
...Happy reading...
*****
Nathan menunggu Gladis dengan sabar, bahkan ia sampai tidak memperhatikan kesehatannya jika tidak ada anak-anak dan adik-adiknya yang selalu menyemangati dirinya tentang kesadaran Gladis yang belum juga sadar sampai sekarang.
Nathan menggenggam tangan kurus Gladis dengan pelan seakan ia takut jika tangan istrinya akan hancur jika dirinya memegang tangan rapuh itu dengan kuat. Air mata Nathan menyeruak keluar dari sudut matanya, ia menangis dalam diam ketika melihat setiap harinya tubuh Gladis kian tampak kurus dan ringkih.
Nathan mengerjap dengan jantung yang berdegup kencang kala merasakan gerakan tangan Gladis yang terasa cukup perlahan saat ia mengecup tangan tersebut. Perlahan juga mata indah istrinya terbuka yang membuat Nathan menangis bahagia bahksn ia hampir terisak karena sangking terharunya melihat istrinya sadar setelah sekian lama tertidur.
"K-kamu sudah sadar Sayang?" tanya Nathan dengan lirih.
"M-mas..." Gladis berbicara dengan terbata karena ia merasa tenggorokkannya sangat kering sekali.
"Iya Sayang," jawab Nathan yang mendekat ke arah bibir sang istri agar ia dapat mendengar suara pelan istrinya.
"H-haus..." ucap Gladis dengan lirih.
__ADS_1
Nathan dengan cepat memberikan Gladis air minum dengan menggunakan sendok agar istrinya mudah untuk menelan air tersebut. Gladis dengan tak sabarannya langsung menelan air minum yang diberikan suaminya dengan menggunakan sendok, ia sedikit merasa lega kala air itu masuk ke dalam tenggorokkannya.
"Lagi Sayang?" tanya Nathan dengan lirih.
Gladis menggelengkan kepalanya, ia ingin banyak bicara dengan suaminya dan menanyakan kabar suaminya yang terlihat kurus dan tidak terurus dengan baik tetapi Gladis merasa tidak mampu untuk mengeluarkan banyak suara. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menggenggam tangan suaminya agar tidak ditinggalkan kemana pun.
"Mas panggilkan dokter dulu ya!" ucap Nathan dengan lembut.
Nathan ingin beranjak dari duduknya tetapi tangan Gladis sangat menggenggamnya erat membuat Nathan tahu sang istri tak ingin ditinggalkan olehnya.
"Mas tidak akan kemana-mana Sayang! Terima kasih sudah mau membuka matamu untuk Mas dan anak-anak kita," gumam Nathan dengan lirih.
*****
Setelah Rasyad mendapatkan kabar jika sang bunda sudah sadar dari kembarannya, ia langsung pergi ke rumah sakit bersama dengan Erina walau hatinya masih diterpa rasa gundah dan rasa bersalah kepada Jelita tidak menutup kebahagiaan ketika mendengar ibunya sudah sadar dari komanya.
Kedua kakak beradik itu hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir keduanya, mereka sibuk berperang dengan batin mereka sendiri tentang pasangan mereka yang tidak bersama dengan keduanya.
__ADS_1
Hingga mobil Rasyad sampai di rumah sakit pun tak ada suara yang keluar dari keduanya. Erina mengikuti langkah cepat sang kakak yang terlihat tak sabaran sedangkan Erina ia tak mampu untuk berjalan cepat karena kondisinya kurang fit sejak kemarin. Ia yerus memikirkan hubungannya dengan Raka akan berakhir seperti apa kedepannya. Apakah akan bahagia atau malah sebaliknya? Dan Erina berserah pada takdir yang akan ia terima nantinya.
"Kak!" panggil Erina duduk di sebelah Rasyid yang sedang bersama Geana. Sejak kejadian itu keduanya tampak lengket dan Gea selalu menemani Rasyid saat menjaga ibu mereka.
Rasyid melihat ke arah sang adik yang terlihat lesu, dengan sigap ia memberikan sandaran untuk adiknya. "Bunda sudah baik-baik saja tidak perlu sekhawatir itu," ucap Rasyid dengan lembut.
Erina hanya tersenyum menikmati elusan tangan Rasyid yang berada di kepalanya. Sedangkan Geana hanya melihat interaksi keduanya dengan tersenyum.
"Andai aku punya keluarga," gumam Gea di dalam hatinya.
Sadar jika sang kekasih juga merasa sedih Rasyid memeluk Gea dengan erat alhasil ia memeluk kedua gadis yang ia sayang dengan kedua tangannya. Sedangkan Rasyad langsung masuk ke ruangan sanf bunda karena setelah ini ia akan bergantian dengan saudaranya yang lain.
"Bunda!" panggil Rasyad dengan lirih saat melihat Gladis sedang disuapi oleh Nathan.
"Rasyad," Gladis tersenyum melihat kedatangan anaknya.
"Dimana Jelita? Kata ayah kalian sudah menikah kok kamu sendirian?" tanya Gladis dengan mata yang mencari keberadaan Jelita.
__ADS_1
"J-jelita...Jelita...." Rasyad tidak bisa menjawab pertanyaan bundanya bibirnya seakan keluh untuk memberitahu keberadaan Jelita sekarang.
"Aku di sini Bunda!" ucap sebuah suara yang membuat Rasyad bahagia sekaligus lega akhirnya ia bisa melihat sang istri setelah dua hari tidak bertemu.