Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Sebuah Permintaan dari Seorang Sahabat


__ADS_3

Arini menyiram bunga yang ada di halaman rumahnya. Ia paling suka dengan pohon bunga kertas yang berhasil ia okulasi. Awalnya di pohon bunga kertas itu hanya ada satu warna yaitu putih. Setelah ia okulasi sekarang di pohon bunga kertas itu terdapat satu warna bunga lagi yaitu ungu. Ia belajar mengokulasi tanaman dari Pak Usu Zukri. Pak Usu Zukri adalah adik bungsu dari ibunya. Dulunya Pak Usu Zukri pernah sekolah di SMK Pertanian Flora Agung Pontianak. Selama menimba ilmu di Pontianak Pak Usu Zukri tinggal bersama dengan keluarganya. Hal itu kemudian dimanfaatkan oleh Arini untuk belajar tentang ilmu pertanian dari Pak Usu Zukri. Kebetulan salah satu hobi Arini adalah berkebun.


Setelah menamatkan sekolahnya Pak Usu Zukri memutuskan untuk pulang ke Sambas. Akan tetapi setahun kemudian Pak Usu Zukri memutuskan untuk merantau lagi. Kali ini ke Miri. Miri merupakan kota terbesar kedua setelah Kuching di Sarawak. Pada tahun dua ribu lima Miri dinobatkan sebagai kota pertama di Malaysia yang bukan ibu kota yang mendapatkan status kota besar.


Di Miri Pak Usu Zukri bekerja sebagai tukang kebun di salah satu keluarga kaya di sana.


Selesai menyiram tanaman Arini kemudian memutuskan untuk mandi. Selesai mandi dan berpakaian, Arini melirik sebentar ke jam dinding di ruang tengah. Jam sembilan tiga puluh. Masih tiga puluh menit lagi Andari datang ke rumahnya. Cepat ia ke dapur mengecek apakah chai kue serta doko-doko yang dikukusnya telah matang. Ia juga mengecek apakah ada teh atau gula di dapur. Syukurlah keduanya masih ada jadi tidak perlu lagi untuk membeli.


"Assalamualaikum," sebuah salam terdengar dari luar rumah tiga puluh menit kemudian.


"Walaikumsalam," cepat Arini melesat ke pintu depan dan membukanya. Sosok Andari berdiri di hadapannya kini. Menggunakan long dress berwarna baby pink dipadupadankan kerudung berwarna senada.


Mereka kemudian melakukan ritual kalau seorang perempuan bertemu dengan teman perempuannya, cium pipi kiri pipi kanan.


"Lama sudah kamu nggak ke sini."


"Iya maaf baru bisa sekarang, sibuk."


Karena menjalani program bayi tabung yang mengharuskannya waktu itu bolak-balik ke Malaysia serta juga sempat terbang ke Jakarta, Andari jarang menemui Arini. Padahal seminggu sekali biasanya mereka pasti bertemu. Biasanya hari sabtu karena hari minggu ia dan Fahri biasanya mengadakan acara kumpul keluarga dengan Nizar dan Azizah.


"Iya deh yang udah jadi nyonya besar."


"Apaan sih aku masih Andari yang dulu."


Arini kemudian mempersilahkan Andari masuk ke dalam rumah. Ia kemudian duduk di sebuah kursi di ruang tamu setelah Arini mempersilahkan ya duduk.


"Tak payah buat minuman, aku cuma sebentar," kata Andari. Tapi Arini tetap ke dapur dan selang beberapa kemudian ia membawa nampan. Di atas nampan terdapat dua piring panganan dan dua cangkir berisikan teh hangat. Tidak perlu ditanya mau minum apa, karena Arini tahu minuman kesukaan Andari apalagi kalau sedang hujan seperti saat ini. Di luar hujan tiba-tiba saja turun walau tak selebat hujan tadi malam.


Arini tersenyum saat melihat doko-doko serta chai kwe buatan Arini yang diletakan di atas piring.


"Ingat masa lalu kalau buat doko-doko sama chai kwe ."


Arini suka gagal kalau membuat kedua panganan tersebut, membuat kedua abangnya serta Pak Usu Zukri tertawa. Untunglah kedua Kakak iparnya yang terkenal jago membuat kue dengan senang hati membantu masalahnya ini.


"Enak," komentar Andari setelah mencicipi doko-doko serta chai kwe buatan Arini.


Sebenarnya Arini memiliki cita-cita ingin membuka usaha cafe dengan konsep taman bunga. Tapi menurutnya harapan itu terlalu tinggi. Ia hanya seorang kasir. Sedangkan membuka usaha tersebut pasti butuh modal yang tidaklah sedikit.


"Kenapa kamu lama tidak kemari?" Arini kembali bertanya. Pertanyaan yang hampir sama saat mereka bertemu tadi.


"Aku mengikuti program bayi tabung jadi harus bolak-balik Pontianak-Sarawak."


"Kenapa kamu ndak bilang sih Ri?"

__ADS_1


"Maaf banget waktu itu pikiran ku fokus ke program bayi tabung tersebut."


"Kandungan mu memang kenapa?"


Andari menjelaskan semampunya mengenai perkataan dokter waktu itu kepada Arini.


"Lalu bagaimana hasil program bayi tabung yang kamu jalani dengan Bang Fahri?"


"Mungkin memang belum rezekinya, bayi tabung yang ku jalani dengan Bang Fahri hasilnya negatif."


"Oh ya, katanya ada yang hendak kamu bicarakan."


"Emak Nurpiah menginginkan seorang cucu dari Bang Fahri."


"Terus?"


"Karena aku mandul aku menyuruh Bang Fahri untuk menikah lagi."


"Ya ampun Ri, kamu serius."


"Aku serius."


"Rin...."Andari tak meneruskan kata-katanya.


"Maukah kau...." lagi-lagi Andari tak meneruskan kata-katanya. Berat Andari rasakan saat ini untuk mengucapkan kalimat seterusnya. Akan tetapi bukankah ia sudah ikhlas dengan keputusannya kenapa pula sekarang ia mesti ragu.


"Maukah kau menikah dengan Fahri," Andari berusaha menahan agar air mata tak tumpah dari kedua matanya. Akan tetapi ia tak bisa.


Nyata sekali Arini kaget. Mereka baru saja bertemu lagi tapi Andari telah mengajukan sebuah permintaan yang sulit untuk ia penuhi.


"Kenapa kamu lakukan ini Ri?"


"Maksud mu?"


" Sudah sejak lama aku telah mengubur rasa cinta ku terhadap Bang Fahri. Aku juga sudah mengikhlaskan Bang Fahri menikah dengan mu. Kenapa kamu harus membangkitkan kembali rasa cinta ini."


"Aku tahu tapi ini masalahnya rumit."


"Soal anak?" tanya Arini. Sungguh sebenarnya ia juga sedih. Sudah lima tahun menikah, sahabatnya ini belum juga dikaruniai anak.


"Apakah ini permintaan dari Bang Fahri sendiri agar kau mengijinkannya menikah lagi?"


"Tidak Mak Nurpiah yang memintanya. Tadikan sudah ku katakan bahwa Mak Nurpiah ingin menimang cucu dari Bang Fahri."

__ADS_1


"Terus kamu setuju?"


"Aku ndak mau egois."


"Kenapa kamu memilih aku untuk menjadi istri kedua Bang Fahri?"


"Karena kamu sahabat ku dan aku percaya dengan kamu. Kamu juga sayang dan cinta dengan Bang Fahri. Aku percaya Bang Fahri akan sangat bahagia dengan mu."


"Tapi nantinya kamu terluka dan aku ndak mau menjadi orang yang melukai hati mu."


"Aku mohon Rin, aku hanya percaya dengan mu."


"Baiklah, beri aku waktu untuk berfikir."'


"Aku akan menghubungi kamu nanti,"lanjut Arini


***


"Aku tadi sudah bertemu dengan Arini Bang. Dia belum bisa memberi jawabannya sekarang." Andari berkata kepada Fahri pada malam harinya.


"Seharusnya kamu ndak perlu melakukan hal ini," kata Fahri yang duduk di atas tepi tempat tidur mereka.


"Kita kan sudah bicara soal ini sebelumnya Bang dan kita telah sepakat."


Kali ini Fahri memilih diam tak menangapi perkataan Andari.


***


Pukul dua lewat lima belas pagi saat ini jam yang diletakan di dinding kamar Arini, di atas kepala tempat tidurnya menunjukan waktu. Ia belum juga dapat memincingkan mata. Hatinya terasa mantap atas jawaban apa yang akan ia berikan nanti kepada Andari terkait permintaan sahabatnya tersebut, setelah tadi ia mengerjakan sholat istikhara, lima belas menit yang lalu. Andari, sebelum mereka berpisah tadi pagi, memang menyarankan agar dirinya melakukan sholat istikhara.


Akan tetapi kenangan itu tak dapat dibendung bagi air bah yang menerbang tiba-tiba arusnya menyeret ia ke masa lalu, memenuhi pikirannya kini.


CATATAN


Okulasi: Adalah salah satu cara meningkatkan mutu tumbuhan dengan cara menempelkan sepotong kulit pohon yang bermata tunas dari batang atas pada sebuah irisan dari kulit pohon lain, bisa diambil dari batang bawah sehingga tumbuh bersatu menjadi tanaman baru.


SMK Pertanian Flora Agung: Sekolah ini sekarang sudah tutup.


Chai kwe / Choi pan: Kue Mirip pastel tetapi tidak digoreng melainkan dikukus. Selain itu kue ini tidak memiliki alur pada pinggirnya seperti halnya pastel. isi dari chai kwe biasanya bengkuang yang telah diserut.


Doko-doko: Orang Jawa menyebutnya dengan kue mendhut.


Tak payah buat minumam: Tak perlu repot buat minuman.

__ADS_1


__ADS_2