Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 120 (Kehangatan Keluarga)


__ADS_3

...Happy reading...


*****


3 bulan kemudian...


Selama 3 bulan ini perlahan-lahan Jelita mulai bisa menerima keluarganya dengan baik. Mendapatkan kasih sayang dari mama dan papanya membuat Jelita bahagia, mungkin anak di dalam kandungannya ingin ia berdamai dengan masa lalu pahitnya dan membuka lembaran baru yang membuat semuanya bahagia.


Saat ini Rasyad sedang menyisiri rambut sang istri dengan perlahan, mereka baru saja selesai bercinta. Setiap ada kesempatan Rasyad selalu menjenguk anaknya bahkan di pagi hari sebelum dirinya berangkat ke kantor.


Seperti pagi ini, wajah keduanya tampak bahagia setelah menyelesaikan sesi mendapatkan kenikmatan bersama keduanya mandi bersama berakhir dengan Rasyad yang selalu memanjakan sang istri.


"Calon bunda sudah tampak segar hmm," ucap Rasyad dengan tersenyum melihat pantulan sang istri yang berada di cermin.


Wajah Jelita tersenyum mendongak ke arah Rasyad. "Segar habis dimanja sama suami," jawab Jelita dengan malu-malu.


Rasyad terkekeh dengan gemas ia mengecup bibir sang istri bertubi-tubi. "Manis sekali," ucap Rasyad dengan gemas.


Pipi Jelita bersemu merah kala mendapatkan pujian dari suaminya. Entahlah Jelita tidak tahu mengapa dirinya bisa menjadi seperti ini, sejak hamil pujian suaminya mampu membuat moodnya kembali baik.


"Kita jadi ke rumah kak Dimas, kan?" tanya Jelita dengan manja.


"Jadi, Sayang. Setelah 3 bulan Dimas menghindar untuk bertemu dengan papa akhirnya Dimas mau bertemu dengan papa," ucap Rasyad dengan lembut.


Jelita merasa lega, sekian lama dirinya juga menunggu akhirnya kakaknya mau menerima papanya. "Papa sama mama sudah di jalan mau ke rumah kak Dimas. Ayo kita ke sana Mas!" ucap Jelita dengan gembira kala ia mendapat pesan dari mamanya jika kedua orang tuanya sudah berada dalam perjalanan.


"Iya, Sayang. Ayo kita ke rumah Dimas," ucap Rasyad dengan lembut.


Jelita mengangguk dengan semangat ia menjadi tidak sabar saat ini membayangkan suasana hangat yang tercipta nantinya membuat Jelita gugup. Apakah kakaknya akan benar-benar menerima papanya? Jika keluarga mereka kembali utuh Jelita adalah wanita yang merass paling bahagia di dunia ini.


Perjalan mereka diwarnai dengan canda dan tawa dari keduanya. Saat ini Nazwa sedang bersama dengan Gladis dan Nathan menikmati quality time bersama. Mereka akan melakukan apapun untuk membuat Nazwa tidak mengingat Lolita kembali, apapun akan mereka lakukan untuk membuat Nazwa bahagia dan tidak merasa tersisihkan nantinya.


Sesudah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya keduanya sampai juga di rumah Dimas. Tak lama setelah itu mobil papa Frendy menyusul di belakangnya.


"Papa, Mama!" panggil Jelita dengan manja.

__ADS_1


"Hei, Sayang! Aduh anak Papa tambah cantik saja ini," ucap Papa Frendy dengan tersenyum memeluk Jelita dengan erat tetapi tidak menyakiti calon cucunya.


"Anak Mama juga, Pah!" protes Mama Amanda yang membuat Jelita terkekeh sedangkan Rasyad hanya tersenyum tipis.


"Iya-iya anak kita, Ma!" ucap Papa Frendy mengalah.


"Sebaiknya kita masuk sekarang, Pa, Ma!" ucap Rasyad dengan tenang.


"Ayo!" ucap Papa Frendy dan Mama Amanda dengan kompak.


Tanpa mereka sadari Dimas melihat kebahagiaan mereka dari jendela. Sejak tadi Dimas ingin membuka pintu rumahnya setelah mendengar suara mesin mobil berada di halaman rumahnya tetapi niat itu Dimas urungkan ketika melihat Jelita bahagia bertemu dengan kedua orang tuanya. Pertanyaan Dimas untuk dirinya sendiri, apakah Dimas mampu menerima mama dan papa sambungnya dengan baik? perlahan Dimas menghembuskan napasnya sebelum ia membuka pintu rumahnya.


"Semoga ini yang terbaik," doa Dimas di dalam hati.


"Kak Dimas!" teriak Jelita dengan bahagia dengan langsung memeluk kakaknya hingga Dimas hampir terhuyung ke belakang.


"Astaga Jelita. pelan-pelan, Dek! Kalau kita jatuh tadi bagaimana hah? Kakak tidak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan calon keponakan Kakak!" ucap Dimas dengan tegas. Rasa cemas langsung menghinggapinya kala jika tadi mereka jatuh kalau saja Dimas tak kuat menopang tubuhnya sendiri.


"Hehehe... Kangen Kak Dimas," ucap Jelita dengan manja yang membuat Dimas langsung luluh.


"Kita ngobrol dulu ya baru makan. Soalnya anakku masih kenyang, Kak. Aku takut dia seperti balon nantinya jika makan terus," ucap Jelita dengan manja dan terus merengek kepada Dimas. Bukan tanpa alasan Jelita melakukan itu, semua Jelita lakukan agar Dimas mengobrol dengan papanya tanpa canggung.


Arieska datang dari belakang dengan wajah yang lumayan pucat. Mama Amanda yang melihatnya langsung menghampiri Arieska. "Kamu kenapa Arieska wajah kamu kok pucat?" tanya Amanda dengan khawatir.


"Tidak apa-apa, Ma! Aku tadi mual melihat bawang merah," ucap Arieska dengan lirih.


"Kamu hamil?" tanya Mama Amanda dengan senang.


Dimas mendekat ke arah Arieska dan memeluk sang istri dengan erat. "Baru sebulan, Ma!" jawab Dimas dengan tersenyum.


"Pa, kita mau punya cucu lagi," ucap Mama Amanda dengan bahagia.


"Iya, Ma. Papa senang mendengarnya!" ucap Papa Frendy dengan gembira. Ternyata hidupnya sangat bahagia setelah lepas dari papanya sendiri. dirinya akan mendapatkan tiga cucu sekaligus dalam waktu yang berdekatan dari Raka, Jelita, dan Dimas. Hal itu adalah sesuatu yang sangat membahagiakan untuknya.


*****

__ADS_1


Saat ini Dimas dan Papa Frendy sedang duduk berdua. Keduanya tampak canggung sekali tetapi papa Frendy mencoba mengakrabkan dirinya kepada sang anak sambung yang dulu selalu menghindarinya. "Bagaimana dengan kabarmu?" tanya Papa Frendy dengan lembut.


"Baik, Om!" jawab Dimas dengan singkat.


"Panggil saya Papa sama seperti Jelita dan Raka karena bagaimana pun kamu adalah anak saya," ucap Papa Frendy dengan tersenyum.


"P-papa," ucap Dimas dengan terbata.


Papa Frendy tersenyum. "Ya seperti itu, Nak. Kamu sama seperti Raka, Jelita, dan Damian. Tidak ada yang Papa beda-bedakan," ucap Papa Frendy menepuk punggung Dimas dengan perlahan.


"Apakah saya pantas menjadi bagian dari keluarga kalian?" tanya Dimas dengan pelan.


"Tentu! Kamu anak Papa dan mama," ucap Papa Frendy dengan tegas.


Dimas tersenyum lega. Ternyata menerima keluarga barunya tidaklah seburuk yang Dimas bayangkan. "Terima kasih, Pa!" ucap Dimas dengan tulus.


"Papa yang minta maaf sama kamu. Gara-gara Papa kamu kehilangan keluarga kamu. Maafkan kesalahan Papa. Jujur saja Mama kamu adalah cinta pertama Papa, kami bersahabat sejak lama hingga mama kamu memilih papa kamu dan papa memilih pergi. Tidak disangka Papa bertemu dengan mama kamu saat mama kamu sedang kesepian karena kesibukan papa kamu dan di saat itu papa mulai mendekati mama kamu..."


"Tidak usah diteruskan, Pa! Semuanya sudah berlalu," ucap Dimas dengan tegas.


"Baiklah. Bagaimana keadaan Papa kamu?" tanya Papa Frendy mengalah.


"Baik. Papa lebih memilih hidup sendiri dari pada tinggal bersamaku dan Arieska," ucap Dimas tersenyum kecut.


Dimas tak langsung menjawab tetapi saat ia ingin menjawab pertanyaan papa sambungnya Dimas mendengar suara papanya yang datang.


"Papa," ucap Dimas dengan lirih.


Dimas melihat ke arah papa kandung dan sambungnya secara bergantian. Ada tatapan cemburu dari papa Frendy saat papa Dero menatap mamanya dengan dalam. Dimas yakin papanya masih menyimpan rasa cinta dan rindu itu untuk makanya.


"Apa kabar Frendy? Sepertinya kamu sudah berhasil membuat anak saya menerima kamu dengan baik," ucap Papa Dero dengan tajam.


"Kabar saya baik. Tentu karena Dimas juga anak saya seperti kamu yang mampu membuat anak saya menerima kamu dengan baik," jawab Papa Frendy dengan tenang.


"Ya karena sejak kecil Jelita tahu-nya saya adalah papanya Dan sampai sekarang pun saya adalah papanya!"

__ADS_1


__ADS_2