tidak terpesona denganmu, Mas. Pelukanmu saja sangat membuatku nyaman. Boleh tidak jika aku mendapatkan pelukan seperti ini setiap malam?"