
Happy Reading
*****
"M-mama!"
Mama Amanda, Dimas, dan Arieska melihat ke arah sumber suara. Ketiga mematung melihat keberadaan Jelita yang tak jauh darinya. Dimas khawatir dengan keadaan Jelita yang pucat pasih sekarang.
"Enggak! Wanita itu bukan Mama!"
"Bukan!" teriak Jelita histeris ketakutan.
Setelah pulang dari rumah Raka dan Erina. Jelita meminta Rasyad untuk menemui Dimas dan Arieska, wanita itu merasa rindu dengan kakaknya tetapi enah kenapa ia bisa bertemu dengan mamanya di sini.
Rasyad membisikkan Nazwa agar berlari ke arah Arieska agar ia bisa menenangkan istrinya yang terlihat histeris. Setelah Nazwa sudah berada di pelukan Arieska, ia memeluk istrinya dengan erat.
"Sayang! Lihat aku!" ucap Rasyad dengan cemas.
"Enggak, Mas! Itu bukan Mama!" teriak Jelita dengan histeris, ia menjambak rambutnya dengan kuat yang membuat Rasyad semakin cemas dengan keadaan mental istrinya, begitu dalam rasa sakit yang dirasakan Jelita kepada mama kandungnya sendiri.
"Ini Mama, Nak. Sini Nak peluk Ma! Mama kangen sama kamu," ucap Mama Amanda dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang menyunggingkan senyum bahagianya karena bisa bertemu dengan Jelita secara langsung, selama ini ia hanya bisa melihat foto anaknya.
"Enggak! Mama jahat!" teriak Jelita histeris.
"Anda pergi dari sini! Anda tidak melihat Jelita ketakutan hah?" teriak Dimas dengan murka. Ia menarik tangan mamanya agar menjauh dari adiknya yang masih ditenangkan oleh Rasyad.
"Enggak Dimas! Mama mau memeluk adik kamu," ucap Mama Amanda memberontak.
"Pergi!" teriak Dimas murka.
__ADS_1
"Tolong Mama, Dim!" ucap Mama Amanda memelas.
"Keluar!" geram Dimas. Emosinya sudah di ubun-ubun ketapi wanita ini tetap ngotot ingin bertemu dengan adiknya padahal keadaan Jelita tidak memungkinkan untuk mengobrol dengan mamanya.
Jelita terus berteriak ketakutan di pelukan Rasyad. "SAYANG DENGARIN MAS!" teriak Rasyad menangkup wajah Jelita dengan kedua tangannya.
Jelita langsung terdiam dengan menatap Rasyad dengan sayu. "Kamu gak boleh lemah, oke. Jangan biarkan rasa sakit kamu yang menguasai perasaan kamu saat ini," ucap Rasyad dengan lembut.
Jelita mengangguk. Benar kata suaminya ia tidak boleh kembali lemah, dengan menghembuskan napasnya perlahan Jelita mulai mengontrol emosinya. Ia menatap mamanya yang masih berusaha diusir oleh kakaknya.
"Ma!" panggil Jelita dengan suara yang dingin membuat mama Amanda menatap Jelita dengan haru.
"Iya, Sayang. Ini Mama," ucap Mama Amanda dengan lirih.
"Kenapa Mama tinggalin Jelita dan kak Dimas dulu? Apa Mama tidak pernah merasa bersalah akan hal itu? Kami sangat menderita, Ma. Papa Dero sampai sakit karena Mama! Kami juga sakit, Ma. Tapi dengan seenaknya Mama datang lagi setelah kami mendapatkan kebahagiaan masing-masing. Seharusnya Mama tidak perlu datang ke kehidupan kami, itu sama saja Mama kembali membuat luka yang dulu kami rasakan kembali menganga lebar, Ma," ucap Jelita dengan dingin dan penuh kesakitan di hatinya.
"Maafkan Mama, Nak. Suatu saat kamu pasti tahu semuanya," ucap Mama Amanda dengan lirih.
"Jelita!"
"Pergi, Ma!" teriak Jelita dengan emosi.
"Anda pergi sekarang!" desis Dimas dengan tajam.
Air mata Mama Amanda keluar begitu saja saat tangannya ditarik kuat oleh Dimas. Kali ini ia mengalah untuk tidak memeluk Jelita, ia mengalah karena anak-anaknya terlihat sangat membencinya.
"Kali ini Mama mengalah, Dim. Tetapi tidak untuk besok, Mama akan terus menemui kalian," ucap Mama Amanda dengan tegas tetapi Dimas tak peduli ia terus menyeret mamanya hingga keluar dari perkarangan rumahnya dan setelah itu ia menguncinya agar sang mama tidak kembali masuk.
Dimas menghampiri adiknya. "Kamu gak apa-apa kan, Dek?" tanya Dimas dengan cemas.
__ADS_1
"Enggak, Kak. Tapi di sini masih sangat sakit," ucap Jelita dengan jujur.
Dimas tersenyum miris. "Kita sama! Luka itu masih menganga di sini," tunjuk Dimas tepat di hatinya.
"Masuk dulu! Kita tunggu wanita itu pergi!" ucap Rasyad dengan tegas karena ia takut istrinya kembali histeris.
"Iya ayo masuk!" ucap Dimas.
****
"Kamu berani melanggar aturan saya, Manda!" ucap Frendy dengan dingin.
Amanda menatap suaminya dengan memelas. "Dimas anak aku, Pa. Dan Jelita anak kita. Apa Papa tidak merindukan Jelita? Jujur saja aku sangat merindukannya," ucap Amanda dengan sesak.
"Kedatangan kita ke Indonesia untuk membawa Damian pulang ke Inggris. Tetapi kamu telah melanggar peraturan yang saya berikan ke kamu sebelum kaki kita menginjakkan tanah kembali di sini," ucap Frendy tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Cukup Mas! Aku ini seorang ibu! Seorang ibu yang sangat merindukan kedua anaknya yang selama ini aku telantarkan begitu saja," teriak Amanda dengan tegas.
"Kamu yang memilih. Menikah dengan saya artinya kamu harus meninggalkan mereka. Kamu tahu anak diluar pernikahan itu sangat dilarang keras oleh keluarga saya! Mereka dianggap pembawa sial!" ucap Frendy dengan tegas.
"Tapi Jelita gak salah, Mas! Itu kesalahan kita!" ucap Amanda dengan tubuh yang luruh ke lantai. Ia menangis terisak dan bersujud di bawah kaki suaminya.
Frendy sama sekali tidak bergeming, ia harus mengeraskan hatinya agar tidak lemah, walau di dalam lubuk hatinya ia juga sangat merindukan anak pertamanya dari Amanda.
"Jangan lemah! Berdirilah! Hari ini kita akan pulang membawa Damian! Tentang Raka, anak itu sangat keras kepala, dia sudah menikah dengan adik dari Rasyad, suami dari Jelita. Saya akan urus mereka nanti karena kita harus membawa Damian pulang karena hanya dia yang akan menjadi pewaris kekayaan Erlangga ketika Raka sudah tidak mau lagi menerima itu semua," ucap Frendy dengan datar.
"Pa!"
"Cukup, Ma! Atau kamu akan melihat papa Agam yang bertindak!" ucap Frendy dengan dingin.
__ADS_1
"Jangan, Pa. Tolong jangan katakan padanya kalau Mama bertemu dengan Jelita di sini," ucap Amanda memohon.
"Tanpa Papa beritahu pun. Orang tua itu sudah mengetahuinya. Bersiaplah menerima kemarahannya setelah kita pulang!" ucap Frendy dengan dingin yang membuat tubuh Amanda mematung karena takut.