
...Akhirnya part salah kamar tadi bisa dihapus oleh sistem. Dan ini part yang sebenarnya ya! Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya! ...
...Happy reading...
****
Lingkaran hitam sangat terlihat jelas di mata Rasyad. Sebulan ini pria itu tidak tidur dengan nyenyak, ia terus memikirkan Jelita. Bagaimana membawa gadis itu pulang ke rumah? Rasyad sudah sangat merindukan Jelita! Apalagi kesehatan Gladis yang terus menurun membuat Rasyad merasa bersalah karena tak bisa membawa Jelita pulang ke rumah mereka. Gladis masuk ke rumah sakit sejak kemarin membuat pikiran Rasyad kalut, ia tak tahu harus mencari Jelita kemana lagi, semua tempat sudah ia telusuri tetapi belum mendapatkan kabar apapun seakan gadis itu di telan bumi.
Tiba-tiba Rasyad membalakkan matanya saat melihat seseorang gadis yang sangat mirip dengan Jelita sedang menyebrang jalan. Dengan cepat Rasyad keluar dari mobilnya.
"JELITA!" teriak Rasyad begitu keras. Rasyad melihat ke kanan dan ke kiri, ia mencoba menyeberang untuk mengejar Jelita. Setelah merasa jalanan sedikit lenggang, Rasyad berlari dengan kencang, jantungnya berdegup dengan kencang saat melihat Jelita semakin dekat dengannya.
"Jelita berhenti!" teriak Rasyad dengan frustasi.
Merasa ada yang memanggilnya, Jelita melihat ke arah belakang. Betapa terkejutnya Jelita saat melihat Rasyad berlari ke arahnya, dengan sekuat tenaga yang Jelita punya, ia mencoba menghindar dari Rasyad dengan berlari kencang, untung saja cafe tempat di mana ia bekerja sudah berada di depan. Keringat jelita bercucuran seperti dikejar penjahat, jantungnya juga berdegup dengan sangat kencang kala Rasyad semakin mendekat ke arahnya.
Hap...
Rasyad berhasil memegang tangan Jelita dengan kuat. Tanpa aba-aba ia langsung memeluk Jelita dengan erat, Jelita akui ia sangat merindukan Rasyad bahkan pelukan Rasyad masih terasa nyaman untuknya, tetapi kali ini Jelita memberontak dengan kuat dan memukul dada Rasyad bertubi-tubi. Rasyad tidak peduli, ia terus memeluk Jelita dengan erat dengan mengatur napasnya yang tidak beraturan.
__ADS_1
"Lepas! Aku harus bekerja!" ucap Jelita dengan datar.
"Kerja? Jadi, setelah menghilang dari rumah dan tidak masuk kampus selama sebulan kamu bekerja? Kakak kan sudah bilang kamu bisa bekerja di perusahaan ayah setelah kamu lulus kuliah nanti! Tidak usah repot-repot bekerja Kakak bisa membiayai semua kebutu...."
"Stop!" teriak Jelita dengan marah. "Jangan memanjakan Jelita lagi! Sifat Kakak yang seperti itu membuat jelita semakin tidak tahu diri nantinya!" ucap Jelita dengan tajam.
Rasyad menghela napasnya dengan kasar. "Tetap saja kamu itu hanya boleh fokus dengan kuliah, Jelita! Ngerti gak sih kalau Kakak lakukan ini karena Kakak gak mau kamu capek dan terlalu memforsir tubuh kamu untuk kuliah dan bekerja! Sekarang ayo kita pulang! Mau tidak mau kamu tetap akan pulang bersama Kakak!" ucap Rasyad dengan dingin.
"Aku gak mau pulang! Biarkan aku hidup mandiri! Please jangan ganggu aku lagi!" ucap Jelita dengan lelah. Ia mencoba melepaskan pelukan Rasyad, dengan susah payah Jelita akhirnya bisa melepaskan diri dari pelukan Rasyad.
Rasyad menatap Jelita dengan sendu. Kemana Jelita yang selalu manja kepadanya? Sepertinya Rasyad kehilangan sifat manja Jelita kepadanya saat ini dan itu membuat hatinya berdenyut sakit. "Kamu berubah!" ucap Rasyad dengan tak percaya bahkan nadanya terkesan dingin.
Jelita berjalan kembali untuk masuk ke cafe tempatnya bekerja. Ia takut di hari pertama kali ia bekerja, Jelita sudah telat. Jelita melihat pergelangan tangannya, ada waktu 20 menit lagi, itu artinya Jelita tidak terlambat.
"BUNDA MASUK RUMAH SAKIT KARENA MEMIKIRKAN KAMU!" teriak Rasyad dengan keras dan itu berhasil membuat tubuh Jelita mematung dengan hebat.
*****
Dimas menatap Arieska yang sudah berada di depannya. Ia menelisik tubuh Arieska dengan sangat serius, ada yang berbeda dengan gadis yang ada di hadapannya sekarang, Arieska terlihat semakin pucat dan tubuhnya terlihat kurusan.
__ADS_1
"Pagi, Dim!" ucap Arieska dengan ceria. "Dimana Jelita?" tanya Arieska dengan celingukan melihat ke dalam rumah Dimas mencari keberadaan Jelita yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Kerja," jawab Dimas dengan singkat tetapi matanya masih fokus menatap Arieska.
"Kerja? Lo biarin adik lo kerja?" tanya Arieska.
"Biar mandiri! Karena gak selamanya dia harus bergantung sama orang lain," jawab Dimas dengan datar.
Arieska hanya mengangguk saja membenarkan ucapan Dimas. Dimas sangat keras, dan perkataannya tidak bisa dibantah sedikit pun. Dan Arieska tidak ingin berdebat dengan Dimas karena tubuhnya sangat lemas terlebih program diet yang ia jalani sangat menguras tenaganya karena Arieska melakukan diet yang salah. Bahkan Arieska sama sekali tidak sarapan pagi, dan sering kali memuntahkan makanan yang ia makan ketika tidak bersama dengan kedua orang tuanya agar mereka tidak curiga. Hal itu ia lakukan agar tubuhnya tidak semakin gendut dan semakin dibenci oleh Dimas dan melupakan kesehatannya sendiri.
"Kalau gitu gue pulang deh. Gue takut ganggu lo," ucap Arieska dengan tersenyum terpaksa.
"Arieska!" panggil Dimas sebelum Arieska melangkah pergi.
"Iya, Dim. Kenapa?" tanya Arieska dengan lirih.
Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. Dimas mendekat ke arah Arieska membuat gadis itu deg-degan karena harum wangi tubuh Dimas menyeruak ke indra penciumannya.
"Apa yang lo lakukan sebulan ini?" tanya Dimas dengan curiga.
__ADS_1