
Nizar mendorong sedikit piringnya kedepan yang di permukaanya ada bekas noda kuah gulai ayam, tulang ayam, serta beberapa bulir nasi. Ia baru saja selesai makan siang di salah satu warung makan Padang dekat kantor biro perjalanan di daerah Sungai Jawi.
Ia baru memasukkan sedotan ke dalam mulutnya dan berniat menghabiskan es tehnya yang tinggal setengah di gelas, saat tiba-tiba saja seseorang duduk di kursi kosong yang terletak di hadapannya.
"Kenapa muka awak tuh kusut seperti baju yang belum disetrika."
Fahri tersenyum sedikit mendengar perkataan Nizar. Fahri dan Nizar, mereka saudara satu ayah tapi lain ibu. Fahri langsung tahu bahwa Nizar berada di warung makan Padang ini karena jika ingin makan siang abangnya itu pasti ke sini.
"Bang!"
Nizar menatap Fahri yang usianya terpaut enam tahun lebih muda dari dirinya. Adiknya ini tampak hendak mengatakan sesuatu akan tetapi kemudian menjadi ragu.
"Aku nak poligami."
Tersedak Nizar saat menyedot es tehnya. Perkataan Fahri kali ini membuatnya kaget.
"Kenapa awak nak poligami?"
__ADS_1
"Abang tahu kan program bayi tabung yang aku lakukan bersama Andari gagal."
"Iya."
"Emak begitu kecewa. Ia nak cepat menimang cucu dari ku."
"Lantas kau nak poligami?"
"Andari yang memintanya Bang."
"Abang pasti heran."
"Tentu saja, langka seorang istri hendak mengijinkan suaminya berpoligami."
"Bahkan Andari telah mencarikan jodoh untuk ku."
"Siapa?"
__ADS_1
"Arini."
"Bang!"
"Apa?"
"Aku ndak bisa "
"Maksud mu berpoligami."
Fahri mengangguk.
"Maaf dalam hal ini abang tak dapat memberimu saran lagi pula ini sudah menyangkut keinginan Emak."
"Itu berarti aku harus melanggar janji ku sendiri," batin Fahri.
Teringat Fahri kemudian masa yang telah terlewati itu beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1