
...Hei-hei aku update siang lagi nih. Jangan lupa ramein part ini dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
****
Mama Erika dan papa Haris senantiasa menunggu anaknya dengan sabar. Arieska masih setia menutup mata, setelah sesak napas dan kejang-kejang beberapa hari yang lalu keadaan Arieska dinyatakan semakin memburuk, hanya alat medis yang melekat pada tubuhnya lah yang menunjang kehidupan Arieska sekarang.
Dokter sebenarnya sudah pasrah karena tidak ada perkembangan signifikan dari tubuh Arieska tetapi mama Erika dan papa Haris tetap mempertahankan anaknya, mereka yakin suatu hari ada keajaiban dari Tuhan yang membuat anak satu-satunya yang mereka punya sadar.
"Mama makan dulu ya!" ucap Papa Haris dengan sabar.
Mama Erika menggeleng lemah. "Mama gak lapar, Pa. Melihat Arieska seperti ini Mama seperti tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan apapun," gumam Mama Erika dengan sendu.
Papa Haris menghela napasnya dengan perlahan. Ia juga merasakan apa yang istrinya rasakan tetapi papa Haris mencoba untuk kuat demi istri dan anaknya. "Kalau Mama gak makan terus nanti Mama jatuh sakit. Kalau Mama sakit siapa yang jaga Arieska, Ma? Arieska hanya punya kita sedangkan kita tidak punya keluarga, Ma. Kita sama-sama anak tunggal di dalam keluarga kita dan kedua orang tua kita sudah meninggal sejak lama. Siapa yang akan menguatkan anak kita kalau kita saja jatuh sakit?" jelas Papa Haris dengan sabar.
Air mata mama Erika mengalir dengan deras. Andai saja kembaran Arieska dan adik-adik Arieska tidak meninggal pasti mereka merasa tidak kesepian seperti ini. "Pa, andai saja kita punya banyak anak, andai saja anak-anak kita tidak meninggalkan kita, Andai saja rahim Mama tidak diangkat. Pasti..."
"Sttt... Tolong jangan berandai-andai Ma! Papa bersyukur mempunyai Mama dan Arieska di dalam hidup Papa. Jangan mengingat masa lalu menyakitkan itu lagi, Sayang!" ucap Papa Haris dengan pedih. Ia memeluk tubuh rapuh istrinya dengan erat.
"Hiks...hiks...kenapa Dimas sangat jahat kepada anak kita, Pa? Arieska sangat tulus kepada Dimas tetapi perlakuan lelaki itu selalu saja membuat Arieska terluka. Bintang kita terluka Pa! Penerang hidup kita terluka! Demi Dimas, Arieska rela melakukan diet bahkan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Dimas. Mama tidak rela Arieska bersama Dimas! Demi apapun Mama tidak rela, Pa!" ucap Mama Erika histeris memukul dada suaminya dengan bertubi-tubi untuk menghilangkan sesak yang menghimpit dadanya.
__ADS_1
"Tenang, Sayang. Papa juga tidak rela Dimas bersama Arieska. Anak kita terlalu berharga, Ma. Papa janji setelah Arieska sadar kita pergi dari sini untuk memulai hidup baru di tempat yang baru," ucap Papa Haris dengan tegas.
"Kenapa tidak sekarang saja kita membawa Arieska pergi Pa?" tanya Mama Erika dengan sendu.
"Terlalu beresiko, Sayang. Ingat kata dokter jika keadaan Arieska sekarang sangat buruk. Anak kita koma dan tidak tahu kapan akan sadar, dokter saja hampir menyerah jika Papa dan mama tidak memohon waktu itu," ucap Papa Haris dengan sendu.
Mama Erika menghapus air matanya dengan kasar. Lalu ia berdiri dan menatap Arieska dari balik kaca besar di sana. Mama Erika mengusap kaca itu, seperti ia mengusap wajah pucat Arieska yang terbaring dengan lemah. "Lihat Pa! Anak kita sudah kurus. Apa ini yang dia inginkan selama ini? Kenapa harus sakit seperti ini. Mama merindukan Arieska yang merengek meminta makanan manis," gumam Mama Erika dengan lirih.
Papa Haris juga menatap Arieska dengan sendu. "Sedang apa kamu di dalam mimpi, Nak? Sampai-sampai kamu enggan membuka mata hanya sekedar menyapa papa dan mama. Apa kamu bertemu dengan Kejora di sana hingga kamu tidak mau bangun? Papa tahu kalian tidak bisa terpisahkan sejak kecil tetapi kasihanilah papa dan mama, Nak! Kami hanya punya kamu di hidup kami sebagai bintang penerang papa dan mama selama ini," gumam Papa Haris dengan sendu.
Sedangkan Arieska di dalam sana hanya diam dengan kaku tanpa merespon sekelilingnya. Bunyi alat detak jantung Arieska lah yang hanya tertengar di sana. Sepertinya Arieska saat ini enggan untuk membuka matanya.
****
"Dimas!"
"Dimas!"
Dimas tersentak saat ada suara yang sangat ia kenal memanggil namanya. Dimas diam menatap seseorang tersebut dengan perasaan hampa, seharusnya Dimas senang seseorang itu masih ingat dengannya tetapi mengapa hatinya sakit melihat papanya datang menjenguknya dengan bersama orang kepercayaan papanya.
"Kenapa Papa ke sini? Papa sudah tidak meratapi kesedihan Papa selama ini? Apa Papa ke sini hanya untuk membenci Dimas?" tanya Dimas dengan lirih.
__ADS_1
Papa Dero menggelengkan kepalanya dengan lirih. "Maafkan Papa yang selama ini mengabaikan kamu, Dimas! Papa salah! Seharusnya Papa tidak berlarut-larut dalam kesedihan," ucap Papa Dero dengan sendu.
"Sudahlah Pa. Semuanya sudah terjadi, kehidupan Dimas sudah berantakan sejak saat itu, Dimas lebih senang tinggal di sini se-umur hidup Dimas. Se-enggaknya di sini kehidupan Dimas bisa terkontrol," ucap Dimas dengan terkekeh.
"Papa akan bantu kamu keluar dari penjara. Papa akan sewa pengacara handal untuk mengeluarkan kamu dari sini. Papa janji Dimas!" ucap Papa Dero dengan tegas.
Dimas tersenyum sinis. "Gak usah kebanyakan janji Pa! Elang juga pasti tidak akan membuat Dimas keluar dari penjara dengan mudah. Dimas juga tidak ingin keluar dari sini! Untuk apa menjalani kehidupan di luar sana jika tidak mempunyai tujuan hidup yang benar-benar membuat bahagia? Lebih baik Dimas di sini saja!" ucap Dimas dengan datar.
Papa Dero menatap Dimas dengan sendu. "Kamu tidak boleh berputus asa seperti itu Dim!" ucap Papa Dero dengan tegas.
"Papa lupa jika sifat Dimas seperti ini juga karena Papa? Sibuk bekerja, bekerja dan bekerja! Dimas tidak punya bimbingan siapa pun untuk membuat hidup Dimas ter-arah dengan baik. Papa hanya memikirkan diri Papa sendiri!" ucap Dimas dengan tajam. "Sudahlah Pa! Sebaiknya Papa pulang saja, jaga kesehatan Papa!" lanjut Dimas dengan dingin.
"Dimas!"
"Pak Hartono bawa papa saya pulang dan jangan bawa beliau ke sini lagi!" perintah Dimas kepada orang kepercayaan papanya.
"Tapi..."
"Pulang!" teriak Dimas dengan marah.
"Maafkan Papa, Dim!"
__ADS_1
"Papa pulang dulu ya, Dim. Besok Papa akan ke sini lagi," ucap Papa Dero dengan lirih.
Dimas terdiam, ia tidak ingin menanggapi permintaan maaf dari papanya. Ia tetap tidak bergeming sampai Dero dan Hartono keluar dari sini.