Cinta Yang Sempurna

Cinta Yang Sempurna
Bab 96~ (Bertahan Atau Berpisah)


__ADS_3

...Hei-hei aku kembali. Jangan lupa ramein ya....


...Happy reading...


****


Bibir Raka keluh. Tubuhnya mematung saat mendengar pengkuan cinta dari Erina kepadanya. Bahkan hatinya ikut merasakan sakit atas keluh kesah Erina saat ini.


"Jawab aku Mas! Kenapa kalian sangat memperhatikan Jelita? Apa istimewanya gadis itu? Hingga Jelita mencuri semua perhatian orang-orang dan mengabaikan aku!" ucap Erina dengan sendu.


"S-saya..."


Erina terkekeh pelan. Matanya berkunang-kunang setelah mengeluarkan isi hatinya selama ini, ia juga merasa kepalanya sangat pusing sekali hingga ia merasa tubuhnya ringan dan...


Brukkkk...


"Erina!" teriak Raka dengan cemas saat melihat Erina pingsan di hadapannya.


Raka berjongkok di hadapan tubuh tak berdaya Erina. Ia langsung menggendong tubuh lemah Erina dengan cepat. Pikirannya masih terbang melayang entah kemana sehingga ia telat menolong Erina.


Sangat terlihat jelas kekhawatiran di wajah Raka saat ini ketika melihat wajah pucat Erina di dalam gendongannya.


"Rendy!" teriak Raka dengan keras membuat Rendy yang saat ini sedang bersantai dengan minimum kopinya langsung tersedak dan mengeluarkan kopi tersebut dari dalam mulutnya. Ia langsung bangun ketika sang tuan muda mendekat ke arahnya.


"Iya Tuan Muda ada apa?" tanya Rendy dengan cepat.


"Ke rumah sakit sekarang!" perintah Raka dengan cepat.


Rendy melihat ke arah Erina yang berapa digendongan Raka. Banyak pertanyaan di benaknya ketika melihat kondisi Erina sekarang.


"Cepat Ren! Kamu tidak melihat istri saya seperti ini!" sentak Raka dengan emosi yang membuat Rendy tersadar dan langsung bergerak cepat.

__ADS_1


"B-baik Tuan Muda!" ucap Rendy dengan cepat.


Raka menatap wajah Erina dengan dalam. Ia dengan cepat memasuki mobil karena ia sungguh takut terjadi sesuatu dengan Erina, rasa cemas, khawatir dan takut menjadi satu di dalam benaknya.


Pucat. Itulah yang Raka lihat sekarang pada bibir merah muda yang selalu menggodanya. "Entah mengapa aku sangat takut kamu seperti ini," gumam Raka dengan lirih saat merebahkan kepala Erina ke dada bidangnya saat ia memasuki mobil dengan Rendy yang menyetir sekarang.


"Cepat Ren!" ucap Raka dengan cemas saat suhu tubuh Erina semakin terasa hangat.


"Iya Tuan Muda!"


****


Raka menunggu dengan cemas saat dokter sedang menangani istrinya di dalam. Ia berulang kali menghela napasnya dengan kasar saat belum sama sekali mendapatkan kabar dari Erina. Ingin sekali Raka masuk ke ruangan UGD sekarang dan melihat keadaan istrinya saat ini tetapi ia tidak ingin membuat keributan yang menghambat dokter menangani sang istri.


Ceklek...


Suara pintu terbuka membuat Raka langsung melihat ke arah pintu di mana dokter ternyata sudah keluar dari ruangan UGD.


"Iya saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Raka dengan cemas.


Rendy yang melihat kecemasan dari raut wajah tuan mudanya hanya bisa tersenyum tipis. "Saya yakin anda sangat mencintai Erina, Tuan!" gumam Rendy di dalam hati.


Sedangkan Raka terlihat bingung ketika dokter menyulurkan tangannya di hadapannya dengan ragu Raka menerima jabatan tangan tersebut. "Selamat Pak sebentar lagi anda akan menjadi papa karena istri anda saat ini sedang hamil," ucap dokter dengan tersenyum membuat Raka mematung dengan hebat.


"A-apa?" tanya Raka dengan linglung membuat sang dokter terkekeh pelan karena ia sudah sering mendapatkan suamu dari pasien yang sama seperti Raka.


"Selamat Pak saat ini istri anda sedang hamil," ucap Dokter tersebut memperjelas ucapannya tadi.


"H-hamil?" gumam Raka dengan lirih bahkan tubuhnya hampir ambruk jika Rendy tidak dengan sigap memegang lengan Raka.


"Iya Pak. Saya permisi dulu. Istri anda akan segera dipindahkan ke ruang perawatan karena keadaannya baik-baik saja, ia hanya kelelahan saja," ucap Dokter tersebut dengan ramah.

__ADS_1


Setelah kepergian dokter yang menangani Erina. Raka menatap Rendy dengan linglung. "Ren apa kamu dengar dokter tadi mengatakan apa?" tanya Raka dengan linglung.


"Iya Tuan Muda saya mendengarnya," jawab Rendy dengan tersenyum geli ketika melihat ekspresi wajah tuan mudanya saat ini.


"Coba katakan sekali lagi Ren! Saya ingin mendengarnya dengan jelas," ucap Raka dengan ekspresi yang sama sekali tidak terbaca dan itu semua membuat Rendy ingin meledakkan tawanya tetapi ia tahan sebisa mungkin.


"Nyonya Muda Erina sedang hamil anak anda Tuan. DARAH DAGING ANDA!" ucap Rendy dengan penuh penekan.


"A-anak Ren. S-saya sebentar lagi akan mempunyai anak?" tanya Raka dengan lirih.


"Iya Tuan Muda. Anda akan menjadi seorang papa," ucap Rendy dengan tegas.


"No, Ren. Daddy, saya akan menjadi daddy, Ren?" ucap Raka dengan terkekeh.


Raka tidak pernah terpikir akan mempunyai anak tetapi sekarang ia akan mempunyai anak dari istri sirihnya dan itu sangat membuatnya bahagia. Dan ia akan mempertahankan Erina, tidak akan pernah berpisah dengan Erina.


Tidak akan pernah sampai kapan pun! Ingat itu!


"Hahaha saya akan menjadi daddy, Ren!"


****


Nathan menatap tajam ke arah Raka saat ini, setelah mendapatkan kabar jika sang anak berada di rumah sakit Nathan dan yang lainnya langsung menyusul ke sini kecuali Rasyad dan Jelita, mereka mungkin sedang bermandikan peluh saat ini.


"Kenapa anak saya bisa bersama kamu? Bukankah Erina berada di rumah?" tanya Nathan dengan tajam.


Raka menatap Nathan tanpa rasa takut sedikit pun. "Saya yang membawanya Yah!" jawab Raka dengan tenang.


"Yah? Maksud kamu?" tanya Nathan dengan dingin.


"Karena Erina istri saya maka anda adalah mertua saya!" jawab Raka dengan tenang.

__ADS_1


"APA!"


__ADS_2