
...Hei-hei aku kembali lagi dengan cerita ini. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak ya biar aku semangat buat update....
...Happy reading...
*****
Rasyad menjatuhkan tubuhnya di kasur. Setelah beberapa hari di Bali akhirnya Rasyad kembali pulang ke Jakarta tetapi ada yang sangat mengganjal di hatinya yaitu pertemuannya dengan Jelita, ada rasa sesal di hatinya setelah berkata tajam kepada Jelita. Rasyad melihat kekecewaan di hati Jelita tetapi gadis itu tutupi dengan raut wajah dinginnya. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di hati Rasyad saat ini.
Kenapa Jelita terlihat sangat berubah? Mengapa Jelita terlihat begitu dingin kepadanya? Siapa lelaki yang bersama dengan Jelita? Apakah lelaki itu benar-benar pemuas nafs* gadis itu karena saat di foto itu wajah lelakinya sangat berbeda dengan yang ia lihat waktu itu?
Tok..tok...
Rasyad mengusap wajahnya dengan kasar lalu melihat ke arah pintu kamar miliknya yang terus diketuk. "Masuk!" teriak Rasyad sedikit keras.
"Bunda, Wawa!" ucap Rasyad dengan tersenyum.
"Ayah!" teriak Nazwa yang langsung meminta Rasyad menggendongnya.
__ADS_1
Rasyad langsung menggendong Nazwa, ia tersenyum miris saat melihat wajah Nazwa. Gadis kecil yang berada di dalam gendongannya ini ternyata bukan anaknya. Kenapa Lolita begitu tega membohonginya? Tetapi walaupun begitu Rasyad tidak akan memberikan Nazwa kepada Lolita, ia tidak mau nasib Nazwa akan buruk bila berada di tangan Lolita.
"Kenapa, Sayang? Kangen sama Ayah ya?" tanya Rasyad dengan lembut dengan mengusap pipi Nazwa.
Nazwa mengangguk dengan semangat, ia mengecup pipi Rasyad dengan sayang. "Kangen banget cama Ayah. Ayah cibuk kelja telus sih!" ucap Nazwa dengan lucunya membuat Rasyad terkekeh. Rasa lelahnya entah hilang kemana saat menatap Nazwa, anaknya ini sangat mirip dengan Jelita.
Eh, kenapa selalu saja ia memikirkan Jelita sih? Ia sudah sangat berusaha untuk melupakan rasa cintanya kepada Jelita tetapi tetap saja rasa cinta itu masih sangat besar dan hati kecilnya selalu menyangkal tentang apa yang pikirannya tuduhkan selama ini. Ego Rasyad masih sangat besar kepada Jelita, ia masih amat merasa kecewa tentang kepergiaan Jelita di kehidupannya, dan tentang foto itu. Ingin sekali Rasyad mencari tahu semuanya tetapi ia sangat takut merasakan kecewa yang lebih dalam untuk Jelita.
"Kamu kenapa? Apa yang terjadi di Bali?" tanya Gladis dengan penasaran saat melihat raut wajah sang anak terlihat tertekan dan banyak beban yang sepertinya Rasyad tanggung sekarang.
"Lolita benar selingkuh, Bun!" ucap Rasyad dengan tenang tanpa ada rasa sakit hati yang ia rasakan kepada Lolita sekarang karena otak dan hatinya sedang memikirkan Jelita.
"Sepertinya ada hal lain yang mengganggu pikiran kamu sekarang. Benar kan tebakan Bunda?" ujar Gladis menatap Rasyad.
"Hmmm iya Bun. Aku bertemu Jelita tidak sengaja waktu di pantai bersama lelaki," jawab Rasyad dengan pelan. Ia mengelus kepala Nazwa yang tenang di dalam pangkuannya dan sepertinya Nazwa sudah nampak mengantuk sekarang. Sepertinya Nazwa memang sangat merindukanya sampai-sampai Nazwa langsung tertidur di pangkuannya setelah mengobrol sebentar dengannya.
"KAMU BERTEMU JELITA? KENAPA KAMU TIDAK MEMBAWA DIA PULANG KE RUMAH INI? YA ALLAH, BUNDA SANGAT MERINDUKAN JELITA, SYAD!" ucap Gladis dengan bahagia. Akhirnya selama tiga tahun ia memendam perasaan rindunya terhadap Jelita, Gladis bisa mendapatkan kabar tentang Jelita dari Rasyad sekarang.
__ADS_1
"Bun, please jangan berharap dia kembali ke rumah ini lagi," ucap Rasyad dengan sendu.
"Kenapa? Kenapa kamu sangat egois sekali sih? Kamu tidak mau mencari tahu kebenarannya padahal hati kecil kamu sangat menyangkal tentang foto itu!" ucap Gladis dengan tajam.
"Aku takut, Bun! Aku takut jika foto itu memang benar adanya. Aku takut semakin membenci Jelita," jawab Rasyad dengan jujur. "Aku memang bodoh! Tetapi aku melakukan ini supaya rasa kecewaku perlahan memudar untuknya," lanjut Rasyad dengan berat.
"Jika semua itu hanya rekayasa apa yang akan kamu lakukan? Meminta maaf kepada Jelita? Semua tidak akan sesederhana apa yang kamu pikirkan, Syad!" ucap Gladis dengan tegas.
"Bun..."
"Sudahlah! Kamu sama ayah kamu sama saja! Kalian seperti pinang di belah dua bedanya kamu lebih egois," ucap Gladis dengan sebal. "Jika nanti Jelita kembali Bunda akan menjodohkannya dengan Rasyid!" lanjut Gladis dengan kesal yang membuat Rasyad membelalakkan matanya terkejut.
"Bun..."
"Kamu gak boleh protes apa yang sudah menjadi keputusan Bunda!" ucap Gladis memotong ucapan Rasyad sebelum anaknya itu berbicara.
"Bunda tahu sejak dulu kamu menyimpan rasa untuk Jelita dan kamu berusaha menyangkalnya juga berusaha membenci adik angkatmu sendiri tetapi di dalam lubuk hati kamu yang paling dalam kamu tidak bisa membencinya. Kamu hanya berusaha membenci Jelita. Kamu tahu persis ucapan pedas kamu yang membuat Jelita pergi dari rumah ini dan ketika kamu tidak bisa mengontrol ucapan pedas itu kembali Bunda yakin tidak hanya tubuhnya yang pergi dari kehidupan kamu tetapi hatinya juga. Dan saat itu terjadi jangan meminta bantuan Bunda untuk membuat Jelita kembali mencintaimu. Bunda rasa hanya Rasyid yang mampu menjaga Jelita!" ucap Gladis dengan menggebu.
__ADS_1
Tanpa diketahui oleh Rasyad dan Gladis. Rasyid mendengar semuanya yang membuat pria itu menjadi serba salah. Di satu sisi ia tidak mau melihat Gladis sakit, di sisi lain hatinya sudah bertahta satu nama wanita yang sudah menjungkir balikkan kehidupannya selama ini. Rasyid hanya menganggap Jelita sebagai adiknya tidak ada perasaan lebih selama ini.
"Gea, apa yang harus Mas lakukan? Mas tidak mungkin melepaskan kamu begitu saja!" gumam Rasyid dengan frustasi.