
...Happy reading...
*****
Raka tak lagi memikirkan orang yang berada di sekitarnya, ia melahab dengan rakus sate tongseng kambing buatan Rasyad. Erina hanya bisa meringis melihat Raka yang tampak rakus padahal sebelumnya Raka sama sekali tidak menyukai daging kambing. Namun, sekarang suaminya itu begitu lahab memakan satenya.
"Dek, suami kamu sudah tidak makan berapa tahun sih? Rakus sekali!" ucap Rasyad dengan raut wajah jijik melihat ke arah Raka.
"Setiap hari makan, Kak. Malah ngemil tengah malam pula," jawab Erina yang merasa aneh dengan perubahan suaminya. Tidak suka ngemil, kini jadi suka ngemil, tidak suka yang asam-asam, jadi pecinta asam, dan sekarang tidak suka daging kambing tetapi hari ini ia melihat Raka begitu lahab memakan daging kambing yang dibuat sate oleh kakaknya.
"Orang ngidam sudah biasa seperti itu. Mas Rasyad jangan heran," ucap Jelita dengan tenang.
Raka yang mendengar dirinya menjadi pergunjingan antara istri, adik dan suami adiknya langsung menatap ketiganya dengan datar. "Kenapa?" tanya Raka dengan dingin.
"Rakus!" ejek Rasyad yang membuat Raka langsung melempar tusuk sate ke arah Rasyad.
"Erin, mau?" tanya Raka yang memberikan sate kehadapan istrinya mengabaikan Rasyad yang hendak proses kepadanya.
"E-emang boleh Mas?" tanya Erina dengan hati-hati.
"Boleh lah! Siapa yang melarang kamu untuk makan," ucap Raka dengan santai. "Kalau kamu dan bayi kita sakit perut salahkan saja Rasyad karena dia yang membuatnya," ucap Raka dengan datar.
"Yakkkk....saya gak mungkin menyakiti adik dan calon keponakan saya sendiri. Kamu benar-benar ya Raka!" ucap Rasyad dengan kesal.
__ADS_1
"Kenapa? Apa yang saya katakan benar, kan? Jika istri dan anak saya sakit perut setelah makan sate tongseng kambing buatan kamu maka kamulah yang bersalah di sini," ucap Raka dengan datar dan semakin memancing kekesalan Rasyad kepadanya.
"Hush...kalian jangan ribut Nazwa bisa keganggu dengan suara berisik kalian," ucap Jelita yang tengah memangku Nazwa yang sudah tertidur dengan pulas setelah bermain dengan Erina.
Keduanya langsung terdiam saat melihat Nazwa yang memang sudah tertidur pulas. Rasyad langsung menggantikan Jelita untuk menggendong Nazwa, ia tidak ingin Jelita kelelahan.
"Biar Mas saja yang menggendong Nazwa, Sayang!" ucap Rasyad dengan lembut.
Jelita yang memang sudah merasa pegal langsung memberikan Nazwa pada Rasyad. "Kita pulang sekarang?" tanya Rasyad yang diangguki oleh Jelita.
"Dek, kami pulang dulu ya. Bilang sama suami kamu jangan coba-coba merepotkan Kakak lagi! Cukup sekali ini saja Kakak mau menuruti keinginan konyolnya," ucap Rasyad dengan secara terang-terangan tidak ingin kembali direpotkan oleh Raka. Membuat sate tongseng kambing saja Rasyad sudah kerasa kesulitan walau sudah diarahkan dengan sang istri dan Rasyad tidak ingin terjadi untuk kedua kalinya Raka merepotkannya.
"Kalau bukan karena ngidam saya juga tidak sudi memakan masakan kamu!" ucap Raka dengan dingin.
"Terserah! Yang penting sekarang kamu sudah memakan masakan buatan saya!" ucap Rasyad dengan ketus.
"TIDAK!" jawab keduanya dengan lantang yang membuat Jelita dan Erina menghembuskan napasnya dengan kasar.
Bagaimana caranya membuat keduanya akur?
*****
Dimas merasa muak dengan wanita di hadapannya ini. Seakan menerornya setiap hari, kebal sekali hatinya walau sudah Dimas usir sekali pun Amanda tetap datang menemuinya.
__ADS_1
Diusir di kantornya dan sekarang Amanda datang ke rumahnya. "Berani sekali anda datang ke rumah saya!" ucap Dimas dengan tajam.
"Ini dulu juga rumah Mama, Dimas!" ucap Mama Amanda dengan tak tahu dirinya yang semakin membuat Dimas geram.
Dimas menyeringai dingin ke arah wanita yang sudah menghancurkan hidupnya dengan begitu dalam. "Rumah anda? Hahaha....anda tahu? Sejak saat itu saya sudah menganggap anda itu sudah mati!" ucap Dimas dengan penuh penekan.
Plak....
Mama Amanda menampar Dimas dengan kencang. "Lancang sekali kamu menganggap Mama yang sudah melahirkan kamu dengan susah payah sudah mati. MAMA INI MASIH HIDUP, DIMAS!" teriak Mama Amanda dengan penuh emosi.
Dimas menyeka sudut bibirnya. Ia sama sekali tidak merasa sakit dengan tamparan mamanya, sakit karena tamparan mamanya tidak sebanding dengan sakit di hatinya.
"MAS DIMAS!" teriak Arieska yang syok saat melihat suaminya ditampar oleh mama mertuanya.
Arieska langsung mendekat ke arah suaminya. "Tante mau apa datang ke rumah ini? Kalau hanya ingin mengusik kebahagiaan suami saya maka saya tidak akan membiarkan Tante melakukan itu!" ucap Arieska dengan tajam.
"Dimas itu anak saya maka saya berhak menemuinya!" jawab Mama Amanda dengan tajam.
"ANDA BUKAN MAMA SAYA!"
"M-mama!"
Mama Amanda, Dimas, dan Arieska melihat ke arah sumber suara. Ketiga mematung melihat keberadaan Jelita yang tak jauh darinya. Dimas khawatir dengan keadaan Jelita yang pucat pasih sekarang.
__ADS_1
"Enggak! Wanita itu bukan Mama!"
"Bukan!" teriak Jelita histeris ketakutan.