
...Happy reading...
****
Jelita dan Rasyid merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada sang bunda sekarang. Jelita menggigit kuku jarinya dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak mau kehilangan seseorang yang telah memberikan rasa sayang untuk anak sepertinya.
Nathan terlihat kacau menunggu dokter keluar dari ruangan di mana sang istri berada. "A-ayah..." gumam Jelita dengan lirih. Ia berlutut di depan Nathan yang terduduk di lantai.
Nathan menatap Jelita dengan mata yang memerah. "Ayah gak mau kehilangan Bunda," ucap Nathan dengan serak.
"M-maafkan Jelita, Yah. Jelita..." Napas Jelita tercekat saat ia ingin menjelaskan jika ia tidak bisa menikah dengan Rasyid tetapi keadaan sang bunda yang membuat Jelita merasa takut.
Dari kejauhan Rasyad dan Erina yang berlari ke arah mereka. Raut wajah keduanya terlihat khawatir sekali.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Bunda?" tanya Rasyad dengan cemas menatap seluruh keluarganya yang terlihat kacau sekali.
"Syid apa yang terjadi?" sentak Rasyad dengan tegas.
"B-bunda memintaku dan Jelita menikah tapi kami menolaknya," gumam Rasyid dengan lirih. Ia menjambak rambutnya dengan frustasi, rasa bersalah menyelimuti perasaannya sekarang.
"Ya Tuhan...." Rasyad mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap Jelita dengan ekspresi yang sama sekali tidak terbaca.
"Aku yang akan menggantikan Rasyid untuk menikah dengan Jelita!" ujar Rasyad dengan tegas.
"APA?"
"Saya tidak setuju!" ucap Raka dengan dingin. Lelaki itu langsung menyusul adiknya ke rumah sakit setelah mendapatkan pesan dari Jelita, ia tidak ingin Jelita merasa bersalah kepada Gladis karena adiknya berhak bahagia dengan lelaki pilihannya sendiri.
"Siapa anda yang berani mengatakan seperti itu?" tanya Rasyad dengan tajam.
Raka menatap Rasyad dengan sinis. "Jelita adalah adik saya dan saya berhak menolak semuanya. Adik saya berhak bahagia dengan pilihannya sendiri!" ucap Raka dengan dingin.
"Jelita harus membayar jasa kasih sayang bunda saya! Dan dia tidak bisa menolak pernikahan ini!" ucap Rasyad dengan tajam.
__ADS_1
Raka terkekeh sinis. Ia membawa Jelita ke dalam pelukannya. "Are you oke?" tanya Raka dengan lirih.
Jelita menganggukkan kepalanya, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Raka. Sebenarnya anggukan kepalanya menandakan jika ia sedang tidak baik-baik saja dan hanya Raka yang mengerti maksud Jelita sekarang. Raka mengelus lembut punggung adiknya dengan sayang. "Ada Kakak di sini, Sayang. Kamu tidak usah takut ya!" bisik Raka dengan lembut.
"Stop! Kalian tidak perlu berdebat seperti ini!" sentak Nathan dengan tajam.
"Bunda sedang berjuang di dalam sana dan kalian malah ribut seperti ini," ucap Nathan dengan dingin.
Semuanya terdiam setelah Nathan berbicara dan mengeluarkan aura yang sangat mengerikan sekali. Tidak ada yang berani menyela atau membantah perkataan Nathan sekarang hingga dokter keluar dari ruangan UGD.
"Keluarga ibu Gladis?" tanya dokter yang menangani Gladis.
"Saya suaminya Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Nathan dengan tak sabaran.
"Begini Pak. Ibu Gladis mengalami serangan jantung. Serangan jantung adalah kondisi darurat yang terjadi saat pasokan darah ke jantung terhambat secara total, sehingga sel-sel otot jantung mengalami kerusakan. Serangan jantung biasanya disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Gejala yang muncul biasanya berupa nyeri dada, sesak napas, dan keringat dingin. Jika tidak segera ditangani, serangan jantung bisa menyebabkan kerusakan permanen pada organ tersebut. Bila kerusakan makin meluas, penderita serangan jantung dapat mengalami henti jantung mendadak. Dan untung saja ibu Gladis segera di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang serius. Saat ini keadaan ibu Gladis masih sangat lemah beliau sejak tadi memanggil nama Jelita dan juga Rasyad. Apakah kedua nama itu ada di sini?" jelas dokter dengan jelas.
"Saya Dok!" ucap Jelita dan Rasyad bersamaan.
Tatapan Jelita dan Rasyad sama-sama mengeluarkan aura dingin. Keduanya masuk bersama tanpa ada satu kata pun yang keluar dari bibir keduanya, hingga Jelita dan Rasyad sudah berada di samping Gladis yang saat ini terlihat sangat lemah.
"Bunda!" panggil Rasyad dan Jelita berbarengan membuat Gladis tersenyum lemah.
"Rasyad, Bunda tidak pernah meminta apapun dari kamu tapi kali ini Bunda ingin meminta sesuatu dari kamu. Jaga Jelita dengan baik, dari kecil Jelita tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Jaga Jelita dengan segenap jiwa dan raga kamu, Bunda tahu kalian saling mencintai dan menyayangi sejak dulu. Mungkin ini adalah permintaan terakhir Bunda, menikahlah dengan Jelita, Nazwa butuh sosok ibu yang baik seperti Jelita," ucap Gladis dengan lirih.
Nathan yang ikut menyusul Rasyad dan Jelita mendengar permintaan istrinya. Ia menghapus air matanya dengan kasar saat permintaan istrinya terlihat sangat sungguh-sungguh kali ini. Apa mungkin mereka bisa tidak mengabulkan keinginan istrinya?
Rasyad menggenggam tangan Gladis dengan lembut. "Rasyad akan menikah dengan Jelita, Bun!" ucap Rasyad dengan tegas.
Gladis menatap Jelita dengan penuh harap. Gadis itu memejamkan matanya saat Gladis menyatukan tangannya dengan tangan Rasyad. "Kamu mau kan menikah dengan Rasyad? Bunda tidak bisa menjaga Nazwa selamanya. Tolong jadi ibu sambung yang baik untuk Nazwa ya!" pinta Gladis dengan lirih.
Raka yang ingin menyela tetapi tangannya dicekal oleh Nathan. Nathan menggelengkan memohon kepada Raka agar tidak membuat kegaduhan yang menyebabkan keadaan Gladis kembali memburuk.
"Tuan Nathan saya berhak menolak keinginan gila istri anda!" ucap Raka dengan tajam tetapi suara terdengar pelan.
__ADS_1
"Saya tahu tapi keadaan istri saya sedang tidak baik sekarang. Seorang suami akan melakukan apapun untuk istrinya dan itu yang terjadi pada saya sekarang," ucap Nathan dengan frustasi.
"Dan sebagai seorang kakak saya juga akan melakukan apapun untuk adik saya. Anda tidak tahu bagaimana perjuangan saya selama tiga tahun ini memperjuangkan kebahagiaan adik saya dengan keadaan adik saya yang terpuruk. Lalu kalian meminta sesuatu yang membuat keadaan mental adik saya kembali tertekan. Saya tidak akan mengizinkan adik saya menikah dengan lelaki bodoh itu!" sentak Raka dengan tajam.
"Saya tahu. Dan dengan merendahkan diri saya sendiri di hadapan anda, tolong kali ini saja saya memohon. Saya tidak bisa kehilangan belahan jiwa saya, dulu saya hampir gila karena melihatnya terbaring lemah di rumah sakit karena penyakit yang hampir sama menggerogoti tubuh istri saya. Jantung yang sekarang berada di tubuh istri saya adalah jantung mama saya, mama Sandra. Jika jantung itu kembali rusak itu artinya saya telah kehilangan dua orang sekaligus dalam satu tubuh, istri dan mama saya. Raka, tolong kabulkan permintaan istri saya!" ucap Nathan dengan memohon.
"Tetap tidak bisa! Karena kebahagiaan adik saya lebih berharga dari apapun!" ucap Raka dengan dingin.
"Jelita ayo pulang!" ucap Raka menarik tangan adiknya. Ia tidak lagi mempedulikan keadaan Gladis. Keluarga Nathan benar-benar sangat egois, mereka pikir mereka saja yang takut kehilangan Gladis? ketakutan Raka lebih dalam yaitu ketika mental adiknya kembali di rusak oleh keluarga egois yang tak pernah melihat bagaimana perjuangannya dulu.
"Ibu Gladis yang terhormat. Saya tahu anda menyayangi adik saya dengan tulus tetapi saya tidak mengizinkan kalian mengatur kebahagiaan adik saya apalagi dengan meminta adik saya menikah dengan seseorang lelaki bodoh seperti anak anda ini. Sampai mati pun saya tidak akan mengizinkan Jelita menikah dengan Rasyad! Permisi!" ucap Raka dengan dingin.
"Jaga ucapan kamu Raka!" ucap Rasyad dengan marah.
"Seharusnya anda yang harus menjaga ucapan anda!" balas Raka dengan dingin.
"Anda...."
"Berhenti!" teriak Gladis semampu yang ia bisa. Ia tidak mau terjadi perkelahian di sini.
"Kita pulang!" ucap Raka dengan dingin.
"K-kak...bunda..." Jelita tergagap saat melihat ke arah Gladis yang kembali sesak napas.
"PULANG!" teriak Raka dengan dingin.
"RAKA BERHENTI!" teriak Rasyad. Ia tidak tega dengan keadaan bundanya yang kembali sakit dan Rasyad akan melakukan apapun demi kesehatan bundannya termasuk menikah dengan Jelita, walau mereka harus terpaksa menikah.
Raka tidak mempedulikan teriakan Rasyad. Dengan tampang dinginnya ia tetap menarik adiknya untuk pulang ke rumah mereka.
"K-kak, Bunda....d-dia..."
"Tidak usah pedulikan mereka!"
__ADS_1