
...Hei-hei aku kembali lagi dengan kisah mereka. Jangan like, vote, komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
*****
Setelah memastikan keadaan Jelita baik-baik saja, tuan muda beserta asisten setianya yaitu Rendy sudah berada di dalam mobil mewahnya. Jelita sudah bersama dengan suster dan psikiater terbaik yang ia pekerjakan untuk membantu kesembuhan Jelita.
"Bagaimana dengan pernikahan Rasyad?" tanya tuan muda dengan dingin.
"Berjalan lancar Tuan Muda. Tetapi saya yakin jika pernikahan mereka tidak berlangsung dengan lama," ucap Rendy dengan tersenyum tipis.
"Kenapa kau bisa seyakin itu Rendy?" tanya tuan muda dengan mengejek.
"Hahaha...Tuan Muda tahu sendiri bagaimana kelakuan model itu di Paris saat itu, Tuan. Dia seperti jal*ng profesional tetapi jika di depan keluarga tuan Nathan dia seperti seekor anak kucing. Aku rasa tuan Rasyad akan memyesal menikah dengannya," jelas Rendy dengan tertawa.
"Biarkan saja lelaki bodoh itu menyesal telah menyia-nyiakan berlian berharga seperti Jelita. Aku pikir dia tidak akan sebodoh itu karena dalam hal bisnis dia sangat pintar tetapi kelakuannya yang terus menolak Jelita membuatku muak. Kita lihat saja sampai mana keduanya akan bertahan," ucap Tuan Muda dengan sinis.
"Ahhh..kenapa aku terus bertemu lelaki bodoh di dunia ini? Kedua tua bangka itu, Dimas, Rasyad, mereka benar-benar membuatku muak," keluh Tuan Muda dramatis.
"Anda juga tidak sadar bodoh dalam hal cinta Tuan," gumam Rendy di dalam hati. Tak mungkin ia berbicara langsung kepada tuan mudanya, bisa-bisa kepalanya dipenggal sekarang juga.
Mobil yang Rendy kendarai sudah sampai di kantor polisi. Lelaki tampan yang penuh karisma menatap sinis ke arah depan, ia akan bertemu dengan Dimas. Ia yakin Dimas mengenalinya dan ia mau mengetahui bagaimana reaksi Dimas ketika dirinya ada di negara ini.
Dengan langkah tegas sang tuan muda masuk ke dalam kantor polisi. Rendy sudah mengurus semuanya, dirinya tinggal menemui Dimas yang berada di dalam sana, yang mungkin akan di penjara se-umur hidup jika Elang tidak meringankan siksaan Dimas.
"Selamat pagi, Dimas!" sapa Tuan Muda dengan sinis.
Dimas mendongakkan kepalanya menatap sang tuan muda dengan terkejut. "L-lo..."
"Iya ini gue. Kenapa lo terkejut begitu? Bukannya lo tahu siapa gue?" tanya Tuan Muda dengan santai.
"Brengs*k! Mau apa lo ke sini, hah? Mau menyakiti Jelita sama seperti papa lo itu?" tanya Dimas dengan sinis.
"Lo yang brengsek! Jangan samakan gue sama tua bangka itu! Kalian semua yang brengsek menyakiti mental adik gue begitu dalam sampai adik gue seperti orang gila!" teriak Tuan Muda dengan marah.
__ADS_1
"Jelita adik gue bukan adek lo!" ucap Dimas tersulut emosi.
"Hanya adik tiri yang gak dianggap selama ini, bukan? Kalian memang dilahirkan dari rahim yang sama tetapi gue dan Jelita satu darah dari ayah yang sama. Gue kakak kandungnya, gue yang lebih berhak atas kebahagiaan adik gue yang lo sia-siakan selama ini," ucap Tuan Muda dengan sinis.
Dimas hanya diam menatap tuan muda dengan tajam. Tatapan tuan muda tersebut tak kalah tajamnya. "Lo tahu apa yang terjadi dengan Jelita waktu lo sibuk dengan balas dendam lo yang gak berguna itu? Bahkan lo juga kehilangan cewek yang selama ini sayang sama lo," ucap Tuan Muda dengan sinis.
"Apa maksud lo Raka Erlangga?" tanya Dimas dengan marah.
"Rendy bawa ponsel kamu ke sini dan putar video Jelita," ucap Tuan Muda yang dipanggil Raka Erlangga oleh Dimas, Kakak kandung Jelita yang berarti keduanya anak dari Frendy namun beda ibu, orang yang sudah menghancurkan kehidupannya selama ini.
"Baik Tuan Muda!" ucap Rendy dengan patuh dan memberikan ponselnya kepada Dimas.
"Lihat dengan benar bagaimana keadaannya sekarang!" ucap Raka dengan dingin.
Dimas menatap ponselnya yang sudah memutar video Jelita. Adiknya itu hanya diam dengan tatapan kosongnya, bahkan tersenyum sendiri lalu menangis. Dimas memejamkan matanya dengan erat, ada ribuan jarum yang menusuk hatinya sekarang. Adiknya tak mungkin gila, kan?
"Jelita kenapa? Katakan adik gue kenapa?" tanya Dimas dengan suara seraknya karena saat ini ia sedang menahan tangisnya yang hendak pecah.
Raka menghela napasnya dengan berat. "Dave mencoba memperkosa Jelita saat lo pergi. Saat gue datang tubuh Jelita sudah telanj*ang dengan Dave yang sudah siap untuk memperkosa Jelita. Saat itu gue sangat marah dan langsung menghajarnya kalau bukan Dave buronan polisi selama ini dan mengingat hukum yang berlaku di sini sudah gua bunuh dia! Jelita mengalami depresi berat karena trauma akan apa yang dilakukan Dave kepadanya bukan itu juga alasan utamannya, ada satu lagi alasan yang memicu Jelita menjadi seperti itu...."
"A-apa alasan lainnya? Katakan padaku Raka!" ucap Dimas dengan memohon dan tidak seperti tadi yang terlihat marah dengan kedatangan Raka.
"Batinnya tersiksa selama ini. Sejak kecil Jelita berusaha kuat demi lo. Demi agar lo gak membencinya, dia berpura-pura kuat saat lo menganggapnya tidak ada, lalu ketika kakak angkatnya menyakiti hatinya karena tidak membalas cinta Jelita. Tiga alasan yang membuat Jelita down sekarang. Gue akan membawa Jelita pergi dari negara ini, di sini gak baik buat mentalnya," ucap Raka dengan mata yang memerah karena ia selalu lemah jika menyangkut adiknya.
Kedua kakak tersebut sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing. "Lo boleh bawa Jelita pergi asal keluarga lo tidak tahu Jelita bersama lo," ucap Dimas pada akhirnya.
"Gue gak sebodoh itu membuat adik gue tersiksa. Aturan yang dibuat kakek gue itu adalah hal konyol yang pernah ada. Dan gue gak mau adik gue mati konyol karena tua bangka itu," ucap Raka dengan sinis.
Dimas mengangguk dengan lirih. "Lo mau bawa Jelita kemana?" tanya Dimas dengan sendu.
"Jepang atau Australia mungkin. Karena gue gak mungkin membawa Jelita ke Inggris karena semua keluarga gue di sana," ucap Raka dengan tegas.
"Sebelum lo bawa Jelita pergi, gue mau bertemu sama dia," ucap Dimas dengan penuh harap.
"Gue gak janji. Jam berkunjung sudah habis, gue permisi," ucap Raka dengan tegas.
__ADS_1
"Tunggu!" Dimas mencegah Raka. "Please... Bawa Jelita ke sini sebelum kalian pergi. Bagaimanapun gue adalah kakaknya," ucap Dimas yang tak bisa mencegah air matanya kembali.
"Gue usahakan," ucap Raka dengan datar. Lalu berlangkah pergi meninggalkan Dimas begiti saja.
"Arghhhh..." teriak Dimas dengan keras membuat polisi yang berada di sana menatap tajam ke arah Dimas. Dimas tak peduli dengan semuanya, ia memikirkan Jelita dan Arieska dalam bersamaan. Dimas kehilangan keduanya dalam waktu yang bersamaan, rasa bersalahnya membuat Dimas tak lagi bisa menahan dirinya.
"GUE KAKAK YANG GAK BECUS!" teriak Dimas dengan menangis.
"Sebaiknya anda kembali masuk ke dalam tahanan Tuan!" ucap polisi tersebut dengan datar. Dimas tak memberontak di dalam pikirannya hanya menyesal.
****
Sedangkan di keluarga Nathan sedang dibuat panik ketika melihat Jelita tidak ada di kamarnya.
"Ayah dimana Jelita? Hiks...hiks..cari Jelita sekarang! Ayah, Rasyid, Erina cepat cari Jelita!" ucap Gladis dengan histeris.
Rasyid merasa jika Jelita sudah pergi jauh dari rumahnya. Ia menatap kertas yang berada di atas meja. Rasyid mengambil kertas tersebut.
"Bun, ada surat dari Jelita," ucap Rasyid dengan lirih.
Dengan gemetar Gladis mengambil surat tersebut dari tangan Rasyid.
Assalamualaikum keluarga baik.
Bunda, ayah, kak Rasyad, kak Rasyid, dan kak Erina. Jelita minta maaf jika selama ini Jelita selalu merepotkan sejak kecil. Jujur Jelita bahagia berada di tengah-tengah keluarga ini, menjadi bagian dari keluarga ini. Tetapi Jelita merasa tidak pantas untuk mendapatkannya. Jelita harus pergi, kalian tidak perlu khawatir Jelita akan baik-baik saja.
Untuk ayah dan bunda, jangan memgkhawatirkan Jelita lagi, ayah dan bunda harus memikirkan kesehatan kaliam. Jika takdir mempertemukan kita lagi pasti kita akan bertemu. Jelita sayang bunda dan ayah kalian adalah orang tua terbaik yang sangat berarti untuk Jelita.
Untuk kak Rasyid dan kak Erina, kalian adalah pengganti kakak terbaik yang pernah Jelita kenal. Saat Jelita kehilangan sosok penyayang seperti kak Dimas, kalian berdua seakan menggantikan sosoknya hingga Jelita merasa lebih kuat lagi menjalani hidup.
Untuk kak Rasyad, terima kasih untuk semuanya. Aku merasa menjadi adik yang beruntung karena kakak selalu melindungi aku, menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidup aku. Sikap over protektif dan posesif kakak membuat Jelita nyaman. Maaf jika Jelita lancang hingga tidak bisa mencegah perasaan cinta ini tetapi Jelita berusaha untuk bisa melupakannya. Selamat berbahagia bersama dengan kak Lolita.
Selamat tinggal.
Jelita sayang kalian semua.
__ADS_1
Tubuh Gladis luruh dilantai dengan menetekan air matanya. "Telepon kakak kamu sekarang!"