Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 40~ (Sisi Lain Dimas)


__ADS_3

...Hei-hei aku kembali lagi dengan cerita ini. Cerita ini emang sad di awal ya jadi yang gak kuat dengan kesedihan bisa di skip saja. Gimana dengan part ini? Jangan lupa ramein part ini dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya!...


...Happy reading...


*****


Jeritan kesakitan terdengar sangat lirih di gedung yang sangat gelap. Air mata bersamaan dengan darah segar keluar dengan mudah di tubuh Mentari saat Dimas dengan sadis menggores kulitnya dengan pisau.


"Dim tolong sudah hentikan!" pinta Mentari dengan lirih. Matanya sudah tak sanggup lagi terbuka. Namun, setiap luka yang Dimas buat pada tubuhnya membuat Mentari terpaksa membuka matanya karena air mata yang mengalir dengan derasnya menahan sakit akibat berbuatan Dimas kepadanya. Di dalam hatinya ia terus memanggil nama Elang berharap lelaki itu akan menolong dirinya, mata Mentari sudah sangat sayu, bibirnya pucat dan darah yang berada di pipinya hampir mengering namun akan kembali basah bersamaan dengan air matanya yang mengalir.


Dimas tertawa bak seorang iblis yang berhasil membuat nyawa lawannya di ujung tanduk. "Tidak semudah itu anak kecil! Luka ini belum seberapa di banding rasa sakit yang selama ini gue rasain sendiri. Bagaimana kalau lo melihat nyawa Elang melayang juga di tangan gue? Jadi dengan begitu kita tidak bisa memiliki Elang," ucap Dimas dengan terkekeh dan lalu tertawa keras seperti orang gila.


"Tapi sebelum lo mati. Tubuh lo akan di nikmati oleh anak buah gue. Gimana?" lanjut Dimas dengan berdesis tajam. Masih setia dengan pisau lipat yang sangat tajam yang ia punya untuk melukai Mentari. Setiap darah yang mengalir pada tubuh Mentari membuat Dimas puas dan senang apalagi melihat wajah kesakitan dari mangsanya sekarang.


"Kalau Mas Elang tahu kamu kayak gini pasti dia akan sangat membenci kamu!" ucap Mentari dengan tajam. Perlawanannya memang tidak seberapa saat tubuhnya yang di ikat sudah di penuhi oleh darah.


Mentari tersenyum melihat wajah Dimas yang mengeras. Menarik wajahnya dengan sangat keras hingga kuku tajamnya mengenai luka di pipinya. "Lebih baik aku yang mati dari pada Mas Elang," gumam Mentari dengan datar membalas tatapan Dimas tak kalah tajamnya.


"Ooo mau menjadi pahlawan rupanya," desis Dimas tersenyum miring.


"Aku lebih baik mati agar Mas Elang tetap hidup. Menurutmu jika kita mencintai seseorang, apa yang harus kita lakukan demi menyelamatkan nyawanya? Aku akan mengorbankan nyawaku demi dia selamat," ucap Mentari dengan tersenyum tulus. Bayangan kebersamaan dirinya dengan Elang berputar seperti sebuah film di otaknya, mungkin ini adalah sebuah akhir hidupnya mati di tangan mantan kekasih suaminya, lebih tepatnya mantan kekasih gay suaminya.

__ADS_1


"Aku akan merelakan nyawaku demi menyelamatkan Mas Elang. Seorang istri tidak akan membiarkan suaminya terluka," ucap Mentari dengan lirih. Bayangan Elang semakin jelas di ingatannya, membuat Mentari tersenyum walau nyawanya seperti akan melayang.


"Perempuan bodoh! Elang tidak mencintaimu!" bisik Dimas dengan tajam.


Hingga suara dobrakan pintu terdengar sangat keras. Membuat dua orang yang berada di dalam ruangan tersebut menatap ke arah pintu.


Brak...


"Mas Elang!"


"Elang!"


"DIMAS LEPASKAN ISTRI GUE!" teriak Elang dengan murka terlebih ia melihat banyak luka di tubuh istrinya.


"DIMAS LEPAS! ATAU GUE AKAN BUAT LO MEMBUSUK DI DALAM PENJARA!" teriak Elang dengan hati yang cemas menatap Mentari yang tidak berdaya. Namun, istrinya itu tetap tersenyum menatapnya dengan sayu.


"Hahaha... Jangan mendekat atau nyawa lo dan istri lo melayang dalam sekejap!" ucap Dimas dengan tajam mengarahkan pistolnya ke arah Elang.


Elang tetap melangkah dengan perlahan, ia sudah tidak sanggup melihat Mentari yang sudah penuh luka. Di luar Leon dan Akbar sedang bertarung melawan anak buah Dimas. Mereka yang memang jago bela diri mempercayakan Elang untuk menyelamatkan Mentari.


Mentari menggeleng ke arah Elang. "Jangan Mas! Mas jangan mendekat," ucap Mentari dengan histeris saat ia melihat tangan Dimas sudah siap menembak ke arah Elang. Mentari mencoba melepaskan tangannya yang di ikat, tak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya, ia juga merasakan perutnya sangat sakit seperti diremas.

__ADS_1


"Mas jangan. Aku mohon! Mas pergi saja dari sini. Hiks...hiks..." ucap Mentari dengan histeris.


Bagaimana bisa Mentari menyuruhnya pergi? Sedang sejak tadi ia sangat mencemaskan istrinya tersebut. Darah yang mengalir di tubuh istrinya membuat hati Elang benar-benar merasakan sakit, kilatan kebencian ia tunjukkan pada Dimas. Tak menyangka sahabat selaligus mantan kekasih gay-nya bisa berbuat nekad seperti ini.


"Lo dengar, kan Lang? Istri lo menyuruh lo pergi dari pada lo mati sia-sia," ucap Dimas dengan datar.


"Selangkah pun gue gak akan pergi dari sini!" ucap Elang dengan tegas. Meskipun ia harus mati maka Elang rela karena ia mati untuk menyelamatkan Mentari, istrinya. Istri yang tidak ia sadari telah membuatnya jatuh cinta. Ya Elang akui ia mulai mencintai Mentari. Melihat Mentari terluka sama saja membuat hatinya terluka.


"Berarti lo lebih memilih mati!" ucap Dimas dengan dingin.


"MAS ELANG PERGI!" teriak Mentari dengan histeris. Tak mungkin ia akan melihat Elang tertembak di depan matanya, lebih baik ia yang mati.


"GUE GAK AKAN PERGI! GUE JANJI AKAN MENYELAMATKAN LO!" seru Elang dengan tegas tak ada ketakutan di matanya ketika membayangkan peluru itu akan menembus ke arah dadanya.


"Bersiaplah dengan kematian lo Elang!" ucap Dimas dengan terkekeh. Lalu ia menatap tajam dengan pistol yang siap untuk ia tembakan.


Dorrr..


Dorr...


"Mentari!"

__ADS_1


"Arieska!"


__ADS_2