
...Hei aku kembali lagi. Gimana dengan part ini? Suka gak? Jangan lupa like, vote, dan komentar sebanyak-banyaknya ya....
...Happy reading...
****
"KAK DIMAS!"
Dimas yang masih sibuk bekerja langsung menghentikan pekerjaannya saat mendengar suara yang amat ia rindukan selama tiga tahun terakhir ini. Dimas menjatuhkan bolpoinnya saat melihat gadis cantik yang berada di depannya.
"J-jelita," panggil Dimas dengan terbata.
Tanpa berbasa-basi Dimas langsung bangun dari duduknya dan berlari ke arah Jelita. Jelita juga tak kalah senangnya langsung masuk ke pelukan Dimas dengan meloncat, untung saja Dimas sigap untuk menyanggah bobot adiknya kalau tidak dapat dipastikan keduanya akan jatuh ke lantai.
Raka yang menemani adiknya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap adiknya yang kembali manja dengan orang terdekatnya, ketika sedang berada di luar sikapnya berubah dingin dan tak lagi tersentuh.
Dimas memeluk adiknya dan mencium puncak kepala Jelita dengan bertubi-tubi, matanya berkaca-kaca melihat wajah Jelita yang sangat cantik dan sangat terawat berbeda seperti tiga tahun yang lalu walaupun terawat dengan baik, terlihat jelas jika Jelita masih menyimpan banyak beban di hatinya dan sepertinya beban itu sekarang entah menguap kemana hingga wajah adiknya tampak berseri bahagia.
"Aku kangen banget sama kak Dimas. Kak Dimas kangen aku gak? Masih benci aku apa gak? Kakak sehat, kan? Papa gimana? Sehat juga, kan?" tanya Jelita menyerang Dimas dengan banyak pertanyaannya.
Dimas yang tadinya menangis menjadi terkekeh, ternyata adiknya tetap sama, cerewet dan masih memggemaskan seperti dulu. "Satu-satu tanyanya, Sayang!" ucap Dimas dengan gemas.
__ADS_1
"Kakak juga kangen banget sama kamu. Kakak gak benci kamu, Dek. Maafkan Kakak yang pernah berbuat kesalahan. Kakak sehat dan papa juga sehat," jawab Dimas dengan kebahagiaan menatap senyum adiknya yang mengembang.
"Jelita merengek kepada saya untuk pulang ke Indonesia buat bertemu dengan kamu," ucap Raka dengan tenang.
"Terima kasih lo mau mengabulkan keinginan Jelita karena gue pun sangat-sangat merindukan Jelita," ucap Dimas dengan tulus.
"Apapun untuk kebahagiaan Jelita akan saya lakukan!" ucap Raka dengan tegas membuat Dimas menganggukkan kepalanya.
Ceklek.
"Dim gue pu...lang!"
"Jelita!"
Arieska yang sejak tadi ditahan oleh Dimas di dalam ruangan pria itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi karena sudah menahan sakit perut sejak tadi. Alhasil ketika ia keluar dari kamar mandi Arieska merasa terkejut dengan keberadaan Jelita yang berada di dalam gendongan Dimas.
"Shitt..." umpat Dimas saat melihat Raka menatap Arieska dengan tak berkedip.
"Tetap di situ dan jangan mendekat!" ucap Dimas dengan dingin saat Arieska ingin mendekat ke arahnya.
Jelita yang merasa bingung dengan perubahan kakaknya hanya bisa menatap Dimas dengan heran saat kakaknya menurunkan dirinya dari gendongannya.
__ADS_1
"Jangan sesekali melirik ke arah lelaki lain jika tidak mau bola matamu aku congkel keluar!" teriak Dimas dengan murka saat melihat Arieska juga menatap Raka dengan tak berkedip.
Dengan langkah lebar Dimas mendekat ke arah Arieska. Ia menarik Arieska mendekat ke arahnya dan menutupi tubuh Arieska dengan jas yang ia pakai sampai menutupi seluruh badan dan wajah Arieska dan hanya menyisakan bagian kaki saja yang terlihat.
Deg...
Arieska merasakan detak jantung Dimas yang menggila saat telinganya tepat di dada Dimas sekarang.
"Dim gue gak bisa napas!" ucap Arieska dengan kesal tetapi Dimas terlihat masa bodoh dengan ucapan Arieska. Ia tidak mau Raka menatap miliknya dengan begitu intens.
"Jangan menatap milikku seperti itu!" ucap Dimas dengan tajam.
Raka terkekeh. Jujur saja ia terpana dengan kecantikan Arieska tetapi ia tidak akan merebut apa yang menjadi milik Dimas. Toh Jelita belum mendapatkan lelaki yang baik yang bisa menjaga adiknya maka ia tidak akan menikah sebelum Jelita menikah.
"Kalian pacaran?" tanya Jelita dengan penasaran.
"Iya!"
"Tidak!"
"Kya... Siapa memperbolehkan kamu mengatakan tidak?" tanya Dimas dengan marah.
__ADS_1
"Gue lah!"
"Dasar pasangan aneh!"