
"Bagaimana tadi di kantor Bang?" bertanya Azizah, istri Nizar, sambil memasukkan sesuap nasi ke mulut. Sehabis Sholat Isya mereka makan malam. Malam ini sebagai menu makan mereka, Azizah masak terong asam dimasak santan, ikan jambal masin digoreng lalu ditumis pedas, cencalok, sambal belacan serta ayam goreng crispy . Kesemua makanan kesukaan Nizar kecuali ayam goreng crispy itu spesial untuk Faiz.
"Sebenarnya ada yang hendak Abang bicarakan tapi nanti saja," ia melihat ke arah Faiz, anak laki-laki semata wayang mereka yang duduk di sebelahnya. Faiz sendiri saat ini duduk di bangku kelas dua SD. Ia bersekolah di salah satu SD swasta ternama di Kota Pontianak.
"Bagaimana tadi di sekolah?" Nizar bertanya sambil mengelus kepala Faiz dengan sayang.
"Faiz dapat angka delapan puluh saat mengerjakan soal Matematika di sekolah,"Faiz berkata cemberut.
"Kenapa anak Bapak cemberut?"
"Di kelasnya ada beberapa temannya yang dapat angka sembilan puluh bahkan ada yang dapat seratus." Azizah berkata sambil mengambilkan lagi potongan terong asam untuk Nizar.
"Faiz kan ingin jadi nomor satu."
"Kalau kamu belajar yang rajin Insya Allah pasti nanti dapat seratus tapi angka delapan puluh itu bukan angka jelek juga."
Selesai makan malam mereka kemudian gosok gigi. Azizah tampak mengomeli Faiz yang susah sekali kalau disuruh gosok gigi.
"Nanti giginya dimakan kuman lalu kamunya dibawa ke dokter gigi."
"Faiz nggak mau ke dokter gigi, Faiz ndak mau disuntik," Faiz tampak ketakutan wajahnya kini. Pernah waktu itu seorang dokter datang ke sekolahnya memberikan suntikan imunisasi kepada setiap murid. Teman-temanya banyak yang menangis menerima suntikan tersebut termasuk dirinya.
"Makannya gosok gigi biar nggak sakit gigi jadi Faiz nggak perlu ke dokter gigi."
Faiz kemudian menuruti perintah ibunya. Nizar yang telah selesai gosok gigi hanya tersenyum melihat tingkah istri dan anaknya.
***
"Oh ya Bang, katanya ada yang hendak Abang katakan tadi."
"Pas selesai makan siang tadi di warung makan Padang dekat kantor, Fahri menemui ku. Ia berkata hendak menikah lagi," Nizar berkata. Saat ini mereka berada di atas tempat tidur di kamar mereka. Faiz sendiri tidur di kamar sebelah. Semenjak Faiz masuk SD tahun lalu, Nizar dan Azizah sepakat untuk mengajari anaknya itu agar berani tidur sendiri. Awalnya tidak mudah karena Faiz masih takut tidur sendiri akan tetapi setelah diberi sedikit pengertian akhirnya Faiz berani tidur sendiri di kamarnya.
"Dasar laki-laki," ketus Azizah berkata. Nizar terkekeh dibuatnya. Ia sudah dapat menduga reaksi istrinya akan seperti ini.
"Adik Abang tuh,"lanjut Azizah masih dengan nada ketus membuat Nizar tersenyum kini.
"Abangkan belum selesai ceritanya," Nizar membetulkan letak bantal agar nyaman ia bersandar.
"Kau tahu kan program bayi tabung yang mereka lakukan gagal."
"Lantas?"
"Emak ingin punya cucu dari Fahri jadi dia menyuruh Fahri untuk menikah lagi."
__ADS_1
"Emak maksud Abang Emak Nurpiah yang menyuruh Fahri menikah lagi."
"Ya."
"Bagaimana reaksi Andari?"
"Dia setuju dengan keinginan Emak kalau Fahri menikah lagi."
"Andari setuju?"
"Justru Fahri yang tak setuju dengan rencana ini."
"Kasihan Andari."
Azizah teringat kemudian akan sosok Andari. Azizah lebih tua tiga tahun dari Andari tapi sosoknya yang bersahaja membuat Azizah malu akan diri sendiri. Andari lah yang membuatnya sadar dan kemudian menggunakan kerudung setelah ia menikah dengan Nizar.
Ia teringat pertemuannya dengan Andari. Fahri waktu itu hendak mengantar Andari ke Supadio karena Andari waktu itu hendak berangkat ke Jogja untuk meneruskan pendidikannya di sana.
Kebetulan waktu itu Basry yang merupakan sepupunya hendak ke Jakarta juga beserta kedua orangtuanya yang merupakan paman dan bibinya. Basry hendak melanjutkan pendidikannya di Jakarta.
Akhirnya disepakati Basry dan orangtuanya ikut mobil Fahri ke Supadio. Selain hemat biaya taksi, Kijang Inova yang dikemudikan Fahri Masih cukup menampung lima orang penumpang lagi karena Nizar dan dirinya yang waktu itu masih berstatus pacaran ikut turut serta ke bandara.
Ia duduk di bangku tengah bersama Ibu Basry serta Ayah Basry. Sedang Basry duduk di belakang bersama Nizar. Andari sendiri duduk di depan bersama Fahri yang saat ini tampak berkonsentrasi dalam mengemudikan mobilnya.
Pertemuan kedua mereka terjadi di Alun-Alun Kapuas. Waktu itu ia dan Nizar serta Fahri sedang menikmati sore hari. Ia dan Nizar jalan berdua, Fahri berjalan sendiri.
Dari kejauhan ia dapat melihat sosok Fahri sedang berbincang dengan seorang wanita. Wanita itu menggunakan kulot berwarna krem, atasan berwarna putih serta kerudung berwarna kuning cerah.
"Siapa tuh Bang yang berbincang dengan Fahri?" tanyanya waktu itu dengan penasaran.
"Entahlah, kita dekati saja."
Mereka kemudian mendekati Fahri dan wanita itu.
"Bang Nizar, Kak Azizah bagaimana kabarnya?" tanya wanita yang tadi berbincang dengan Fahri.
Azizah kaget karena sosok wanita itu memeluknya kemudian. Mencium pipi kiri pipi kanannya. Sedangkan dengan Nizar wanita itu menangkupkan kedua tangan di dada.
"Siap.." Azizah hendak berkata "Siapa?" tapi saat ia menatap ke wajah wanita itu, ia langsung mengenali siapa wanita itu.
"Andari!" Azizah kaget begitu pula dengan Nizar.
"Kami akan menikah," itu perkataan Fahri yang membuat mereka kaget untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Seminggu kemudian Fahri dan Andari menikah. Alasan Fahri dan Andari untuk menikah muda agar terhindar dari fitnah dan juga zina. Hal itu membuat dirinya maupun Nizar tersadar bahwa tidak menutup kemungkinan fitnah dan zina itu dapat menimpa mereka karena status mereka yang masih pacaran.
Tiga bulan kemudian giliran ia dan Nizar melangsungkan pernikahan di rumah orangtuanya di daerah Nipah Kuning. Lagi pula sudah tidak ada alasan bagi dirinya dan juga Nizar untuk menunda pernikahan mereka. Nizar sendiri sudah memiliki pekerjaan tetap yaitu mengelola biro perjalanan warisan ayahnya yang kantornya terletak di Sungai Jawi.
Setelah menikah ia kemudian memutuskan untuk menggunakan kerudung. Malu ia melihat Andari yang lebih muda dirinya telah melakukan itu.
"Maaf ya Kak seharusnya niat Kakak pakai kerudung bukan karena saya tapi murni karena Allah SWT," kata Andari waktu itu. Waktu itu hari minggu. Mereka lagi kumpul keluarga di rumah Fahri di perumahan Dwi Ratna.
Waktu itu ia membantu Andari menyiapkan makanan di dapur. Ia mengatakan kepada Andari ia menggunakan kerudung karena malu dengan sosoknya yang lebih muda tapi sudah memakai kerudung.
"Lagi pula dalam Al-Quraan disebutkan bahwa wanita muslim diwajibkan untuk menutupi auratnya. Salah satunya surat An nur Ayat 31"
Andari kemudian membacakan terjemahan dari surat An nur Ayat 31 untuk dirinya.
"Katakanlah wahai wanita beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan ***********. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali pada suami mereka ,atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita. Dan janganlah kamu memukul kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung."
Beberapa bulan kemudian ia mengandung anak pertamanya dengan Nizar. Sembilan bulan kemudian lahirlah anak pertama mereka yang kemudian diberi nama Muhammad Faiz.
***
"Oh ya Bang, kira-kira siapa yang akan jadi istri kedua dari Fahri?"
"Arini."
Seraut wajah melintas di wajah Azizah. Ia pernah bertemu sekali dengan Arini. Saat itu Ia dan Nizar baru pulang dari Mega Timur karena harus menhadiri pernikahan seorang sahabatnya. Rumah mereka sendiri terletak di jalan Sungai Selamat. Dulunya jalan ini bernama Sungai Bentasan.
Saat melintas di jalan Gusti Situt Mahmud, ia teringat di rumah tidak ada minyak makan. Ia kemudian meminta Nizar untuk mampir sebentar ke Indomaret. Kebetulan di Indomaret minyak makan lagi promo. Lumayan kan bisa hemat beberapa ribu rupiah. Nizar kemudian membelokan Honda Blade yang mereka kendarai ke Indomaret terdekat.
Kebetulan yang menjaga meja kasir Arini. Nizar kemudian menjelaskan bahwa Arini adalah teman satu kampusnya dan juga Fahri tapi mereka beda fakultas. Selain itu Arini adalah teman satu kelas sekaligus teman baik Fahri dan juga Andari di SMU.
"Andari sendiri yang memilihkanya untuk Fahri. Begitu kata Fahri."
"Walau aku baru bertemu dengan dengan Arini hanya sekali dan belum mengenalnya dengan baik, tapi menurut ku Arini Insya Allah adalah calon yang tepat untuk istri kedua Fahri. Lagi pula ini sesuatu yang luar biasa karena seorang istri mencarikan istri kedua untuk suaminya dan istri kedua untuk suaminya adalah teman baiknya sendiri."
CATATAN
Terong asam: Bentuk buah bulat. Jika masak berwarna kuning. Tekstur buah mirip terong dan rasanya asam.
Masin: Asin.
Cencalok: Udang kecil yang difermentasikan.
Belacan: Terasi.
__ADS_1
Minyak makan: Minyak goreng.