
...Hei-hei aku kembali nih. Maaf kemarin tidak update karena ada kesibukaan. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
***
Lolita menatap suaminya dengan tersenyum. Ini saatnya ia memberitahukan kehamilannya kepada Rasyad dan keluarga Rasyad.
"Sebentar lagi kamu akan mendapat pengakuan dari seseorang yang sangat bodoh di depan mama, sayang," gumam Lolita di dalam hatinya mengelus perutnya yang memang masih belum terlihat terlalu bucit. Itulah yang memudahkan Lolita membohongi Rasyad dan keluarganya.
Rasyad yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya karena mengecek pekerjaannya menatap ke arah Lolita yang terlihat tersenyum aneh kepadanya. "Kamu kenapa?" tanya Rasyad yang memang sikapnya sudah kembali lembut sejak kejadian di mana ia melihat foto Jelita sedang berhubungan badam dengan seseorang pria.
"Aku lagi bahagia, Mas," ucap Lolita dengan tersenyum.
"Bahagia? Bahagia kenapa?" tanya Rasyad menatap Lolita dengan bingung. Apa bahagia karena berhasil menahannya di rumah agar tidak masuk kantor alhasil membuat Rasyad mengerjakan pekerjaannya di rumah.
Lolita menarik tangan Rasyad dengan lembut ke perutnya. "Aku hamil, Mas!" gumam Lolita.
Rasyad terdiam, raut wajahnya terlihat sangat datar membuat Lolita gugup taku Rasyad tidak percaya jika Lolita hamil anaknya, yang memang sebenarnya bukan anak Rasyad itu.
"H-hamil?" ulang Rasyad dengan terbata.
Lolita menunduk sedih. "Iya Mas. Kenapa Mas? Mas gak bahagia ya kalau aku hamil?" tanya Lolita dengan sendu.
Sadar dengan ekspresi wajahnya yang terlihat bodoh yang membuat sang istri salah paham. Rasyad langsung tersenyum dan memeluk Lolita dengan erat. "Terima kasih, Sayang. A-aku sangat bahagia, sebentar lagi aku akan menjadi seseorang ayah," ucap Rasyad dengan bahagia.
"Sama-sama, Mas. Kita harus memberitahukan bunda tentang kehamilanku. Siapa tahu bunda tidak akan bersedih lagi dan mengingat Jelita," ucap Lolita dengan tersenyum. Ternyata ketakutannya sama sekali tidak terbukti, Rasyad terlihat senang dengan kehamilannya.
__ADS_1
"Maafkan kebohonganku, Mas. Aku melakukan ini agar anakku dapat pengakuan dari kamu walau kamu bukan ayah kandungnya," gumam Lolita di dalam hati.
"Jangan mengingat gadis jal*ng itu lagi, Sayang. Pasti bunda akan senang dengan kehamilanmu dan melupakan wanita itu," ucap Rasyad dengan benci membuat Lolita dengan tersenyum senang karena Rasyad yang sekarang benar-benar membenci Jelita.
Sedangkan Rasyad entah mengapa ia tidak terlalu senang mendengar kabar kehamilan Lolita. Rasyad merasa tidak memiliki ikatan batin yang terlalu kuat dengan anak yang di kandung Lolita. Rasyad merasa aneh, resah, dan gundah campur menjadi satu. Padahal kehamilan Lolita yang emang ditunggu-tunggu oleh dirinya.
"Aku kenapa sih? Hatiku tidak merasa senang dengan kehamilan Lolita," gumam Rasyad di dalam hatinya. Ia mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri tetapi Rasyad sama sekali tidak menemukan jawaban apapun atas pertanyaan yang menganggu perasaannya sekarang.
Rasyad tidak tahu jika kebahagiaan saat ini adalah kebahagiaan semu baginya nanti.
*****
Kesehatan Jelita berangsur-angsur membaik saat Raka selalu memberikan perhatian kepadanya.
"Hahaha...ampun Kak! Geli!" teriak Jelita saat Raka menggelitiki pinggangnya.
Jelita berusaha lari menghindari gelitikan Raka. Mereka tertawa bersama karena merasa bahagia.
"Kak Raka ampun! Hahaha...." teriak Jelita saat Raka berhasil menangkapnya kembali.
Raka memutar-mutar tubuh Jelita yang berada di gendongannya.
Rendy melihat kebahagiaan tuan muda dan nona mudanya ikut tersenyum bahagia karena selama ini tuan mudanya jarang sekali tertawa lepas seperti itu. Hidupnya penuh tekanan dari keluarga Erlangga membuat Raka tidak bisa meng-ekspresikan raut wajahnya dengan mudah. Raka hanya bisa berekspresi datar dan dingin, senyumannya pun tidak pernah terlihat.
"Terima kasih nona muda. Berkat anda, tuan muda bisa tertawa bahagia," gumam Rendy dengan terharu.
"Rendy tolong aku hahaha..." teriak Jelita saat Raka kembali jahil kepadanya. Akibat ia menganggu pekerjaan kakaknya, Raka terus menggelitikinya. Ya, Jelita tidak takut lagi dengan Rendy dan orang-orang kepercayaan Raka yang berada di rumah ini. Berkat psikiater yang selalu berusaha membuat Jelita tak takut kembali akan traumanya tentang lelaki bahkan Jelita sudah tidak mengingat patah hatinya kepada Rasyad. Tetapi Jelita akan berubah menjadi dingin terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya terutama lelaki.
__ADS_1
Rendy tersenyum saat Jelita mendekat ke arahnya. Tetapi Rendy terkejut saat Jelita hampir terjatuh, dengan sigap Rendy menanggap tubuh Jelita membuat keduanya mematung. Mata keduanya saling menatap satu sama lain dengan sangat dalam.
Deg...
"Ekhemm..." Raka berdehem membuat keduanya saling melepaskan diri. Jelita jadi salah tingkah karena kelakuannya yang hampir terjatuh di depan Rendy.
"Hati-hati Nona Muda," ucap Rendy menutupi rasa gugupnya karena tak sengaja mengagumi kencantikan nona mudanya.
"I-iya," jawab Jelita dengan gugup.
Raka menatap Rendy dengan dingin, Rendy yang ditatap seperti selerti itu menjadi salah tingkah sendiri, jantungnya berdetak takut melihat tatapan dingin tuan mudanya. Setelah itu Raka menatap adiknya dengan lembut. "Kamu tidak apa-apa kan, Sayang?" tanya Raka memeriksa seluruh tubuh adik tercintanya.
"Aku tidak apa-apa, Kak!" jawab Jelita dengan tersenyum.
Raka mendesah lega. "Rendy kembali lah bekerja, biar saya dan Jelita di sini," ucap Raka dengan dingin.
"Baik Tuan Muda!" jawab Rendy dengan patuh.
Jelita mengikuti kakaknya yang kembali bekerja. Ia mengamati Raka yang terlihat sangat serius sekali.
"Tampan sekali," gumam Jelita tanpa sadar membuat Raka terhenyak dan tertawa mengusap kepala adiknya dengan sayang.
"Terpesona dengan ketampanan Kakak hmmm?" tanya Raka dengan terkekeh.
Jelita mengangguk dengan jujur karena memang Raka sangat tampan sekali apalagi ketampanan kakaknya berlipat-lipat lebih tampan ketika sedang serius bekerja.
Raka yang gemas dengan jawaban adiknya langsung mengecup kening Jelita dengan lembut. "Terima kasih sudah kembali sehat demi Kakak, Sayang!"
__ADS_1