
...Happy reading...
***
Raka mengepalkan kedua tangannya ketika ia mendapat kabar dari Damian jika sang mama kembali disiksa oleh kakeknya dan lagi-lagi papanya tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi mamanya, sama yang dilakukan papanya dulu kepada mamanya hingga sang mama memilih pergi dari kehidupan mereka berakhir meninggal karena orang suruhan kakeknya itulah penyebab Raka tak ingin tinggal bersama mereka dan memilih melepaskan kekayaan yang sudah ia dapat dari kecil. Tak mudah memang mendapatkan kejayaan sendiri dan Raka rela melepas nama belakang Erlangga dari namanya. Tetapi kakeknya tak pernah melakukan itu.
"Argghhh..brengs*k!" umpat Raka dengan kasar. Ia membanting ponselnya begitu saja saat amarah sedang menguasainya saat ini.
"Apa saya harus terbang ke Inggris, Tuan Muda? Untuk memastikan nyonya dan tuan muda Damian baik-baik saja?" tanya Rendy yang tanggap akan permasalahan keluarga tuannya saat ini.
"Pergilah Ren. Pastian keduanya baik-baik saja, saya tidak ingin mendengar kabar buruk darimu! Jika itu sempat terjadi maka terimalah hukuman dari saya," ucap Raka dengan tajam.
"Baik Tuan Muda," ucap Rendy tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Tunggu, Ren!" ucap Raka dengan memijit pelipisnya.
"Sepertinya saya juga harus ikut. Saya ingin memastikan tua bangka itu tak lagi berbuat kasar yang bisa menyebabkan papa saya kehilangan mama kembali," ucap Raka dengan dingin.
"Tapi Tuan, dua hari lagi adalah peresmian pernikahan anda dengan nyonya muda. Sebaiknya anda tetap di sini Tuan, saya yang akan mengurusnya. Dan saya pastikan tuan besar Agam tidak akan menyakiti nyonya Amanda dan tuan Damian," ucap Rendy dengan sopan.
"Tapi saya harus memastikan mama dan adik saya...."
"Mas Raka mau ninggalin aku?" tanya Erina dengan merem*s bajunya. Ia menunduk tak berani menatap wajah suaminya yang sedang dilanda emosi.
Raka mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu sama siapa ke sini, Erin? Ini kantor lumayan jauh dari rumah. Jika terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita bagaimana, hah?" tanya Raka dengan kesal. Emosinya semakin memuncak kala ia melihat Erina datang ke kantornya seorang diri, tak tahukah Erina jika dirinya sangat mengkhawatirkannya?
__ADS_1
"A-aku naik Taxi, Mas!" jawab Erina dengan jujur. "Dan aku baik-baik saja bersama dengan anak kita," ucap Erina yang berusaha tersenyum di tengah kekesalan suaminya saat ini.
"Naik Taxi? Astaga Erin! Sudah berapa kali saya bilang jangan kemana-mana seorang diri. Kamu bisa menelpon saya untuk mrminta jemput. Apa susahnya sih? Jangan keras kepala, Erin! Kamu lagi hamil!" ucap Raka dengan kesal.
"Hiks...m-maaf Mas. A-aku hanya tidak sabar ingin bertemu dengan Mas Raka. A-aku tidak bermaksud ingin membangkang kok," ucap Erina dengan menangis yang membuat Raka tak tega memarahi istrinya kembali.
"Ren, keluarlah. Cepat terbang ke Inggris dan jika memungkinkan saya akan menyusul nanti," ucap Raka mengusir asisten begitu saja, ia tidak mau Rendy melihat tingkah menggemaskan istrinya saat ini.
"Baik Tuan Muda," ucap Rendy dengan tegas. Ia segera pamit undur diri dari pasangan suami istri yang sedang dimabuk cinta tersebut. Raka yang gengsian bertemu dengan Erina yang malu-malu tetapi sangat manja itu membuat Rendy merasa lucu dengan tingkah keduanya yang terkadang berantem hanya karena Raka terlalu posesif dengan sang istri.
"Kemarilah!" ucap Raka pada istrinya setelah Rendy keluar dari ruangannya.
Erina berjalan ke arah suaminya dengan mata yang masih sembab. Ia langsung naik kepangkuan Raka setelah suaminya itu menarik tubuhnya agar duduk di atas pangkuannya.
"Lain kali saya tidak akan memaafkanmu jika sampai kamu tidak mendengarkan perkataan saya. Mengerti?" ucap Raka dengan tegas.
"T-tapi kalau aku.. Hmmmm maksudnya anak kita kangen sama kamu gimana Mas kalau kamu ada meeting?" tanya Erina dengan polosnya memainkan kancing kemeja suaminya.
Raka terdiam. Ia sedang memikirkan cara, bisa saja ia menyuruh Rendy atau orang-orang kepercayaannya yang lainnya tetapi Raka tidak ingin mereka berduaan dengan sang istri apalagi Erina terlihat sangat seksi dan cantik sekali ketika hamil.
Shittt... Raka tidak rela mereka menikmati keindahan wajah istrinya.
"Saya yang jemput!" ucap Raka dengan tegas.
"Tapi meetingnya?" tanya Erina dengan lirih.
__ADS_1
"Ada Rendy yang akan menggantikan saya," ucap Raka dengan tegas dan cepat.
Erina tersenyum ia menyandarkan kepalanya di dada Raka, menikmati debaran jantung Raka yang berdetak sangat kencang sekali.
"Kita beneran akan meresmikan pernikahan kita?" tanya Erina yang masih tak percaya.
"Dan apa menurutmu saya ini bercanda? Kamu mau anak kita nanti tidak diakui negara hmm?" tanya Raka dengan tajam.
Erina menggeleng. Ia menatap Raka dengan dalam. "Apa alasan Mas menikahiku secara resmi hanya itu? Tidak ada yang lain?" tanya Erina dengan sendu.
Erina ingin Raka berkata lebih seperti 'aku mencintaimu' tetapi kata itu sama sekali belum terucap untuknya.
Raka menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Dengar Erina. Saya memang bukan lelaki yang romantis dan kamu tahu itu! Saya tidak mungkin membiarkan kamu membesarkan anak kita seorang diri dan saya juga tidak ingin melewati tumbuh kembang anak kita. Saya memang tidak pernah mengatakan 'saya mencintai kamu' tetapi tindakan saya selama ini ke kamu sepertinya kamu paham akan hal itu. Menurut saya mencintai tidak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata tetapi tindakan saya yang mewakili perasaan saya selama ini...."
Jeda sejenak. Raka menatap Erina dengan dalam. "Menurutmu semua siksaan dari anak kita untuk saya bukan bentuk nyata jika saya mencintai kamu?" tanya Raka dengan tegas.
"A-aku...." Erina tidak bisa berkata-kata, ia kembali memeluk Raka dengan erat. Ia paham sekarang bagaimana suaminya yang mengutamakan tindakan dari pada kata-kata romantis, ia tahu sekarang jika Raka juga mencintainya.
"Jangan pergi ke Inggris. Aku takut sendirian," ucap Erina pada akhirnya.
"Saat ini mungkin tidak. Tetapi saya akan pergi setelah pernikahan kita terlaksana dengan mewah, saya tidak akan lama," ucap Raka dengan tegas.
"Semuanya harus jelas sekarang. Keluarga saya tidak seperti keluarga yang lainnya yang mengutamakan kebahagiaan tetapi keluarga saya lebih kepada menumpukkan kekayaan dan lebih mengutamakan sesuatu hal yang tidak penting seperti menganggap anak di luar pernikahan adalah anak pembawa sial. Saya harus menyadarkan mereka jika kebahagiaan hati adalah yang lebih utama!" ucap Raka dengan tegas.
"Kakek saya pernah menghamili seorang pembantu di rumahnya. Setelah anak itu lahir, semuanya tiba-tiba saja hancur. Bisnis keluarga yang dulunya berjaya akhirnya berantakan, nenek meminta cerai. Kakek merasa tidak terima akan sesuatu yang terjadi yang akan menghancurkan kehidupannya. Akhirnya kakek menyiksa pembantu yang dia hamili hingga meninggal bahkan anak yang masih kecil yang tidak tahu apa-apa itu juga menjadi korban keegoisan kakek, anak itu juga meninggal. Dan sekarang Jelita ikut menjadi korban keegoisan kakek. Jelita harus bahagia dan mata hati kakek harus terbuka sebelum dirinya kehilangan semuanya. Memang itu adalah kesalahan papa dan mama saya tetapi Jelita sama sekali tidak bersalah."
__ADS_1
Akhirnya mengalir lah cerita dari mulut Raka yang selama ini ia pendam bahkan Jelita pun tidak tahu masalah ini. Gadis itu hanya tahu jika keluarga mereka membenci anak seperti Jelita. Saat ini Erina menjadi pendengar yang baik untuk suaminya, sesekali ia mengelus dada suaminya yang tampak menahan emosinya.
Raka mengunci pintu ruangannya dengan remot kontrol. Yang bisa meredam kemarahannya hanya bercinta dengan istrinya dan saat ini Raka menginginkan istrinya. Erina yang paham langsung melingkarkan kedua kakinya di pinggang Raka saat suaminya membawa Erina ke kamar pribadinya yang ada di ruangannya.