
Mereka masih bolak-balik antara Pontianak-Kuching untuk mengikuti program bayi tabung. Hasilnya tetap saja negatif. Mereka juga sempat ke Jakarta untuk melakukan program bayi tabung. Hasilnya program bayi tabung yang mereka jalani tetap dinyatakan negatif oleh dokter.
"Buang-buang waktu dan uang saja," berkata Nurpiah kepada Fahri. Mereka saat ini duduk di kursi teras rumah. Malam ini begitu panas, mungkin hujan akan turun karena di atas mereka langit malam tanpa setitik bintang pun.
"Mungkin bukan rezekinya Mak atau Allah belum mau menitipkan amanahnya kepada kita untuk saat ini."
Fahri sendiri dua jam yang lalu baru pulang dari Rasau Jaya. Ada tanah yang hendak dibelinya lagi. Di atas tanah itu nantinya akan ia bangun komplek perumahan.
"Bukan itu tapi istri kau tuh bawa suwe. "
"Astghfirullah Mak ndak ada orang yang terlahir bawa suwe di dunia ini."
"Padahal Mak kau nih dah rindu mau menimang cucu."
"Mak kan dah punya cucu dari Bang Nizar."
"Mak inginya punya cucu dari kau bukan dari Nizar. Lagi pula Nizar bukanlah anak Mak." Nurpiah menekan kalimat bukanlah saat mengatakannya.
"Astghfirullah Mak," Fahri beristigfar untuk kedua kalinya.
"Mak tak boleh cakap seperti itu," lanjut Fahri dengan gusar.
"Memang kenyataannya Nizar memang bukan anak kandung ku."
Mereka terdiam kemudian.
"Lebih baik kau kawen lagi," Nurpiah berkata lagi setelah lama mereka jeda.
"Mak kenapa cakap macam tuh aku ndak mau kawen lagi."
"Kau mau tengok Mak kau nih mati tanpa sempat menimang cucu dari kau tuh."
Andari yang hendak ke teras rumah, mengantarkan gelas berisikan es lidah buaya yang dicampur sirup ABC jeruk serta stoples stick keladi yang dicampur bumbu tabur balado, menghentikan langkahnya. Bukan main kagetnya ia saat mendengar ibu mertuanya itu menyuruh suaminya untuk menikah lagi. Tubuhnya bergetar saat ini akibat shock dan kedua kakinya tiba-tiba menjadi berat. Dua buah sungai kemudian tercipta dari kedua matanya.
__ADS_1
***
Sajadah Andari hamparkan di lantai kamar. Ia kemudian menunaikan sholat tahajud dua rakaat dilanjutkan sholat witir dua rakaat. Selesai sholat ia berdoa agar dapat diberikan petunjuk akan masalah yang dihadapinya saat ini.
Sungai itu tercipata lagi dari kedua matanya, di setiap doanya.
Tanpa ia sadari Fahri melihat semua itu. Hatinya tiba-tiba menjadi perih jika teringat perkataan ibunya. Bagaimana bisa ia membagi cintanya lagi kepada wanita lain selain istrinya.
"Eh, Abang belum tidur?" cepat Andari menghapus sungai yang mengalir dari kedua matanya dan kini membasahi pipinya. Fahri tersenyum. Ia kemudian bangkit dari atas tempat tidur, lalu mengikuti jejak istrinya. Mendirikan sholat tahajud dua rakaat dilanjutkan sholat witir dua rakaat.
***
"Bang, Mak aku nak ngomong." Andari memulai pembicaraan esok paginya saat mereka sedang sarapan di ruang makan.
"Nak ngomong apa soal bayi tabung kau yang gagal tuh," Nurpiah berkata dengan nada ketus sambil mengoles rotinya dengan selai sri kaya.
"Mak dengarkan apa yang hendak dikatakan Andari, " Fahri memakan blodar lapis gulanya lalu mengunyahnya pelan-pelan.
"Maaf waktu itu aku ndak senga mendengar perkataan Mak dan Bang Fahri. Soal Mak mengusulkan Bang Fahri harus kawen lagi aku setuju dengan usul Mak ini." Andari mengatakan itu dengan hati yang coba ia kuatkan. Ia memang tak boleh bersikap egois. Biarlah ia mengalah asal ibu mertuanya tak lagi gelisah mengenai cucu yang memang sudah lama dinginkan. Dan kasihan Fahri jika sampai tak memiliki penerus keturunannya.
"Dek!"
"Baguslah kalau kau sadar diri."
"Ndak aku ndak setuju."
Fahri menatap kedua mata istrinya yang duduk di sebelahnya. Ia dapat menangkap kesedihan dan juga keteguhan di dalam mata istrinya.
"Bang!"
"Ndak Dek Abang ndak mau."
"Kau seharusnya setuju dengan usul istri kau tuh."
__ADS_1
"Benar Bang ini demi kebaikan kita bersama."
"Abang ndak melihat sedikit pun kebaikan di sini."
"Baiklah Mak akan mencarikan perempuan untuk istri kedua kau."
"Mak!"
"Bang!"
Andari meremas kelima jari suaminya dengan lembut untuk menanakannya. Fahri memang tampak gusar saat ini.
"Mak bagaimana kalau aku yang mencarikan calon istri buat Bang Fahri."
"Mak tak setuju kalau soal itu nanti perempuannya macam kau pula mandul."
"Mak!" mengeras mata Fahri menatap ibunya.
"Memang kenyataannya kan."
Andari berusaha menekan perasaanya agar tidak tersingung dengan perkataan ibu mertuanya yang begitu pedas.
"Kalau Mak ragu kita bisa melakukan serangkaian tes kesehatan seperti yang aku dan Bang Fahri lakukan waktu itu."
"Siapa perempuan itu?"
"Arini."
CATATAN:
Suwe: Sial.
Kawen atau kawin: Menikah.
__ADS_1
Nak: Mau.
Blodar: Sejenis roti.