
...Hei aku kembali lagi. Jangan lupa like, vote, dan komentar yang banyak biar aku semangat update....
...Happy reading...
****
Nathan menatap istrinya dengan tidak percaya saat istrinya membisikkan sesuatu yang akan ia minta pada Jelita. Saat ini keduanya sudah sedang bersama dengan Jelita, awalnya keduanya hanya makan siang bersama tetapi mereka tidak sengaja bertemu dengan Jelita yang sedang makan siang bersama dengan sekretarisnya.
"Jelita, Bunda mau meminta sesuatu dari kamu boleh?" tanya Gladis dengan penuh harap.
Jelita menunda makannya sebentar lalu menatap ke arah ibu angkatnya dengan ekspresi yang tidak bisa di jabarkan. "Bunda mau apa?" tanya Jelita dengan tersenyum hangat.
"Bun..." Nathan menggelengkan kepalanya karena tidak setuju dengan permintaan Gladis kepada Jelita.
Gladis sama sekali tidak mendengarkan suaminya, ia tetap pada pendiriannya. Entah memgapa ia ingin Jelita menjadi istri dari salah satu anaknya karena ia yakin Jelita adalah gadis yang sangat baik.
"Ayah diam dulu saja," ucap Gladis dengan tersenyum.
Nathan hanya bisa memijat pelipisnya dengan perlahan. Permintaan Gladis sungguh membuat kepalanya pening saat ini.
"Ada apa Ayah?" tanya Jelita dengan penasaran.
Gladis menggenggam tangan Jelita dengan erat membuat Jelita menatap sang bunda dengan penuh penasaran tetapi entah mengapa jantungnya berdetak dengan sangat keras, ia menelan ludahnya dengan susah payah saat Gladis menatap dirinya dengan penuh harap.
"Kamu mau kan menikah dengan Rasyid?!" ucal Gladis dengan penuh harap.
Deg...
Tubuh Jelita mematung mendengar permintaan Gladis yang menurutnya sangat berat sekali untuk ia kabulkan.
__ADS_1
"Jelita. Kamu mau kan, Nak?" tanya Gladis dengan mata yang berkaca-kaca.
Jelita menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Aku gak bisa, Bun!" ucap Jelita dengan lirih. "Maaf!" gumam Jelita dengan pelan.
"Tapi kenapa?" tanya Gladis dengan sendu.
"A-aku gak cinta sama kak Rasyid, Bun!" ucap Jelita dengan tegas.
"Bunda mohon, Nak!" pinta Gladis dengan memohon.
"Tapi Bun...."
"Rasyid sudah punya gadis pilihan Rasyid sendiri, Bun!" ucap Rasyid yang baru saja datang. Rasyid yang tadinya ingin makan siang bersama dengan Gea tak sengaja mendengar permintaan yang cukup berat untuk ia lakukan. Ia tidak mungkin menikah dengan Jelita dan menyakiti Gea.
"A-apa?" tanya Gladis dengan terbata. Air matanya luruh seketika.
"Benar, Bun. Kami tidak saling mencintai!" ucap Jelita dengan dingin.
"T-tapi Bunda...."
"Bun jangan memaksa mereka. Biarkan mereka bahagia dengan pilihan mereka sendiri," tegur Nathan pada akhirnya.
"Maafkan Bunda," gumam Gladis dengan lirih.
Brenda dan Gea yang sejak tadi menjadi pendengar hanya bisa diam. Tetapi perasaan Gea yang terasa sangat sulit sekarang, hatinya benar-benar terluka saat ibu dari pacarnya sendiri meminta Rasyid untuk menikah dengan adik angkatnya walau Gea sudah mengetahuinya dari Rasyid tetapi tetap saja hatinya merasa sakit. Dia hanya anak yatim piatu yang awalnya bekerja sebagai office girl kini sudah diangkat menjadi sekretaris Rasyid apa pantas bersanding dengan Rasyid dari keluarga terpandang? Bahkan, Gea besar di panti asuhan dan bekerja untuk membantu ibu panti. Gea merasa sangat rendah dan tidak pantas berdampingan dengan Rasyid. Gea yang hendak pergi langsung ditahan oleh Rasyid dengan mencekal lengan gadis itu dengan kuat.
"Perkenalkan ini Geana. Calon istri Rasyid, Bun, Yah. Jika kalian tidak setuju Rasyid akan tetap menikah dengan Gea!" ucap Rasyid dengan dingin.
"Mas lepas!" cicit Gea dengan lirih tetapi Rasyid tetap tidak bergeming ia tetap memegang tangan Gea dengan erat.
__ADS_1
Gladis menatap Gea. Ia menjadi merasa bersalah dengan permintaannya tadi, pasti gadis lugu itu merasa terluka hatinya karena permintaannya.
"Maafkan Bunda yang egois. Bunda hanya ingin Jelita kembali di tengah-tengah kita," gumam Gladis dengan lirih.
"Bun..."
"Yah ayo kita pulang!" ucap Gladis dengan pelan. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba berdenyut sakit. Gladis merasa sesak sekali napasnya juga tidak beratur sekarang.
"B-bunda kenapa?" tanya Nathan dengan khawatir.
Gladis menggelengkan kepalanya. "Bunda gak apa-apa," ucap Gladis dengan tersenyum.
"Arghh...."
"BUNDA!" teriak semuanya dengan khawatir
"S-sakit Yah..." ucap Gladis dengan napas yang tersengal-sengal.
Jelita menatap Gladis dengan sangat khawatir. Wajah sang bunda terlihat sangat pucat dengan ketingat dingin yang bercucuran.
"K-kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Nathan dengan begitu cemas. Bayang-bayang Gladis terbaring lemah saat dulu kembali berputar di pikirannya.
Tidak!
Nathan tidak mau itu terjadi kembali, ia tidak ingin kehilangan Gladis. Hampir kehilangan Gladis di masa lalu saja sudah membuatnya hampir gila.
Brukk....
"BUNDA!"
__ADS_1