Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Pasar Puring


__ADS_3

Arini menatap bayangan dirinya sambil membetulkan letak kerudungnya. Pintu kamarnya terbuka.


"Iya....." Arini tak jadi menyelesaikan kata-katanya saat melihat Fahri berdiri di ambang pintu kamar.


"Abang nak ngomong boleh?"


Arini menutup pintu kamar. Fahri kaget dengan reaksi Arini yang tak terduga. Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka lagi. Arini membukanya dengan lebar.


"Maaf Bang tadi ngenepikan ragak lok supaya pintunya bisa dibuka lebar."


"Oh."


Fahri kemudian masuk ke dalam kamar. Di salah satu sudut kamar ia dapat melihat ragak berisi pakian yang baru dilipat. Ia kemudian duduk di tepi ranjang. Arini kemudian duduk di samping Fahri.


"Abang nak minta maaf soal percakapan Abang waktu itu dengan Emak. Abang tahu percakapan Abang itu membuat hati mu terguris. Abang juga nak minta maaf karena sampai saat ini belum bisa seutuhnya mencintai mu dan mengangap mu sebagai istri Abang."


"Maaf kan Arini juga Bang belum bisa menjadi istri yang Abang inginkan."


Andari yang mendengar percakapan antara Fahri dan Arini yang berlangsung di dalam kamar tampak tersenyum. Ia tadi memang sempat mendesak Fahri agar meminta maaf dengan Arini atas perkataannya kemarin malam. Sama seperti Fahri, ia tadi sempat khawatir tiba-tiba Arini menutup pintu kamarnya. Yang tidak diketahui Andari, Fahri sebenarnya juga merasa bersalah dan hendak meminta maaf ke Arini tapi Andari telah mendahuluinya agar meminta maaf ke Arini.


***


"Yakin tak nak Abang antar langsung ke Pasar Puring?" tanya Fahri kepada Andari dan Arini yang duduk di kursi belakang. Honda Scoopy Andari kemarin harus dibawa ke bengkel. Ada masalah dengan remnya. Kata pemilik bengkel besok atau lusa motornya baru bisa diambil. Terpaksa kemana-kemana saat ini ia kalau tidak diantar Fahri, ya naik kendaraan umum.


"Iya Bang, letakan jak kamek depan gedung LKMD."


"Tapi naik oplet nunggunya lama."


"Tak jadi soal bagi kamek Bang."


Andari dan Arini tersenyum. Tinggal Fahri yang bingung. Tidak ada rasa canggung sedikit pun antara Andari maupun Arini padahal mereka bersuamikan sama. Justru saat ini mereka kelihatan kompak. Apa karena mereka telah bersahabat cukup lama sejak SMU mereka satu sekolah dan satu kelas.


"Bang jangan ngelamun nanti ngelangar kan bahaya."


"Abang lagi ngelamunin apa sih lagi ngelamunin kamek berdua ya."

__ADS_1


"Perasan"


Andari dan Arini tersenyum lagi. Perempuan selalu aneh sifatnya sulit untuk dipahami. Selalu membuat laki-laki bingung saja pikir Fahri.


Kijang Inova yang dikendarai mereka berhenti di depan gedung LKMD. Keduanya kemudian turun dari dalam mobil sementara Fahri melajukan mobilnya menuju Sungai Itik. Ada tanah yang hendak dibelinya dan akan dibangun sebuah perumahan di atas tanah tersebut. Seluruh unit rumah di Rasau Jaya pembangunanya selesai beberapa minggu yang lalu. Semua unit rumah hampir terjual semua. Tinggal dua unit rumah saja yang belum terjual.


Andari dan Arini menunggu oplet Budi Utomo-Siantan di depan gedung LKMD. Sepuluh menit kemudian sebuah oplet Budi Utomo-Siantan berhenti di depan gedung LKMD. Saat mereka naik ke atas oplet nyaris di dalam oplet tidak ada penumpangnya. Hanya ada seorang ibu-ibu seusia Nurpiah membawa tas belanja. Nampaknya ibu itu hendak ke Pasar Puring untuk belanja sama seperti mereka.


"Nak Pasar Puring juga Bu?" tanya Andari sopan. Ia duduk di sebelah ibu itu sedangkan Arini duduk di sebelah Andari.


"Aok Dek, adek nak ke Pasar Puring juga ke?" tanya ibu itu dengan Bahasa Melayu tapi logat Madura.


"Aok."


"Ini kawannya?" tanya ibu itu sambil menunjuk ke arah Arini.


"Ini kawan saya sekaligus istri kedua suami saya," Andari menjawab pertanyaan ibu itu.


Arini tersenyum. Ibu itu tersentak juga supir opletnya.


***


Di Pasar Puring mereka mulai mencari bahan untuk bubur pedas. Taoge, pakis dan kakung dan yang utama daun kesum. Tak ketinggalan ubi kayu serta ikan alos dan kacang tanah sebagai taburan.


Plak! Arini memukul tangan seorang remaja laki-laki saat tangan itu merogoh ke dalam tas belanja Andari. Andari sendiri sedang memilih kangkung jadi ia tidak sadar dengan aksi remaja tersebut. Dari mereka masuk pasar tadi Arini sudah curiga dengan tingakah laku remaja ini yang mengikuti mereka dari jarak tertentu. Andari pura-pura tidak tahu, menunggu pencopet ini beraksi seperti saat ini.


"Buang tebiat awak tuh ye", Arini berkata dengan geram.


"Amp. .pun Kak," remaja itu tampak ketakutan apalagi ditambah orang-orang mulai berdatangan.


" Ku tombok gak budak nih baru padan muke," kata seorang laki-laki seusia Fahri.


"Jangan Bang! Bawa jak langsung ke kantor polisi," kata Andari yang tak tega melihat wajah remaja itu tampak pucat pasi karena ketakutan.


"Ngade-ngade jak," kata seorang ibu-ibu bertubuh subur seusia Nurpiah saat melihat remaja itu keluar pasar digiring sejumlah laki-laki untuk diserahkan ke kantor polisi. Andari sempat meringis saat salah satu laki-laki yang mengiring remaja itu mendaratkan bogem mentah ke pipi remaja tersebut.

__ADS_1


***


Sebuah oplet Budi Utomo-Siantan berhenti di depan gedung LKMD. Andari dan Arini turun dari dalam oplet. Untuk menuju Perumahan Dwi Ratna mereka menggunakan becak.


"Sepi ya Pak sekarang becaknya."


"Aok Dek semenjak orang banyak yang kredit motor," bapak tukang becak berkata dengan logat Melayu yang kental.


Kredit kendaraan terutama motor sekarang memang mudah didapat. Dampaknya kendaraan umum seperti bus kota tak beroperasi lagi di Pontianak karena tak adanya penumpang. Di Pontianak kendaraan umum yang masih beroperasi hanyalah oplet dan becak itu pun sepertinya sebentar lagi nasibnya akan sama dengan bus kota.


"Ini ya Pak uangnya," Andari menyerahkan selembar uang seratus ribu kepada bapak tukang becak.


"Ndak ada kembaliannya Dek."


"Uang kembaliannya ambil bapak saja.


"Ma'kaseh ya Dek."


CATATAN:


Ngenepikan ragak lok: Menyingkirkan keranjang dulu.


Letakan jak kamek: Turunkan saja kami.


LKMD: Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa.


Ngelangar: Nabrak.


Ikan alos: ikan teri.


Buang tebiat awak tuh ye: Kebiasaan buruk kamu ya."


Ku tombok gak budak nih baru padan muke: ku tinju juga kau nih baru tahu rasa.


Ngade-ngade jak: Ada-ada saja.

__ADS_1


__ADS_2