
...Update malam kali ini. Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya....
...Happy reading...
****
Rasyad berlari tergesa-gesa masuk ke rumahnya setelah mendapatkan pesan dari sang ayah, Rasyad langsung bergegas pulang ke rumah. Tangannya terkepal menahan amarah kala melihat Gladis menangis di pelukan Nathan.
"Apa yang terjadi, Yah?" tanya Rasyad dengan dingin.
Nathan menatap anak sulungnya dengan tajam. "Jelita pergi dari rumah ini," ucap Nathan dengan lirih.
"APA? Kenapa Ayah tidak mencegah kepergiaannya?" tanya Rasyad dengan syok.
"Ayah sudah menahannya tetapi Ayah tidak bisa memaksanya untuk tetap tinggal di sini, Syad!" ucap Nathan dengan datar.
"Tolong bawa adik kamu pulang, Syad! Bunda mohon! Bunda takut Jelita terluka tanpa pengawasan kita," ucap Gladis dengan sendu.
Rasyad mendekat ke arah Gladis. Matanya berkaca-kaca karena kesalahannya lah Jelita pergi dari rumah ini. "Tenang, Bun. Aku akan membawa Jelita pulang ke rumah ini!" ucap Rasyad dengan yakin.
"Bawa secepatnya Jelita pulang, Syad!" ucap Gladis dengan tergugu.
Rasyad mengangguk dengan mantap. "Aku pergi dulu, Bun. Tenang saja hari ini juga Jelita pasti akan kembali bersama dengan kita," ucap Rasyad dengan tegas. Padahal ingin sekali Rasyad mengamuk sekarang, entahlah perasaannya tidak bisa dijabarkan dengan mudah. Ada rasa, gelisah, takut, amarah, dan sedih sudah bercampur menjadi satu.
Rasyad bergegas keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobilnya kembali. Ia mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju rumah Dimas. Walau Jelita tak pernah memberitahukan rumah Dimas berada di mana tetapi Rasyad sudah mencarinya sejak lama.
"Argghhhh..." Rasyad berteriak dengan memukul stir mobilnya dengan keras saat ini ia sedang emosi dan kalut karena Jelita yang pergi dari rumahnya.
Rasyad mengambil ponselnya dan ia membelalakkan matanya saat menerima pesan transfer-an uang dari Jelita dengan jumlah yang tidak sedikit.
'Kak, Jelita kembalikan uang kakak 20 juta dulu ya. Sisanya Jelita akan bayar ketika Jelita ada uang nanti.'
Rasyad membaca pesan Jelita dengan penuh amarah. Ia menggenggam ponselnya dengan kuat lalu tangannya menghubungi nomor Jelita.
'Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Silahkan tinggalkan pesan sua....'
__ADS_1
"Brengs*k!" umpat Rasyad dengan penuh emosi. "Jelita, Kakak pastikan kamu akan kembali ke rumah ayah hari ini juga sekali pun kamu menolaknya nanti," ucap Rasyad dengan tajam.
Ingin sekali Rasyad berteriak sekarang. Ia sadar karena kesalahannya lah Jelita meninggalkan rumah ayahnya, pikirannya bercabang sekarang, karena rencananya besok ia akan menyusul Lolita ke Paris dan membawa gadis itu pulang ke Indonesia tetapi jika Jelita pergi dari rumah mungkin Rasyad akan menunda kepergiaannya.
Rasyad tak memikirkan keselamatan dirinya, yang terpenting ia segera sampai ke rumah Dimas. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama akhirnya Rasyad sampai juga di rumah Dimas, walau rumah Dimas tak semewah rumahnya tetapi rumah ini terasa nyaman di pandang walau di dalam rumah tersebut tidak ada kenyamanan setelah apa yang terjadi pada keluarga Anggara tersebut.
Tin...tin....
Rasyad membunyikan klakson mobilnya dengan tak sabaran agar gerbang rumah tersebut segera dibukakan. Dan tak lama seorang satpam yang bekerja di rumah Dimas berlari tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang tersebut.
"Maaf, anda siapa Mas?" tanya satpam itu dengan sopan.
"Saya Rasyad, Kakak angkat dari Jelita. Dan saya ingin membawa Jelita pulang ke rumah kedua orang tua saya!" jawab Rasyad dengan dingin.
"Maaf, Mas. Sejak beberapa hari ini mbak Jelita tidak ada ke rumah ini," ucap Satpam tersebut dengan tegas.
"Kamu yakin? Jika saya mengetahui kamu berbohong saya habisi kamu!" ucap Rasyad dengan tajam.
"Y-yakin, Mas!" ucap Satpam tersebut terbata karena memang ia sedang berbohong.
Rasyad keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah satpam tersebut dengan langkah tegas. Ia menatap satpam tersebut dengan tajam. "Saya tidak percaya!" ucap Rasyad dengan dingin hingga satpam tersebut merinding.
Rasyad tidak bergeming. Ia berjalan ke arah pintu rumah Dimas dengan tergesa-gesa. "Jelita, keluar kamu!" teriak Rasyad dengan keras. "Kakak tahu kamu berada di dalam! keluar atau Kakak dobrak pintunya!" teriak Rasyad dengan penuh amarah.
"JELITA!" teriak Rasyad emosi karena pintu rumah Dimas tak kunjung terbuka. Bahkan Rasyad mencoba membuka pintu tersebut tetapi sayang pintu rumah Dimas masih terkunci.
"JELITA KELUAR! KAKAK TAHU KAMU BERADA DI DALAM! KAKAK AKAN MEMBAWA KAMU PULANG KE RUMAH AYAH! BUNDA MENANGIS KARENA KAMU PERGI DARI RUMAHNYA, KAMU TIDAK KASIHAN KEPADA BUNDA YANG TELAH MERAWATMU DARI KECIL?" teriak Rasyad dengan penuh emosi.
Ceklek...
"Jelita ayo ki...."
"Pergi dari rumah gue! Jelita gak ada di sini, gue gak mau menampung anak haram seperti dia!" ucap Dimas dengan tajam.
"Brengs*k! Jelita itu adik kamu! Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu!" teriak Rasyad dengan murka.
__ADS_1
"Adik? Adik yang terlahir karena sebuah kesalahan!" ucap Dimas dengan tajam. "Pergi! Jelita tidak ada di sini! Silahkan cari anak haram itu di tempat lain! Dan jika sudah bertemu dengannya katakan padanya jangan pernah ikut campur masalah gue lagi karena dia sama sekali tidak berarti bagi gue sekali pun Jelita mati!"
Brak...
Dimas menutup pintunya dengan kencang. Ia benar-benar merasa emosi sekarang karena Rasyad.
"DIMAS, BUKA PINTUNYA SAYA TAHU JELITA ADA DI DALAM!" teriak Rasyad dengan keras menggedor pintu rumah Dimas dengan tidak sabaran karena Dimas tak kunjung membuka pintu itu lagi.
"Sial! Jika Jelita tidak ada di rumah ini terus dia di mana? Selama ini Jelita tidak pernah mempunyai teman akrab selain aku, Rasyid, dan Erina. Ya Tuhan, anak itu pergi kemana?" ucap Rasyad dengan menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Ini salah Kakak, Jelita!" ucap Rasyad dengan lirih bahkan matanya sudah memerah menahan tangis karena tak menemukan keberadaan Jelita berada di rumah Dimas.
****
Jelita menatap Rasyad dari jendela setelah Rasyad pergi dari rumah Dimas. Jelita memang memohon kepada sang kakak agar mengatakan jika dirinya tidak berada di rumah ini, bahkan ia mematikan ponselnya agar Rasyad tidak bisa menemui.
"Maafkan aku, Kak! Aku lakukan ini agar tidak semakin menjadi beban untuk kak Rasyad dan yang lainnya," gumam Jelita dengan sedih bahkan air matanya jatuh dengan mudah.
Perkataan kakaknya sangat pedas dan membuat hatinya berdenyut sakit karena ia benar-benar tidak berharga untuk dimas walaupun Jelita mati sekali pun. Sungguh Jelita dalam keadaan yang serba salah sekarang.
"Kak!" panggil Jelita dengan lirih.
"Hmmm... Mau apa lagi? Gue sudah melakukan apa yang lo mau!" ucap Dimas dengan tajam.
"Terima kasih!" gumam Jelita dengan lirih. "A-aku boleh peluk, Kakak?" tanya Jelita dengan penuh harap.
Dimas terdiam, ia sama sekali tidak bergeming tetapi matanya menatap mata Jelita yang penuh dengan kesedihan.
"S-sekali saja, Kak. Please... Setelah itu Jelita gak akan minta peluk lagi!" pinta Jelita dengan menangkup kedua tangannya. Saat ini Jelita hanya ingin mendapatkan pelukan untuk menenangkan hatinya yang sudah terluka sejak lama.
"Hmmm."
Grap...
Jelita memeluk Dimas dengan sangat erat, ia menghirup wangi tubuh Dimas dengan sangat dalam, ia sangat merindukan pelukan ini yang sudah lama tidak ia rasakan.
__ADS_1
Jelita tergugu dan menenggelamkan wajahnya di dada Dimas. "Jelita kangen banget sama pelukan ini!" ucap Jelita dengan lirih.
"Hiks...hiks... Apa selama hidup Jelita, Jelita tidak akan pernah bahagia?"