Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 52~ (Rindu Yang Menyakitkan)


__ADS_3

...Happy reading...


****


Pagi ini sesuai dengan janji Elang sebelumnya, mereka akan menemui Dimas yang ada di penjara. Rasa takut di dalam hati sedari tadi Mentari rasakan karena kelakuan Dimas yang mencelakainya terbayang di benaknya, membuat Mentari merasa gemetar tetapi tidak ia tampakkan di depan Elang.


Elang yang mengerti istrinya mulai merasa takut menemui Dimas langsung menggenggam tangan istrinya dan berjongkok di hadapan Mentari yang sedang duduk di meja rias. "Kalau kamu takut kita tunda dulu saja," ucap Elang dengan tegas. Sorot matanya terlihat khawatir dengan Mentari, ia takut ketika Mentari membayangkan kekejam Dimas itu membuat istrinya trauma kembali.


Mentari menggelengkan kepalanya. "Mentari gak mau menunda lagi. Ini amanah dari mbak Arieska. Kita harus memberikan ini kepada Dimas, walaupun Mentari takut, Mentari akan mencoba melawannya karena Mas ada di samping Mentari," ucap Mentari dengan tersenyum lirih. Membuat Elang ikut tersenyum menatap istrinya yang sangat baik sekali dan Elang beruntung mendapatkan Mentari. Kedua orang tuanya tidak salah memilihkan istri untuknya.


"Kalau begitu ayo kita berangkat," ucap Elang dengan tegas.


Mentari menganggung, ia memegang lengan Elang dengan mesra membuat Elang tersenyum tipis ke arah istrinya. Sampai di bawah Elang dan Mentari melihat Alan yang sedang mengobrol dengan Leon. Elang mengeryit bingung saat melihat wajah om-nya yang sangat frustasi tersebut.


"Om kenapa?" tanya Elang dengan penasaran.


"Biasa. Di tinggal kabur sama cewek saat lagi sayang-sayangnya," ucap Alan dengan mengejek.


"Mas! Kali ini bantu Leon untuk mencari keberadaan Laura. Please... Leon ingin menikah dengan dia," ucap Leon dengan frustasi karena sudah dua hari ini Laura pergi tanpa kabar padahal mereka masih baik-baik saja dan gadis itu mulai bisa menerimanya.


"Kamu itu jadi lelaki yang tegas. Kalau cinta ya bilang cinta jangan membuat Laura takut dan memilih pergi dari kamu," ucap Ulan yang baru saja dayang dari dapur dengan membawa minum untuk suami dan adiknya.


"Kak Ulan sama saja seperti ayah dan bunda. Laura berbeda, dia wanita satu-satunya yang sama sekali tidak tertarik dengan Leon. Lalu Leon harus bagaimana lagi membuat Laura mau menerima Leon?" ucap Leon frustasi.


Elang menatap iba pada Leon. Baru kali ini ia melihat Leon sangat mencintai perempuan dengan sangat dalam. Tetapi sekarang dirinya hendak pergi menemui Dimas membuat Elang tidak bisa membantu om-nya tersebut.


"Om semangat. Kalau kak Laura jodohnya Om Leon pasti kembali kepada Om Leon. Saran Mentari Om jangan kaku sama perempuan, makanya tuh kak Laura pergi," ucap Mentari dengan spontan membuat Alan, Ulan serta Elang ingin ketawa karena benar apa yang dikatakan Mentari.


Leon hanya diam membuat Mentari merasa bersalah. "Mas, Mentari salah ngomong ya? Tapi kan apa yang Mentari bilang benar Mas. Om Leon kayak tembok, datar gitu tapi ganteng sih," bisik Mentari membuat Elang melotot.


"Lebih ganteng suami kamu," ucap Elang dengan datar membuat Mentari tersenyum tipis dan menggaruk pipinya karena salah tingkah.


"Ayah, Bunda, Om. Elang sama Mentari pergi dulu," ucap Elang yang tak ingin berlama-lama di rumah karena Mentari akan terus memuji Leon ganteng.


"Iya. Kalian hati-hati," ucap Ulan dan Alan bersamaan membuat keduanya mengangguk.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


*****


Setelah menempuh perjalan kurang lebih 45 menit karena kemacetan yang menimpa Elang dan Mentari keduanya sampai di kantor polisi. Genggaman tangan Mentari semakin erat kala langkah mereka semakin masuk ke dalam, Elang sudah menghubungi polisi yang berjaga di dalam, mereka langsung masuk setelah memberikan kartu kunjungan pada polisi yang berjaga. Semua itu Elang dapatkan dari sekretaris yang membantunya.


"Mas, Mentari takut!" bisik Mentari saat sudah melihat Dimas di bawa oleh polisi untuk bertemu dengan mereka.


"Ada Mas di sini," ucap Elang dengan tersenyum. Mentari sedikit merasa aman ketika genggaman Elang semakin erat. Keduanya duduk berhadapan dengan Dimas.


"Gimana keadaan lo?" tanya Elang berbasa-basi. Dirinya sebenarnya malas untuk sekedar berbasa-basi kepada Dimas.


"Ya seperti yang lo lihat," ucap Dimas dengan datar. Pandangannya menatap Mentari dengan dingin membuat wanita itu menciut takut.


"Jangan memandang istri gue seperti itu!" ucap Elang dengan dingin.


"Ngapain lo berdua ke sini? Bukannya kalian senang melihat gue di penjara?" tanya Dimas dengan tajam.


Deg.


Mendengar nama Arieska membuat hati Dimas merasa berdenyut sakit. "Kenapa bukan Arieska saja yang memberikannya ke gue?" tanya Dimas dengan lirih.


"Menurut lo setelah dia ditembak demi menyelamatkan nyawa lo dan tembakan tersebut mengenai dadanya apa bisa Arieska bertemu dengan lo? Bahkan tubuhnya aja sangat lemah, tubuh yang lo hina sudah menghilang dibawa penyakit yang menggerogotinya selama ini. Selama 3 minggu Arieska koma dalam keadaan yang sangat kritis." Elang berkata dengan sangat tajam membuat Dimas terdiam, dia mengambil sesuatu yang diberikan Arieska dari tangan Mentari.


"Mbak Arieska berpesan agar kamu bisa berubah. Tidak lagi menjadi orang jahat, peminum, mengkonsumsi narkoba karena dia mau kamu berubah, katanya jika perubahan kamu bukan untuk dia berubahlah demi perempuan yang nanti akan menjadi istri kamu. Mbak Arieska sangat cinta sama kamu, Mentari berharap kamu bisa sadar bahwa ada seseorang yang selalu berkorban demi kamu," ucap Mentari dengan sorot mata yang tegas kali ini ia ingin menyampaikan pesan Arieska dengan memandang ke arah Dimas agar ia tahu reaksi Dimas seperti apa dan Mentari tahu Dimas perlahan menyesali perbuatannya.


"Gue ingin bertemu dengan Arieska," ucap Dimas dengan lirih.


"Gue rasa lo terlambat," ucap Elang dengan datar. Ia sengaja berbohong agar Dimas semakin menyesali perbuatannya.


"Maksud lo?" tanya Dimas dengan cemas. Tidak mungkin Arieska pergi meninggalkannya, kan? Dimas belum sama sekali meminta maaf kepada gadis itu, Dimas sangat dihantui rasa bersalah kepada Arieska.


Elang sama sekali tidak menjawab, ia sangat suka melihat raut wajah cemas dan khawatir Dimas. Elang juga menangkap jika Dimas memiliki rasa sayang untuk Arieska. "Arieska memohon ke gue untuk meringankan hukuman lo dengan keadaan yang amat sangat memprihatinkan. Gue rasa pembicaraan kita sudah cukup sampai di sini. Gue permisi," lanjut Elang dengan tegas dan langsung membawa Mentari keluar dari ruangan tersebut. Tidak ada yang mengetahui jika sekarang Dimas sangat merindukan Arieska. Dimas ingin mengetahui keadaan gadis itu yang sebenarnya.

__ADS_1


Dimas menatap flashdisk yang berada di tangannya setelah kepergiaan Elang dan Mentari, tiba-tiba saja air matanya menyeruak keluar tanpa bisa Dimas bendung.


"Arieska!" gumam Dimas dengan pedih. Ia sangat merindukan Arieska. Tetapi rasa rindu itu sangat menyakitkan untuknya jika benar Arieska pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Dimas memanggil seorang polisi yang berada di sana. "Pak apa boleh saya meminjam laptopnya sebentar?" tanya Dimas dengan penuh harap.


"Untuk apa?" tanya polisi tersebut.


"Sebentar saja Pak. Saya ingin melihat video dari teman saya, saya mohon izinkan saya sebentar saja Pak!" ucap Dimas mengiba.


"Baiklah. Tunggu sebentar!" ucap polisi itu dengan tegas.


Dimas tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Polisi tersebut membawa laptopnya ke arah Dimas. "Terima kasih Pak," ucap Dimas bahagia.


"Sama-sama!"


Dimas memasang flashdisk milik Arieska di laptop, dengan perasaan takut Dimas mulai memutar video tersebut. Hatinya terasa tercubit saat melihat kondisi Arieska di dalam video tersebut.


Hai Dim. Gimana kedaaan lo di sana?


Dimas mem-pouse video tersebut dengan tangan gemetar. "Gue baik, Arieska. Hati gue yang gak baik untuk sekarang," gumam Dimas dengan lirih seperti berbicara langsung kepada Arieska. Lalu jarinya kembali memutar video tersebut.


Gue harap lo akan baik-baik saja ya, gue bahagia banget bisa menyelamatkan lo waktu itu.


"Gue yang gak bahagia melihat kondisi lo sekarang," ucap Dimas dengan lirih. Dimas benar-benar takut melihat kondisi Arieska yang seperti itu. Tubuhnya kurus dengan wajah yang sangat pucat, bahkan napasnya terlihat sangat susah karena Arieska melepas alat bantu pernapasannya hanya untuk berbicara kepadanya. Dimas kembali melanjutkan video Arieska walau air matanya terus tak terbendung.


Lo harus berubah demi Jelita, gue yakin kalau lo bisa berubah lebih baik lagi. Pasti lo bingung kenapa gue buat video ini ya? Hehe gue mau pamit Dim, pergi ke tempat yang jauh. Gue gak akan merepotkan lo lagi atau buat lo kesal karena gue. Kejadian itu pertemuan terakhir kita. Tapi sebelum gue benar-benar pergi, gue mau bilang sampai saat ini gue masih sayang dan cinta sama lo, Dim. Perasaan ini tidak akan pernah hilang sampai kapan pun.


Gue pamit ya, Dim. Jaga diri lo baik-baik.


"Lo gak boleh pergi, Ka! Gue sayang sama lo! Lo harus kuat demi gue! Please lo kuat demi gue Arieska! Setelah gue keluar dari sini gue janji akan memperjuangkan lo," ucap Dimas Dimas dengan takut.


"Jangan memperlihatkan senyuman itu! Gue benar-benar takut kehilangan lo Arieska. Lo kenapa? Jangan buat gue takut!" ucap Dimas saat melihat napas Arieska mulai tersengal-sengal bahkan Dimas melihat dalam video tersebut Arieska mencoba memasang alat bantu pernapasannya dengan tangan gemetar.


"Arieska gue sayang dan cinta sama lo!" gumam Dimas dengan bersamaan video yang Arieska buat sudah habis.

__ADS_1


"Lo gak akan ninggalin gue, kan?"


__ADS_2