Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 34~ (Bunda)


__ADS_3

...Hei-hei aku update kembali. Gimana Part ini? Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya!...


...Happy reading...


****


"Lepaskan tangan kamu dari pinggang Jelita!" ucap Rasyad dengan marah.


Bruk..


"Awww..."


"Jelita!"


"Kamu gak apa-apa, Nak?" ucap Gladis dengan khawatir saat melihat Jelita meringis.


Dengan cepat Rasyid berjongkok di hadapan Jelita membuat kembarannya kembali merasakan panas di dalam hatinya dengan gerakan cepat dan langkah yang lebar Rasyad mendekati keduanya.


"Maafkan Kakak, Dek! Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Rasyid menyesal.


"A-aku..."


"Awas!" ucap Rasyad dengan ketus menyingkirkan tubuh Rasyid dengan tangannya membuat Rasyid mendengkus tidak suka. Selalu saja seperti ini ketika ia berdekatan dengan Jelita.


Tanpa aba-aba Rasyad menggendong Jelita membuat gadis itu mendelik tak percaya, tanpa mereka sadari Lolita menatap keduanya dengan tajam bahkan kedua tangannya terkepal dengan erat.


Jelita yang tak enak hati kepada Lolita mencoba memberontak agar bisa turun dari gendongan Rasyad. Tetapi apa yang ia dapat, Rasyad malah semakin mengeratkan gendongannya hingga bau mint dari napas Rasyad sampai tercium ke indra penciumannya bahkan hidung mereka berdua saling bergesekan.


Jelita akui ia sangat merindukan semua yang berada di diri Rasyad tetapi ia sadar jika Rasyad bukanlah miliknya melainkan milik Lolita.


"Lepas, Kak! Aku masih bisa jalan sendiri!" ucap Jelita dengan ketus.

__ADS_1


Rasyad tak acuh. Pria itu mendudukkan Jelita di samping Gladis. "Anak bandel ini sudah Rasyad bawa ke hadapan, Bunda. Hukuman apa yang pantas untuk gadis nakal ini, Bun?" tanya Rasyad dengan datar tanpa mempedulikkan Lolita yang berada di sampingnya, tatapan gadis itu sudah sangat kesal dengan kedekatan Rasyad dan Jelita karena sejak awal Lolita tahu jika Jelita bukan adik kandung dari Rasyad. Jelas ia merasa tidak suka dan cemburu ketika Rasyad sangat perhatian kepada Jelita.


"Jelita!" panggil Gladis dengan mata berkaca-kaca, ia menyentuh pipi Jelita yang terlihat tirus.


"Bunda!" Jelita berhambur ke pelukan Gladis. Ia memeluk wanita paruh baya itu dengan erat tanpa mempedulikan keberadaan Rasyad, Rasyid, dan Lolita. Sedangkan Nathan dan Erina yang baru saja masuk menatap Gladis dan Jelita dengan penuh haru akhirnya Jelita kembali setelah sekian lama menghilang dari kehidupan mereka.


"Hiks...hiks...akhirnya kamu kembali, Nak. Bunda, ayah, dan kakak-kakak kamu sangat merindukan kamu. Apa kamu hidup dengan baik? Makan dengan baik? Tidur dengan nyenyak, Nak?" cerca Gladis dengan banyaknya pertanyaan yang menggangu pikirannya selama ini hingga dirinya drop dam harus dilarikan ke rumah sakit.


"A-aku baik, Bunda. Maaf karena aku, Bunda jadi seperti ini," ucap Jelita dengan menangis.


Sial! Rasyad merasa matanya memanas, bahkan ia merasa matanya sudah memerah karena kedatangan Jelita yang membuat suasana ruangan rawat bundanya terasa haru dan hangat kembali.


"Ini bukan salah kamu, Nak. Asal kamu kembali ke rumah lagi Bunda sudah sangat merasa baik dan sehat," ucap Gladis dengan lirih.


Jelita hanya tersenyum menanggapi ucapan Gladis. Ia tidak mau membuat Gladis merasa sedih tetapi ia tidak bisa kembali ke rumah kedua orang tua angkatnya banyak alasan yang tidak bisa membuat Jelita kembali menetap di sana.


"Kenapa kamu tersenyum saja? Apa kamu tidak mau kembali ke rumah Bunda lagi?" tanya Gladis dengan was-was.


"Jelita akan kembali ke rumah kita, Bunda. Bunda tidak perlu khawatir," ucap Rasyad dengan cepat sebelum Jelita menyeselesaikan ucapannya.


Lolita dan Jelita menatap Rasyad secara berbarengan. Jelita menatap Rasyad dengan sangat tajam, ia tidak mau membuat sang bunda terlalu berharap karena ucapan Rasyad yang se-enaknya sendiri memutuskan sesuatu tentang dirinya. Sedangkan Lolita menatap Rasyad dengan api cemburu yang berkobar di hati dan matanya. Selalu saja Jelita mengambil perhatian Rasyad darinya dan Lolita tidak suka itu!


"Bunda senang sekali kamu mau kembali lagi ke rumah kita, Nak. Jangan tinggalkan Bunda lagi ya!" pinta Gladis dengan penuh harap.


Jelita menjadi serba salah karena Rasyad. "Tapi, Bun. Aku gak bis..."


"Jelita gak bisa kembali ke rumah ayah dan Bunda malam ini, Bun. Tapi besok dia akan kembali karena harus membereskan baju-bajunya," ucap Rasyad dengan tersenyum sinis ke arah Jelita yang terlihat kesal kepadanya.


Jelita merasa frustasi dengan Rasyad, ia ingin mencakar wajah tampan pria itu dan melampiaskan kekesalannya. Bisa-bisanya Rasyad mengambil kesempatan saat dirinya tidak berdaya di depan Gladis.


Ya Tuhan, Jelita harus apa? Mengapa lelaki yang sialnya ia cintai ini selalu mendominasi? Jelita kesal! Jelita ingin meraung dan berteriak tidak tetapi suaranya tercekat di tenggorongkan.

__ADS_1


"Jelita harus kembali karena sebentar lagi Kak Rasyad akan menikah dengan Kak Lolita. Kita harus mempersiapkan pernikahan mereka dengan suka cita," ucap Erina dengan tersenyum. Tetapi membuat semua orang terdiam, membuat Erina menggaruk hidungnya merasa ada yang salah dengan ucapannya. "kenapa kalian diam? Apa Erina salah bicara?" tanya Erina dengan polosnya karena dirinya tidak tahu jika Jelita mencintai kakaknya.


"Ahhh.. Tidak ada. Kamu benar Erina, aku dan mas Rasyad akan menikah sebentar lagi. Tentu saja Jelita harus datang ke pernikahan kami karena jika tidak ada Jelita semuanya terasa terlihat kurang," ucap Lolita dengan tersenyum manis.


Sedangkan Rasyad dan Rasyid menatap Jelita dengan sendu.


"Ooo begitu ya? Kak Rasyad dan Kak Lolita akan menikah? Ahhh.. Bahagianya, selamat ya hehehe!" ucap Jelita dengan tersenyum menyembunyikan kesakitan di hatinya. Setelah berkata seperti itu Jelita membuang mukanya dan mengusap air matanya yang tiba-tiba saja keluar.


Kamu harus kuat Jelita! Kamu bukan perempuan lemah!


"B-bunda, ayah, sepertinya aku harus pulang dulu. Aku belum berganti pakaian. Aku akan kembali lagi besok," ucap Jelita dengan cepat saat melihat raut wajah cemas dari keduanya.


"Tidak bisakah kamu menemani Bunda lebih lama lagi?" tanya Gladis dengan sendu.


"Besok Jelita akan kembali, Bun! Bunda tidak perlu khawatir," ucap Jelita dengan meyakinkan Gladis.


"Baiklah. Tapi kamu harus diantar sama Rasyad atau Rasyid!" ucap Gladis dengan tegas.


"Tidak usah, Bun! A-aku pulang sendiri saja," ucap Jelita dengan cepat. "Aku permisi Taxi yang aku pesan sudah menunggu," ucap Jelita dengan cepat. Jelita mencium kening Gladis sebelum keluar dari ruangan Gladis. Ia sudah tidak tahan untuk kembali menahan tangis, saat sudah benar-benar keluar Jelita mengeluarkan tangisannya, hatinya benar-benar terluka sekarang dan Jelita butuh sandaran. Hanya Dimas yang ada di pikirannya sekarang.


****


Dimas membuka pintu saat mendengar suara ketukan. Ia sangat terkejut saat Jelita lah yang pulang dan langsung memeluk dirinya, Dimas yang tidak siap terhuyung ke belakang. Penampilan adiknya benar-benar buruk, matanya sangat sembab dengan isakan yang terus keluar dari bibirnya.


"Izinkan Jelita memeluk Kakak kembali! Walau Kakak tidak mau memeluk Jelita, biarkan Jelita yang memeluk Kakak, hiks...hiks..." racau Jelita dengan lirih hingga Dimas tidak tega melihat keadaan adiknya padahal ia tadi mau menghilangkan stres seperti biasa tetapi melihat keadaan adiknya Dimas menjadi mengurungkan keinginannya.


Tubuh Jelita bergetar dengan hebat. Membayangkan Rasyad dan Lolita menikah membuat Jelita tidak bisa menghentikan tangisannya. Dimas hanya diam tak bergeming, dengan kaku ia mengelus rambut Jelita.


"Jangan pernah tinggalkan Jelita, Kak! Kalau itu terjadi Jelita benar-benar akan hancur!" racau Jelita dengan lirih. Dimas hanya mendengarkan racauan adiknya hingga ia merasakan tubuh Jelita melemas, adiknya sudah tertidur dengan isak tangis yang masih terdengar. Dengan perlahan Dimas menggendong Jelita menuju kamar gadis itu, ia membaringkan Jelita dengan hati-hati dan menyelimuti adiknya.


Dimas menatap wajah adiknya. Ia mencoba berdamai dengan masa lalunya tetapi saat mengingat semuanya terasa menyakitkan sekali untuknya sekarang.

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak!" gumam Dimas dengan lirih dan beranjak keluar dari kamar Jelita.


__ADS_2